Surabaya Nambah 6 Sekolah Baru, Siap Dipakai 2027

- Pemkot Surabaya membangun enam sekolah negeri baru, terdiri dari lima SMP dan satu SD, sebagai bagian Program Strategis Daerah untuk pemerataan akses pendidikan.
- Pembangunan dilakukan di lahan milik Pemkot seluas 5.000–6.000 meter persegi dengan fasilitas lengkap seperti ruang kelas, laboratorium, dan toilet di setiap gedung tiga lantai.
- Proyek senilai Rp4–8 miliar per lokasi ditargetkan selesai akhir 2026 agar bisa digunakan awal 2027, dengan pengawasan ketat agar tidak terjadi keterlambatan seperti tahun sebelumnya.
Surabaya, IDN Times - Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya mempercepat pemerataan akses pendidikan dengan membangun enam gedung sekolah negeri baru pada 2026. Proyek yang masuk dalam Program Strategis Daerah (PSD) itu terdiri dari lima gedung SMP Negeri dan satu SD Negeri yang ditargetkan rampung akhir tahun ini dan mulai digunakan pada awal 2027.
Kepala Bidang (Kabid) Sarana dan Prasarana Dinas Pendidikan (Dispendik) Surabaya, Awang Wirawan mengatakan, pembangunan sekolah baru tersebut telah ditetapkan melalui Surat Keputusan (SK) Wali Kota Surabaya sebagai bagian dari upaya memenuhi kebutuhan ruang belajar di sejumlah kawasan yang terus berkembang.
"Tahun 2026 kami membangun enam lembaga baru, terdiri dari lima SMP Negeri dan satu SD Negeri. Lokasinya di Gunung Anyar, Tambak Wedi, Medokan Ayu, Bringin, Waru Gunung, sedangkan SD Negeri berada di Tambak Wedi," ujarnya, Kamis (18/6/2026).
Awang menjelaskan, seluruh sekolah dibangun di atas lahan milik Pemkot Surabaya dengan luas sekitar 5.000 hingga 6.000 meter persegi. Setiap gedung memiliki tiga lantai yang dilengkapi sekitar 10 ruang kelas, ruang guru, ruang kepala sekolah, ruang tata usaha, laboratorium, serta tiga unit toilet.
Nilai proyek berbeda di setiap lokasi. Tiga sekolah di Waru Gunung, Tambak Wedi, dan Medokan Ayu merupakan lanjutan pembangunan tahun sebelumnya sehingga anggaran finishing berkisar Rp4 - Rp5 miliar. Sementara pembangunan sekolah yang benar-benar baru, seperti di Gunung Anyar, Bringin, dan SDN Tambak Wedi, menelan anggaran sekitar Rp8 miliar per lokasi.
"Seluruh bangunan ditargetkan selesai tahun ini. Harapannya awal Desember sudah finishing sehingga awal tahun 2027 sudah bisa dioperasikan," katanya.
Dispendik juga berupaya menghindari keterlambatan proyek seperti yang terjadi pada 2025. Saat itu, proses lelang yang mundur membuat sejumlah proyek hanya mampu menyelesaikan pekerjaan struktur bangunan tanpa tahap akhir.
"Tahun ini kami kawal ketat seluruh prosesnya. Kontrak sudah dimulai sejak Mei, sehingga waktu pengerjaan lebih longgar dibanding tahun lalu," jelas Awang.
Meski terdapat tantangan berupa kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dan fluktuasi nilai tukar dolar yang berpotensi memengaruhi harga material, Dispendik optimistis seluruh proyek dapat diselesaikan sesuai jadwal. "Kami berharap kenaikan BBM maupun dolar tidak berdampak signifikan terhadap pelaksanaan proyek sehingga seluruh sekolah baru bisa selesai tepat waktu," pungkasnya.
















