Jatim Tutup 2025 dengan Inflasi 2,93 Persen

- Inflasi Jatim tahun 2025 sebesar 2,93 persen, dengan IHK 110,25 pada Desember.
- Kabupaten Sumenep mencatat inflasi tertinggi 3,75 persen, sementara Gresik terendah 2,44 persen.
- Kelompok makanan dan jasa perawatan menjadi penyumbang inflasi terbesar, sementara informasi dan keuangan mengalami deflasi.
Surabaya, IDN Times - Laju inflasi di Jawa Timur (Jatim) sepanjang 2025 tercatat sebesar 2,93 persen secara year on year (y-on-y), sekaligus menjadi inflasi year to date (y-to-d). Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur mencatat Indeks Harga Konsumen (IHK) berada di level 110,25 pada Desember 2025.
Secara bulanan, inflasi Jatim pada Desember 2025 tercatat 0,76 persen (month to month). Kenaikan ini umumnya dipicu oleh meningkatnya permintaan menjelang akhir tahun, terutama pada kebutuhan pangan, transportasi, dan jasa.
Secara regional, Kabupaten Sumenep mencatat inflasi tertinggi di Jatim dengan laju 3,75 persen dan IHK 113,82. Sebaliknya, Kabupaten Gresik menjadi daerah dengan inflasi terendah, yakni 2,44 persen dan IHK 108,32.
Kepala BPS Jawa Timur, Zulkipli, menjelaskan bahwa tekanan inflasi secara tahunan terutama dipicu oleh kenaikan harga di hampir seluruh kelompok pengeluaran. “Secara year on year, inflasi Jawa Timur didorong oleh kenaikan harga pada sebagian besar kelompok pengeluaran,” ujar Zulkipli.
Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang inflasi terbesar dengan kenaikan indeks 4,19 persen, seiring meningkatnya harga berbagai komoditas pangan sepanjang 2025.
Lonjakan paling tajam justru terjadi pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya yang melonjak 15,26 persen. Kenaikan ini mencerminkan meningkatnya permintaan jasa perawatan serta penyesuaian tarif di sektor tersebut.
Tekanan inflasi juga datang dari kelompok kesehatan yang naik 2,08 persen, transportasi sebesar 1,82 persen, serta pendidikan yang meningkat 1,74 persen.
Sementara itu, kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga mengalami inflasi 1,49 persen, diikuti penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 1,18 persen, serta rekreasi, olahraga, dan budaya sebesar 0,96 persen.
Kenaikan yang lebih moderat tercatat pada kelompok pakaian dan alas kaki sebesar 0,63 persen, serta perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 0,30 persen.
Di tengah tekanan tersebut, satu-satunya kelompok yang mencatat penurunan indeks harga adalah informasi, komunikasi, dan jasa keuangan yang mengalami deflasi 0,53 persen. Penurunan ini dipengaruhi oleh kompetisi layanan dan penyesuaian tarif di sektor digital dan keuangan.

















