Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Warga: Banjir Surabaya Lebih Parah dari Musim Hujan, Lama Surutnya

Warga: Banjir Surabaya Lebih Parah dari Musim Hujan, Lama Surutnya
Pemukiman warga di Jalan Nginden Tengah dikepung banjir. (IDN Times/Khusnul Hasana).
Intinya Sih
  • Warga Nginden Jangkungan, Surabaya, mengalami banjir parah di musim kemarau akibat hujan deras selama empat jam yang menyebabkan air setinggi sekitar 30 sentimeter masuk ke rumah.
  • Banjir kali ini lebih lama surut dibanding musim hujan karena minimnya sumur pompa dan belum adanya pengerukan selokan di kawasan padat tersebut.
  • BPBD Surabaya mencatat banjir terjadi di 16 titik kota, sementara petugas dan mobil pemadam kebakaran terus dikerahkan untuk menyedot genangan air hingga siang hari.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Surabaya, IDN Times - Meiga Ridwan (58) tampak sibuk menguras genangan air yang masuk hingga teras rumahnya di Jalan Nginden Intan Tengah, Kelurahan Nginden Jangkungan, Kecamatan Sukolilo, Surabaya, Selasa (23/6/2026). Menurutnya, banjir yang terjadi di tengah musim kemarau kali ini justru lebih parah dibandingkan saat musim hujan, bahkan membutuhkan waktu lebih lama untuk surut.

Pria yang akrab disapa Ega itu mengatakan, kawasan tempat tinggalnya mulai tergenang sejak pukul 04.00 WIB. Banjir terjadi setelah hujan lebat mengguyur wilayah tersebut selama sekitar empat hingga lima jam sejak dini hari.

"Hujan yang kemarin, hari pertama, tidak sampai masuk rumah. Tapi hari ini lebih parah. Hujan yang kedua ini intensitasnya sekitar empat setengah sampai lima jam, sampai masuk ke teras rumah," ujar Ega kepada IDN Times.

Ega mengaku heran karena selama musim hujan, wilayah tempat tinggalnya tidak pernah mengalami banjir separah yang terjadi saat ini. Biasanya, genangan hanya mencapai sekitar tujuh sentimeter dan cepat surut.

"Kalau musim hujan malah tidak pernah banjir seperti ini. Paling sekitar tujuh sentimeter dan cepat surut. Sekarang malah tingginya sekitar 30 sentimeter," katanya.

Menurut Ega, lambatnya surut genangan menjadi persoalan utama. Hingga pukul 12.00 WIB, air masih menggenangi lingkungan tempat tinggalnya.

"Saya lihat di sini tidak ada rumah pompa. Padahal di sebelah timur dan utara ada sungai, tetapi air tetap tidak cepat surut," tuturnya.

Kondisi tersebut turut mengganggu aktivitas sehari-harinya. Ega mengaku enggan menggunakan sepeda motor karena khawatir kendaraannya mogok saat melintasi genangan.

"Jelas mengganggu. Kalau keluar pakai motor tidak bisa karena takut mogok," ujarnya.

Tak hanya dirinya, penghuni rumah kos yang dikelolanya juga terdampak banjir. Sebagian besar penghuni yang merupakan mahasiswa terpaksa berjalan kaki menembus genangan sebelum melanjutkan perjalanan menggunakan transportasi daring.

"Tempat saya ini kos-kosan mahasiswa. Kalau mau berangkat, mereka harus jalan dulu sampai ke seberang jalan raya untuk naik ojek online. Mereka tidak berani membawa motor karena takut mogok," katanya.

Ega berharap Pemerintah Kota Surabaya segera mengambil langkah penanganan untuk mengatasi persoalan banjir yang berulang. Ia menilai penambahan rumah pompa dan pengerukan saluran air menjadi solusi yang perlu segera dilakukan.

"Harapan saya ada penambahan rumah pompa. Selain itu, sejak saya tinggal di sini belum pernah ada pengerukan selokan. Saluran air harus dikeruk karena tanah di sini sudah padat, sehingga setiap hujan air cepat naik," pungkasnya.

Sementara itu, berdasarkan data terbaru BPBD Kota Surabaya, hingga siang hari tercatat terdapat 16 titik banjir yang tersebar di sejumlah wilayah. Lokasi terdampak antara lain Nginden, Semampir, Panjang Jiwo, Medokan Asri, Manyar Rejo, Simo Kalangan, Tanjungsari, Pandugo, dan Barata Jaya.

Hingga pukul 12.30 WIB, petugas masih berjibaku menangani genangan di berbagai lokasi. Sejumlah unit mobil pemadam kebakaran (PMK) dikerahkan untuk membantu menyedot air agar banjir lebih cepat surut.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Zumrotul Abidin
EditorZumrotul Abidin

Latest News Jawa Timur

See More