Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

SPBU yang Kritis BBM di Jatim di Bawah 10 Persen

Kota Surabaya
3 min read
SPBU yang Kritis BBM di Jatim di Bawah 10 Persen
Ilustrasi aktivitas pengendara sepeda motor di sebuah SPBU. (unsplash.com/Reyhan Aviseno)
  • SPBU berstatus kritis di Jawa Timur masih jauh di bawah 10 persen dari 772 penyalur Biosolar dan lebih dari 900 penyalur Pertalite.

  • Pertamina memantau stok dan konsumsi SPBU setiap 15 menit, lalu memprioritaskan pengiriman ke lokasi yang diperkirakan kehabisan BBM sebelum truk tiba.

  • Untuk mempercepat pemulihan, Pertamina mengerahkan lebih dari 200 truk, menambah 20 armada, serta memperpanjang pengisian terminal hingga 24 jam.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Surabaya, IDN Times - Sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Jawa Timur (Jatim) masih berstatus kritis akibat stok bahan bakar minyak (BBM) diperkirakan habis sebelum pasokan berikutnya tiba. Meski demikian, jumlah SPBU dalam kategori tersebut disebut masih jauh di bawah 10 persen dari total SPBU penyalur Biosolar dan Pertalite di Jatim.

Wakil Gubernur Jatim, Emil Elestianto Dardak mengatakan, kondisi SPBU dipantau secara digital setiap 15 menit oleh Pertamina. Pemantauan ini digunakan untuk menentukan SPBU yang perlu segera mendapat pasokan, terutama ketika stoknya diperkirakan habis sebelum truk pengangkut tiba.

“Dari total 772 yang menyalurkan Biosolar maupun yang menyalurkan Pertalite lebih dari 900, itu tidak lebih dari 10 persen, bahkan jauh di bawah 10 persen sebenarnya yang kondisinya kritis,” ujar Emil.

Emil menjelaskan, Pertamina membagi status SPBU menjadi tiga kategori, yakni aman, waspada, dan kritis. Penentuan status tersebut didasarkan pada jumlah stok yang tersisa, tingkat konsumsi, serta perkiraan waktu pengiriman dari terminal.

SPBU masuk kategori kritis apabila persediaan BBM diperkirakan habis sebelum truk pengangkut tiba. Sebagai contoh, jika perjalanan menuju SPBU membutuhkan waktu dua jam, tetapi stok diperkirakan habis dalam satu jam, SPBU tersebut akan menjadi prioritas pengiriman.

“Yang kondisi kritis itu didahulukan untuk segera diisi,” jelasnya.

Menurut Emil, sistem pemantauan menggabungkan data stok dan konsumsi SPBU yang diperbarui setiap 15 menit. Dengan begitu, Pertamina dapat memperkirakan berapa lama persediaan akan bertahan dan mengatur prioritas distribusi berdasarkan kondisi terkini.

Sejumlah laporan kekosongan BBM sempat muncul di Malang Raya, Bondowoso, dan Banyuwangi. Namun, Emil meminta masyarakat tidak menyimpulkan bahwa seluruh wilayah Jawa Timur mengalami kelangkaan BBM hanya berdasarkan kondisi di beberapa SPBU.

“Jangan langsung digeneralisir bahwa di seluruh wilayah terjadi kelangkaan. Bisa jadi hanya satu atau dua SPBU yang mengalami kondisi tersebut karena ritme pembelian dan waktu pengiriman tidak bertemu,” katanya.

Untuk mempercepat pemulihan stok, Pertamina mengerahkan lebih dari 200 truk pengangkut BBM dan menambah sekitar 20 armada melalui skema spot charter. Jam operasional pengisian truk di terminal juga diperpanjang dari sekitar 12 jam menjadi 24 jam sehari.

Sementara itu, stok Biosolar di tangki penyimpanan per 19 Oktober 2026 mencapai 60.000 kiloliter, setara kebutuhan selama enam hari. Jumlah tersebut ditargetkan meningkat menjadi 80.000 kiloliter pada 20 Oktober atau setara kebutuhan delapan hari.

Emil menegaskan, penambahan stok di terminal harus diikuti percepatan distribusi ke SPBU agar kondisi pasokan di lapangan kembali normal. Menurutnya, tren distribusi mulai membaik, tetapi pemantauan dan pengiriman terus dilakukan untuk mengantisipasi konsumsi yang masih tinggi.

    Share Article
    Editorial Team

    Related Articles

    See More