Jatim Diprediksi Hujan, Tapi El Niño Masih Ngeri

BMKG memprakirakan hujan ringan di Jawa Timur pada 20–25 Oktober 2026, setelah potensi cuaca berkabut atau berasap pada 19 Oktober.
El Niño sangat kuat, dengan indeks ENSO +2,76, masih berpotensi mengurangi pembentukan awan hujan dan mempertahankan risiko kekeringan serta karhutla.
BMKG mengimbau warga menghindari pembakaran, menjaga area kering dari puntung rokok, menghemat air, dan mewaspadai angin timur–tenggara yang dapat mempercepat penyebaran api.
Surabaya, IDN Times - Memasuki akhir Oktober 2026, hujan ringan diprediksi turun hampir setiap hari sepanjang pekan ini. Namun, ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih perlu diwaspadai. Pasalnya, El Niño masih berada pada kategori sangat kuat dan berpotensi mengurangi pembentukan awan hujan di wilayah Indonesia, termasuk Jawa Timur (Jatim).
Prakirawan BMKG Kelas I Juanda, Rendy Irawadi mengingatkan, masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi karhutla selama sepekan ke depan. Apalagi, wilayah Jatim masih berada dalam periode musim kemarau, sementara angin di wilayah ini didominasi arah timur hingga tenggara.
“Intensitas El Niño masih sangat kuat di pertengahan bulan Oktober ini yang masih musim kemarau. Mari tingkatkan kewaspadaan potensi karhutla dalam sepekan ke depan,” ujarnya kepada IDN Times, Senin (19/1/2026).
BMKG mencatat indeks ENSO di wilayah Nino 3.4 berada pada angka +2,76. Nilai tersebut mengindikasikan El Niño sangat kuat. Kondisi ini dapat mengurangi pembentukan awan hujan di Indonesia sehingga potensi hujan tidak serta-merta mengakhiri ancaman kekeringan.
Berdasarkan prospek cuaca mingguan BMKG untuk periode 19–25 Oktober 2026, cuaca berkabut atau berasap diprakirakan terjadi pada Senin (19/10/2026). Sementara itu, hujan ringan berpotensi terjadi pada Selasa (20/10/2026) hingga Minggu (25/10/2026).
Meski ada potensi hujan ringan, masyarakat tetap perlu waspada. Hujan dengan intensitas ringan tidak otomatis menghilangkan risiko kebakaran, terutama ketika kondisi lahan dan vegetasi masih kering. Angin juga dapat membantu mempercepat penyebaran api apabila terjadi kebakaran.
“Kami mengimbau kepada masyarakat agar menghindari aktivitas pembakaran, terutama saat angin berembus kencang,” tegas Rendy.
Selain El Niño, BMKG mencatat indeks Indian Ocean Dipole (IOD) berada pada angka +0,88 atau dalam fase positif. Kondisi atmosfer lainnya juga belum menunjukkan dukungan signifikan terhadap peningkatan pembentukan awan hujan di Jawa Timur.
Madden-Julian Oscillation (MJO), misalnya, diprakirakan berada pada fase 1 di Samudra Hindia dan kurang berkontribusi terhadap pembentukan awan hujan di wilayah ini.
Analisis angin pada 18 Oktober 2026 pukul 19.00 WIB menunjukkan angin lapisan 3.000 kaki di Jatik didominasi arah timur hingga tenggara, dengan kecepatan maksimum sekitar 25 knot. Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam meningkatkan kewaspadaan terhadap penyebaran api.
Di tengah kondisi ini, BMKG mengingatkan masyarakat untuk tidak membakar sampah sembarangan, tidak membuang puntung rokok di area kering, serta menghindari aktivitas yang berisiko memicu kebakaran. Warga juga disarankan menghemat penggunaan air bersih, menjaga asupan cairan, dan menggunakan pelindung kulit saat beraktivitas di luar ruangan.


















