Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Dampak Perang: Harga Lampu Naik 15 Persen, Tapi Penjualan Tumbuh

Dampak Perang: Harga Lampu Naik 15 Persen, Tapi Penjualan Tumbuh
Pembukaan Philips Lighting Store di Jalan Kertajaya, Surabaya. IDN Times/Ardiansyah Fajar.
Intinya Sih
  • Philips menaikkan harga lampu 10–15 persen akibat lonjakan biaya bahan baku global seperti semikonduktor dan plastik.
  • Meski pasar properti melambat, penjualan Signify tetap tumbuh berkat pasar penggantian lampu dan peluncuran produk baru.
  • Surabaya menjadi pasar strategis kedua terbesar setelah Jakarta, ditandai dengan pembukaan Philips Lighting Store pertama di Indonesia.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Surabaya, IDN Times - Produsen lampu Philips, resmi melakukan penyesuaian harga produk di Indonesia menyusul melonjaknya harga bahan baku akibat gejolak ekonomi global. Kenaikan harga bervariasi di setiap produk dengan kisaran 10 hingga 15 persen.

CEO Consumer Business Regional Asia, Africa, Pacific, Middle East & Latin America Signify, Chandra Vaidyanathan, mengatakan kenaikan harga tidak hanya dipicu oleh meningkatnya harga semikonduktor, tetapi juga bahan baku lain seperti plastik.

"Bukan cuma semiconductor chips yang naik. Plastiknya juga naik. Philips ada penyesuaian harga," ujar Chandra usai pembukaan Philips Lighting Store Surabaya, Rabu (22/7/2026).

Sementara President Director Signify Indonesia, Dedy Bagus Pramono, menambahkan besaran penyesuaian harga berbeda pada setiap lini produk. "Kenaikannya bervariasi masing-masing produk. Ada di kisaran 10 sampai 15 persen," katanya.

Meski industri properti nasional mengalami perlambatan pada semester pertama 2026, Signify mengaku masih mampu mencatatkan pertumbuhan penjualan.

Menurut Dedy, permintaan lampu tidak sepenuhnya bergantung pada pembangunan properti baru. Penjualan juga ditopang oleh pasar penggantian lampu (replacement market) serta peluncuran berbagai produk baru yang menyasar segmen konsumen berbeda.

"Kalau bicara demand, memang pertumbuhan properti berpengaruh terhadap pemasangan lampu baru. Tapi kami tidak hanya bermain di lampu baru, juga penggantian lampu. Kami mengenalkan banyak produk baru untuk konsumen yang berbeda. Semester pertama kami tetap tumbuh, meski masih single digit," katanya.

Dedy menyebut Jatim, khususnya Surabaya, menjadi pasar strategis bagi bisnis Philips di Indonesia. Kontribusi wilayah Surabaya dan Jawa Timur mencapai 20 hingga 25 persen dari total bisnis nasional, terbesar kedua setelah Jakarta dan sekitarnya.

"Surabaya sangat penting buat kami. Ini kota terbesar kedua di Indonesia. Bisnis kami di Surabaya dan Jawa Timur merupakan yang terbesar kedua setelah Jakarta dan sekitarnya," ungkapnya.

Posisi tersebut menjadi salah satu alasan Signify membuka Philips Lighting Store di Jalan Kertajaya, Surabaya. Gerai resmi pertama di Indonesia itu mengusung konsep experience store yang memungkinkan konsumen tidak hanya membeli lampu, tetapi juga berkonsultasi mengenai konsep pencahayaan sesuai karakter setiap ruangan.

Melalui gerai tersebut, Signify menghadirkan sekitar 200 produk (SKU) baru, termasuk lini decorative lighting dan smart lighting, yang tidak tersedia di toko lampu konvensional. Konsumen juga dapat memperoleh pendampingan mulai dari pemilihan produk hingga konsultasi instalasi pencahayaan.

Menurut Dedy, konsep tersebut menjadi strategi perusahaan untuk memperluas pasar sekaligus meningkatkan pengalaman berbelanja konsumen di tengah perubahan tren kebutuhan pencahayaan rumah.

Share Article
Editorial Team

Latest News Jawa Timur

See More