Probolinggo, IDN Times - Penyelengaraan Jazz Gunung Bromo memasuki tahun ke-18, Sabtu (24/7/2026). Selama 18 tahun, Jazz Gunung Bromo konsisten menjaga estetika dan regenerasi musisi.
Pendiri Jazz Gunung, Sigit Pramono mengatakan, sejak didirikan, Jazz Gunung dihadapkan pada dua pilihan yakni mengedepankan nilai ekonomi atau estetika seni. Tetapi Jazz Gunung mantab mengorbankan jumlah penonton agar tetap Indah dinikmati.
"Dari awal ketika kita mendirikan Jazz Gunung ini kita selalu setia, kita tidak akan mengorbankan sisi nilai estetikanya ya, hanya karena godaan nilai ekonomi ya," ujar Sigit saat konferensi pers.
Sigit menjelaskan, skema satu panggung tunggal di alam terbuka dipertahankan agar penonton benar-benar bisa menikmati harmoni musik dan keindahan alam Bromo secara utuh, bukan sekadar mengejar target kuantitas penonton. Dengan begitu, Jazz Gunung Bromo punya ciri khas dan selalu jadi tujuan para penikmatnya.
"Kami ingin betul-betul tamu-tamu kita yang menonton Jazz Gunung ini, betul-betul yang memang akan menikmati musik dan itu dengan suasana alam yang luar biasa di tempat terbuka," ungkap dia.
Untuk menjangkau audiens yang lebih luas tanpa merusak intimitas panggung utama, pihak penyelenggara melakukan inovasi melalui Jazz Gunung Series di berbagai lokasi, seperti Ijen dan Slamet.
"Tapi memang beberapa karena suasana ekonomi kita yang tidak sedang baik-baik saja ya kami juga memberikan prioritas Jazz Gunung tetap akan kita pertahankan, karena ini sudah menjadi ikonnya Bromo, juga sekaligus menjadi andalan kami," ungkapnya.
Sigit menyebut, selama 18 tahun pelaksanaan Jazz Gunung Bromo, tantangan yang dihadapi adalah keterbatasan rotasi musisi. Menjawab hal tersebut, Jazz Gunung meluncurkan program Jazz Camp yang telah berjalan selama tiga tahun.
"Jadi, ini tanggung jawab kami juga untuk terus, agar musisi Jazz di Indonesia ini terus bisa bertambah," ungkap dia.
Sigit menambahkan, Sesuai tagline ikoniknya, "Indahnya Jazz, Merdunya Gunung", festival ini juga memanjakan mata penonton lewat pameran seni rupa. Tahun ini menjadi kali kedua Jazz Gunung bekerja sama dengan Pascasarjana Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta yang diampu oleh Wakil Direktur Pascasarjana ISI Yogyakarta, Dr. Mohamad Fajar Apriyanto.
Tak hanya pameran bagi pengunjung dewasa, Jazz Gunung Bromo juga melibatkan masyarakat lokal melalui kegiatan melukis bersama anak-anak Sekolah Dasar (SD) di kawasan Tengger.
"Kami ingin anak-anak sejak usia dini sudah bisa mengapresiasi karya seni, baik lukisan, foto, maupun patung. Paling tidak, pengalaman ini akan berbekas. Siapa tahu suatu saat lahir seniman besar dari anak-anak Tengger ini,"pungkas Sigit.
