Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

CMC Tiga Warna Malang Didorong Masuk Bursa Karbon Berbasis Komunitas

Kota Surabaya
3 min read
CMC Tiga Warna Malang Didorong Masuk Bursa Karbon Berbasis Komunitas
Anggota DPR RI, Andreas saat berada di CMC Tiga Warna. (Dok. PDIP)
  • Anggota DPR RI Andreas Eddy Susetyo mendorong CMC Pantai Tiga Warna Malang menjadi kawasan ekonomi hijau berbasis warga melalui konservasi, ekowisata, dan budidaya perikanan organik.

  • CMC Tiga Warna ditargetkan menjadi pelopor perdagangan karbon berbasis komunitas, agar warga penjaga mangrove, hutan, dan pesisir memperoleh manfaat ekonomi dari konservasi.

  • Masuk bursa karbon memerlukan pengukuran, verifikasi, dan sertifikasi berstandar internasional; jika berhasil, model CMC diharapkan direplikasi di berbagai wilayah Indonesia.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Malang, IDN Times – Anggota DPR RI Andreas Eddy Susetyo mendorong Clungup Mangrove Conservation (CMC) Pantai Tiga Warna jadi kawasan pengembangan ekonomi hijau berbasis masyarakat melalui integrasi konservasi lingkungan, ekowisata, dan budidaya perikanan organik. Gagasan tersebut disampaikan Andreas saat mengunjungi kawasan CMC Tiga Warna, Malang Selatan, Sabtu (17/10/2026).

Salah satu targetnya adalah menjadikan CMC Tiga Warna sebagai model perintis kawasan konservasi berbasis komunitas yang dapat masuk ke bursa karbon.

Menurut dia, upaya pelestarian lingkungan harus berjalan beriringan dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat agar memberikan manfaat ekonomi yang berkelanjutan. Potensi ekowisata di kawasan konservasi dapat dikembangkan bersama budidaya perikanan dengan pendekatan teknologi dan sistem produksi yang lebih ramah lingkungan. Integrasi tersebut diharapkan menciptakan paradigma baru dalam pembangunan ekonomi yang tidak mengorbankan kelestarian alam.

“Ini nanti kita integrasikan di dalam kawasan yang sangat mendukung karena di sini konservasinya sudah berjalan dengan baik. Jadi, ini menjadi suatu paradigma baru untuk membangun ekonomi,” ujarnya.

Ia menegaskan, konservasi tidak boleh berhenti pada kegiatan menanam pohon atau memulihkan lahan yang rusak. Masyarakat yang terlibat dalam penanaman, pemeliharaan, hingga perlindungan kawasan juga harus mendapatkan manfaat ekonomi dari upaya yang mereka lakukan.

Misalnya, lahan yang sebelumnya gundul dapat dipulihkan melalui keterlibatan warga secara langsung. Menurut dia, keberhasilan tersebut menunjukkan bahwa gerakan pelestarian lingkungan dapat tumbuh dari inisiatif masyarakat dan berkembang menjadi kekuatan bersama.

Ia juga menyoroti peran komunitas dan generasi muda dalam memperluas gerakan penghijauan. Keterlibatan anak-anak muda, keluarga, hingga lingkungan sekitar dinilai menjadi modal penting untuk membangun kesadaran kolektif terhadap pelestarian alam.

Dalam konteks tersebut, Andreas menilai gerakan konservasi perlu didukung kebijakan yang memberikan penghargaan sekaligus manfaat ekonomi kepada masyarakat yang benar-benar menanam dan merawat lingkungan.

“Tidak hanya perdagangan itu bisa dilakukan oleh korporasi, tetapi juga oleh komunitas. Intinya, mereka yang melakukan konservasi dan perawatan itu bisa mendapatkan manfaat ekonominya,” tegasnya.

Menurut Andreas, akses terhadap manfaat ekonomi dari perdagangan karbon perlu dibuka lebih luas agar tidak hanya dinikmati perusahaan besar. Komunitas yang selama ini menjaga hutan, mangrove, dan ekosistem pesisir juga harus memiliki kesempatan untuk memperoleh nilai ekonomi dari kontribusi mereka dalam menjaga lingkungan.

Ia menyebut pengembangan model konservasi berbasis komunitas tersebut masih menjadi langkah awal. Ke depan, gerakan serupa diharapkan dapat diperluas ke berbagai wilayah, mulai dari Surabaya dan Gresik hingga daerah lain di Indonesia, termasuk Nusa Tenggara Timur dan Papua.

Andreas mengakui, mewujudkan kawasan konservasi berbasis komunitas agar dapat masuk ke bursa karbon bukan pekerjaan mudah. Proses tersebut membutuhkan pengukuran, verifikasi, serta sertifikasi yang memenuhi standar yang berlaku secara internasional.

Meski demikian, ia berharap CMC Tiga Warna dapat menjadi salah satu pelopor model perdagangan karbon berbasis komunitas di Indonesia. Jika berhasil, pendekatan tersebut dapat direplikasi di kawasan lain yang memiliki potensi konservasi serupa.

“Targetnya tentu kita akan lihat. Mudah-mudahan CMC ini bisa menjadi yang pertama di bursa karbon yang berbasis komunitas. Kalau ini sudah bisa terwujud, maka akan dijadikan model atau direplikasi untuk yang lainnya,” katanya.

Lebih lanjut, Andreas menegaskan bahwa pelestarian lingkungan harus menjadi komitmen bersama seluruh kekuatan politik, bukan hanya satu partai. Ia mengaitkan agenda tersebut dengan semangat merawat pertiwi, sekaligus tanggung jawab menjaga bumi bagi generasi selanjutnya.

    Share Article
    Editorial Team

    Related Articles

    See More