Mahasiswa Rentan Radikalisme, Polisi Undang Mantan Teroris

Yang penting bukan mantan pacar yang diundang

Surabaya, IDN Times - Kegiatan Penyuluhan Kontra Radikal dan Deradikalisasi dilaksanakan di Mapolrestabes Surabaya, Rabu (31/7). Pada kegiatan tersebut, Kepolisian Republik Indonesia berusaha menanamkan pemahaman anti radikalme terhadap para peserta penyuluhan.

 

1. Penyuluhan membahas intoleransi, deradikalisasi, dan terorisme

Mahasiswa Rentan Radikalisme, Polisi Undang Mantan TerorisIDN Times/Arief Rahmat

 

Kegiatan ini mengundang perwakilan dari Densus 88 Mabes Polri, Kantor Wilayah Kementerian Agama Jawa Timur, dan mantan penganut paham radikal sekaligus pengamat terorisme, Nasir Abbas. Masing-masing pembicara memberikan pengertian radikalisme, bahaya radikalisme, dan bagaimana cara mengantisipasinya.

"Ini program dari Mabes Polri tentang pelaksanaan program Quick Wins 4 yang membahas tentang terorisme, radikalisme, dan intoleransi. Seperti yang kita ketahui masyarakat kita ini mudah terpapar hal-hal tersebut," ujad Kasubdit Bintibsos Korbinmas Baharkam Polri Kombes Pol Budi Haryanto.

2. Mahasiswa dianggap rentan terpapar radikalisme

Mahasiswa Rentan Radikalisme, Polisi Undang Mantan TerorisIDN Times/Fitria Madia

 

Dalam penyuluhan ini peserta berasal dari berbagai kalangan. Terlihat ada perwakilan dari organisasi kemasyarakatan, organisasi keagamaan, Bhabinkamtibmas, serta mahasiswa. Budi mengatakan bahwa mahasiswa merupakan salah satu peserta yang utamanya disasar karena amat rentan terpapar paham radikalisme.

"Mahasiswa ini kan sudah maha. Saya berharap mereka dapat mengerti penyampaian pada siang hari ini dan meneruskan kepada teman-temannya dengan teori spiral obat nyamuk, dari lingkungan terdekat hingga terjauh," terangnya.

3. Mantan teroris berbagi pengalamannya

Mahasiswa Rentan Radikalisme, Polisi Undang Mantan TerorisIDN Times/Fitria Madia

 

Selain menjelaskan tentang teori intoleransi, radikalisme, dan terorisme, para pembicara juga berbagi pengalaman mereka saat menghadapi paham-paham tersebut. Salah satunya adalah Nasir Abbas. Di hadapan pada peserta, ia bercerita bagaimana dulu direkrut oleh Jamaah Islamiah hingga kini memutuskan keluar dari dunia radikalisme.

"Saya muslim. Saya senang Islam. Saya memperjuangkan Islam. Kemudian saya memahami indonesia adalah negara kesatuan. Saya pelajari Pancasila dari sila 1 sampai 5. Tidak bertentangan dengan Islam," seru Nasir disambut tepuk tangan peserta.

Baca Juga: Mendagri Sebut Radikalisme dan Terorisme Jadi Ancaman Pemilu 2019

4. Tercetus usulan sertifikasi deradikalisasi Bhabinkamtibmas

Mahasiswa Rentan Radikalisme, Polisi Undang Mantan TerorisIDN Times/Fitria Madia

Pada pertemuan tersebut lahir pula pemikiran-pemikiran baru sebagai upaya menangkal penyebaran paham radikalisme di kalangan akar rumput. Salah satunya yaitu memberikan sertifikasi dan pelatihan terhadap Bhabinkamtibmas agar dapat menjadi penyalur deradikalisasi di masyarakat. Saran ini pun direspon positif dari para narasumber.

"Saya siap buatkan konten narasinya untuk jadi buku pegangan. Nanti akan saya berikan," ujar Nasir. "Kami dari Kemenag juga senang mendengar ini. Nanti setelah ini saya akan ada rapat, akan saya sampaikan usulan tersebut. Tapi ini adalah ide bagus karena bentuk kolaborasi berbagai lembaga dalam menangkal radikalisasi," tutur Kasubag Hukum dan KUB Kemenag Jatim, Moh Ersyad.

Baca Juga: Kerap Dikaitkan dengan Aksi Teroris, Apa Sih Makna dari Radikalisme? 

Topik:

  • Faiz Nashrillah

Berita Terkini Lainnya