BBM Jatim Diklaim Menumpuk, Kok SPBU Masih Antre dan Kosong?

Meski stok BBM Jawa Timur diklaim aman, pemantauan menemukan antrean kendaraan dan kekosongan pada jam tertentu di sejumlah SPBU.
Pemerintah Jatim dan Pertamina mendorong kelancaran distribusi ke SPBU, termasuk percepatan pasokan bagi titik yang mengalami kekosongan.
Pertamina mengoperasikan terminal 24 jam, menambah 21 armada berkapasitas 860 KL, serta mengoptimalkan pasokan antarterminal dan jalur pengiriman.
Surabaya, IDN Times - Stok Bahan Bakar Miinyak (BBM) di Jawa Timur (Jatim) diklaim aman, tetapi antrean kendaraan dan kekosongan BBM pada jam-jam tertentu masih terjadi di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU). Persoalan tersebut mengemuka dalam rapat pengendalian dan pemantauan kelancaran penyaluran BBM dan LPG di Gedung Negara Grahadi, Surabaya.
Wakil Gubernur Jatim, Emil Elestianto Dardak mengungkapkan, hasil pemantauan menemukan kecenderungan antrean dan kekosongan stok di SPBU tertentu pada waktu-waktu tertentu. Kondisi itu menunjukkan bahwa ketersediaan BBM secara keseluruhan belum otomatis menjamin kelancaran pasokan di setiap titik penjualan.
“Kita mencoba deteksi dini di beberapa titik. Memang ada kecenderungan antrean dan juga ada kecenderungan di SPBU tertentu stoknya tidak ada pada jam tertentu,” ujarnya.
Emil bilang, perhatian pemerintah bukan hanya memastikan stok tersedia di terminal, tetapi juga memastikan BBM benar-benar sampai ke SPBU yang membutuhkan. Koordinasi dengan Pertamina terus dilakukan agar gangguan distribusi dapat segera ditangani.
“Yang kita pastikan adalah distribusi ke SPBU terus kita dorong agar berjalan lancar. Ketika ada SPBU yang mengalami kekosongan pada jam tertentu, pasokan harus segera diupayakan agar kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi,” terangnya.
Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus mengklaim telah menyiapkan langkah percepatan distribusi sejak minggu pertama Oktober. Terminal yang biasanya beroperasi selama 12 jam kini ditingkatkan menjadi 24 jam.
Selain itu, Pertamina menambah 21 unit armada angkutan dengan kapasitas gabungan sekitar 860 kiloliter (KL). Armada tambahan tersebut ditujukan untuk mempercepat pengiriman, terutama menuju lokasi yang sulit dijangkau.
Jaringan distribusi juga dioptimalkan melalui sejumlah terminal di Jatim, yakni Tuban, Madiun, Camplong, Tanjungwangi, Malang, dan Surabaya. Pasokan turut didukung terminal di Boyolali dan Semarang, Jawa Tengah (Jateng).
Untuk mempercepat penanganan di lapangan, Pertamina juga mengalihkan pasokan langsung ke SPBU yang membutuhkan. Dari Fuel Terminal Tuban, misalnya, BBM dikirim ke delapan SPBU dengan volume sekitar 150 KL. Sementara dari Fuel Terminal Madiun, pasokan dialihkan ke 26 SPBU dengan volume sekitar 350 KL.
Jalur pengiriman pun dibuat lebih fleksibel. Pasokan dari sejumlah terminal dapat dikirim melalui jalur darat maupun laut. Untuk rute tertentu, distribusi juga bisa memanfaatkan pipa dan kereta api.
Di tengah persoalan distribusi, data Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus per 16 Oktober 2026 menunjukkan stok Pertalite di Jatim sekitar 35 ribu KL, Pertamax sekitar 10 ribu KL, dan Biosolar sekitar 35 ribu KL.
Adapun proyeksi stok selama periode 16–31 Oktober tercatat pada kisaran 145–150 ribu KL untuk Pertalite, 110–115 ribu KL untuk Pertamax, serta 140–160 ribu KL untuk Biosolar.
Pjs EGM Regional Jatimbalinus, Melissa Yolanda menegaskan klaimnya bahwa stok BBM di Jatim dalam kondisi aman. Ia menyebut situasi global sempat memengaruhi kelancaran penyaluran, tetapi Pertamina terus berupaya memulihkan distribusi.
“Stok BBM kami pastikan aman. Hari ini dan besok, insyaallah, ada tiga kapal yang siap bongkar sehingga stok akan meningkat,” kata Melissa
Pasokan dari Jateng juga dimanfaatkan untuk membantu memenuhi kebutuhan di Jatim. Pertamina menyatakan penyaluran akan diprioritaskan ke SPBU yang mengalami kendala agar kekosongan tidak berlarut-larut.
Sebagai gambaran besarnya kebutuhan, rata-rata penyaluran Pertalite di Jatim sepanjang 2026 mencapai 10.953 KL per hari. Sementara rata-rata distribusi Solar atau Biosolar mencapai 7.317 KL per hari.
“Penyaluran akan kami prioritaskan kepada masyarakat, terutama SPBU yang membutuhkan,” pungkasnya.




















