Rukyatul Hilal 1 Ramadan Digelar Hari Ini, Ada 21 Lokasi di Jatim

- Rukyatul Hilal 1 Ramadan digelar di 21 lokasi di Jatim
- Pengamatan dilakukan saat matahari terbenam hingga beberapa saat setelahnya
- Lokasi pengamatan dipilih secara selektif dengan mempertimbangkan keterbukaan ufuk barat, minim polusi cahaya, kondisi atmosfer, serta aspek keamanan dan aksesibilitas
Surabaya, IDN Times - Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Agama (Kemenag) Jawa Timur (Jatim) menggelar rukyatul hilal penentuan awal Ramadan 1447 Hijriah di 21 titik lokasi, Selasa (17/2/2026), bertepatan dengan 29 Sya’ban 1447 H. Pengamatan dilakukan saat matahari terbenam hingga beberapa saat setelahnya.
Pelaksanaan rukyat menjadi titik krusial dalam proses penetapan awal Ramadan, karena hasil pengamatan dari daerah akan dilaporkan secara berjenjang sebagai bahan pertimbangan dalam Sidang Isbat di tingkat pusat.
Berdasarkan data Tim Kemasjidan dan Hisab Rukyat Bidang Urusan Agama Islam Kanwil Kemenag Jatim, lokasi pengamatan tersebar di 21 kabupaten/kota, antara lain Kota Blitar, Kabupaten Pacitan, Banyuwangi, Probolinggo, Tuban, Madiun, Jombang, Gresik, Lumajang, Blitar, Jember, Trenggalek, Sampang, Ngawi, Pasuruan, Malang, Bondowoso, Mojokerto, Sumenep, Lamongan, dan Ponorogo.
Kepala Bidang (Kabid) Urusan Agama Islam Kanwil Kemenag Jatim, Munir, menegaskan rukyatul hilal merupakan bentuk pelayanan keagamaan negara yang mengedepankan pendekatan ilmiah dan syar’i.
“Pelaksanaan rukyatul hilal ini adalah bentuk ikhtiar ilmiah dan syar’i dalam menentukan awal Ramadan. Kami memastikan prosesnya dilakukan secara profesional, melibatkan para ahli falak dan unsur terkait, serta mengacu pada kriteria yang telah disepakati,” ujar Munir.
Lokasi pengamatan dipilih secara selektif dengan mempertimbangkan keterbukaan ufuk barat, minim polusi cahaya, kondisi atmosfer, serta aspek keamanan dan aksesibilitas.
Dalam pelaksanaannya, rukyat melibatkan unsur Kementerian Agama, hakim Pengadilan Agama, organisasi kemasyarakatan Islam, BMKG, akademisi, pondok pesantren, serta tokoh agama dan masyarakat. Sinergi lintas sektor ini dimaksudkan untuk memastikan hasil pengamatan objektif dan akuntabel.
Penentuan awal Ramadan mengacu pada kriteria imkanur rukyat Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS), yakni tinggi hilal minimal 3 derajat dan elongasi minimal 6,4 derajat saat matahari terbenam. Elongasi atau jarak sudut antara bulan dan matahari menjadi faktor penting dalam menentukan visibilitas hilal.
Munir mengakui tantangan di lapangan kerap muncul, seperti keterbatasan lokasi representatif dan kondisi cuaca yang tidak mendukung, termasuk awan tebal atau mendung saat waktu pengamatan.
“Meski demikian, kami tetap optimistis dan berkomitmen melaksanakan rukyat secara transparan dan akuntabel. Hasilnya akan dilaporkan sebagai bagian dari bahan pertimbangan Sidang Isbat di tingkat pusat,” pungkasnya.


















