Ternak Terjangkit PMK di Jatim Sepanjang Januari 2026 Capai 803 Kasus

- 803 kasus PMK pada hewan ternak di Jatim sepanjang Januari 2026
- 75,47% ternak masih sakit, 23,41% sembuh, dan 1% mati
- Kasus PMK menurun drastis dibanding periode yang sama tahun sebelumnya
Surabaya, IDN Times – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur (Jatim) memastikan kondisi Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) pada hewan ternak masih terkendali, meski kasus tetap ditemukan di sejumlah daerah. Berdasarkan data Dinas Peternakan (Disnak) Jatim sepanjang 1–25 Januari 2026 tercatat 803 kasus PMK yang tersebar di 38 kabupaten/kota.
Dari total tersebut, 606 ekor ternak (75,47 persen) masih dalam kondisi sakit, 188 ekor (23,41 persen) dinyatakan sembuh, 8 ekor (1 persen) mati, dan 1 ekor (0,12 persen) dilakukan pemotongan paksa. Data ini menunjukkan tren kasus PMK di Jatim relatif rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pejabat Otoritas Veteriner Dinas Peternakan Jawa Timur, Iswahyudi, mengatakan jumlah kasus PMK pada Januari 2026 jauh menurun dibandingkan Januari–Februari 2025. Pada periode tersebut, rata-rata kasus harian di Jawa Timur sempat mencapai 200 hingga 300 kasus per hari. “Kalau dibandingkan tahun 2025, kondisi sekarang jauh lebih rendah. Tahun 2026 ini, sepanjang Januari kasus harian hanya sekitar 10 sampai 15 kasus,” ujar Iswahyudi kepada IDN Times, Senin (26/1/2026).
Iswahyudi menegaskan, masyarakat tidak perlu panik menyikapi temuan kasus PMK, termasuk temuan 30 ekor sapi terindikasi PMK di Kabupaten Ngawi. Menurutnya, ternak yang telah mendapatkan vaksin memiliki kekebalan yang cukup baik terhadap virus PMK.
“Masyarakat tidak perlu panik. Ternak yang sudah divaksin memiliki kekebalan. Kalau ada petugas vaksinasi dan ternaknya sehat, silakan langsung diminta untuk divaksin,” katanya.
Iswahyudi menambahkan, Pemprov Jatim telah menyiapkan langkah antisipasi sejak akhir 2025. Obat-obatan PMK telah didistribusikan ke daerah pada November–Desember 2025 sebagai bagian dari kesiapsiagaan menghadapi potensi peningkatan kasus di musim hujan.
Selain pengobatan, upaya pencegahan juga dilakukan melalui vaksinasi rutin dua kali dalam setahun. Terakhir, vaksinasi dilaksanakan pada Desember 2025, sembari menunggu pasokan vaksin dari Kementerian Pertanian (Kementan). “Untuk Jawa Timur, kami menerima 1,510 juta dosis vaksin PMK dari Kementan. Minggu keempat Januari ini, vaksin akan kembali kami distribusikan ke kabupaten dan kota,” jelasnya.
Iswahyudi menegaskan, dengan pengobatan, vaksinasi berkelanjutan, serta pengawasan ketat di kandang dan pasar hewan, penyebaran PMK di Jatim masih dapat dikendalikan. “PMK di Jawa Timur masih terkendali. Pengendalian terus kami lakukan agar tidak meluas,” pungkasnya.


















