Efek Harga Gabah Tinggi, Petani Magetan Ramai-Ramai Kembali Tanam Padi

- Harga gabah kering giling di Magetan naik hingga hampir Rp9.000 per kilogram, membuat petani kembali semangat menanam padi karena keuntungan dinilai lebih besar meski biaya produksi meningkat.
- Hasil panen musim tanam kedua dinilai memuaskan dengan serangan hama yang minim, sehingga produktivitas meningkat dan biaya tambahan pengairan masih tertutupi oleh harga jual gabah yang tinggi.
- Banyak petani mengubah rencana dari menanam palawija menjadi padi pada musim tanam ketiga, terutama mereka yang memiliki akses air cukup, sambil berharap pemerintah menekan biaya produksi pertanian.
Magetan, IDN Times – Harga gabah yang terus merangkak naik pada musim panen kedua tahun 2026 membawa dampak besar bagi petani di Kabupaten Magetan. Jika sebelumnya banyak petani berencana menanam jagung atau palawija saat musim tanam ketiga, kini mereka justru berbondong-bondong kembali memilih padi.
Harga Gabah Kering Giling (GKG) yang mencapai Rp8.600 hingga nyaris Rp9.000 per kilogram dinilai masih mampu memberikan keuntungan lebih besar meski biaya produksi dan pengairan meningkat selama musim kemarau. Berikut tiga alasan mengapa petani Magetan ramai-ramai kembali menanam padi:
1. Harga gabah sedang tinggi, keuntungan lebih menjanjikan

Kenaikan harga gabah menjadi faktor utama yang membuat petani kembali melirik padi. Saat ini gabah basah dihargai Rp7.200 hingga Rp7.500 per kilogram, sedangkan gabah kering giling mendekati Rp9.000 per kilogram. Kondisi tersebut membuat petani mampu menutup biaya produksi sekaligus memperoleh keuntungan yang lebih baik dibanding musim sebelumnya.
“Alhamdulillah musim ini harga gabah cukup tinggi. Kami petani jadi semangat bertanam padi tahun ini,” ujar Sularso, petani asal Desa Pragak, Kamis (18/6/2026).
2. Hasil panen lebih baik dan minim serangan hama

Selain harga yang menguntungkan, hasil panen musim tanam kedua tahun ini juga dinilai cukup memuaskan. Petani mengaku serangan hama lebih rendah dibanding musim penghujan sehingga produktivitas padi meningkat.
Meski harus mengeluarkan biaya tambahan untuk kebutuhan air selama musim kemarau, keuntungan yang diperoleh masih lebih besar karena didukung harga gabah yang tinggi. “Hasil panennya bagus, hama juga minim. Jadi biaya tambahan untuk beli air masih tertutupi,” kata Sularso.
3. Padi dinilai lebih menguntungkan dibanding palawija

Tingginya harga gabah membuat banyak petani mengubah rencana pola tanam. Jika biasanya musim tanam ketiga digunakan untuk menanam jagung atau palawija lainya, kini sebagian petani memilih kembali menanam padi.
Pantauan di sejumlah lahan pertanian menunjukkan sekitar 30 persen petani mulai menyiapkan sawah untuk musim tanam padi berikutnya. Terutama petani yang memiliki sumur pompa atau akses pengairan yang memadai. “Kami pilih tanam padi lagi meski biaya lebih mahal karena harus beli air. Yang punya sumur pompa hampir pasti kembali tanam padi,” ungkap Sunarto, petani asal Desa Tapen, Kecamatan Lembeyan.
Para petani berharap pemerintah turut mengendalikan biaya produksi, terutama harga BBM non-subsidi yang berpengaruh terhadap ongkos pengolahan lahan, transportasi hasil panen, hingga harga pupuk dan pestisida. Dengan begitu, keuntungan dari tingginya harga gabah dapat benar-benar dirasakan oleh petani.
















