Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Patahan Surabaya Viral, Pakar Ungkap Fakta Sebenarnya

Kota Surabaya
Patahan Surabaya Viral, Pakar Ungkap Fakta Sebenarnya
Pakar Geologi ITS Dr Ir Amien Widodo MSi mengimbau masyarakat untuk tidak perlu khawatir dan lebih kritis dalam menyikapi informasi kebencanaan yang beredar di media sosial. Dok. Humas ITS..
  • Video viral mengklaim ada patahan aktif baru di Surabaya, tetapi pakar ITS menegaskan keberadaan patahan tidak otomatis membuktikan aktivitas gempa.
  • Riset ITS dan Pusat Survei Geologi menemukan Patahan Surabaya serta Waru; jalur Surabaya-Sidoarjo-Bangkalan ada, namun belum terverifikasi sebagai patahan aktif.
  • Pakar meminta informasi kebencanaan mengacu kajian kredibel, sambil mendorong pemantauan tanah, peta rawan gempa, dan standar bangunan tahan gempa.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Surabaya, IDN Times - Kabar tentang keberadaan patahan yang melintasi Kota Surabaya mendadak bikin geger media sosial. Video yang mengklaim Surabaya memiliki “patahan aktif baru” bahkan telah ditonton ratusan ribu kali.

Namun, masyarakat diminta tidak buru-buru panik. Pakar geologi sekaligus dosen luar biasa Departemen Teknik Geofisika Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Dr Ir Amien Widodo menegaskan, keberadaan patahan tidak otomatis berarti patahan tersebut aktif dan siap memicu gempa.

Isu itu mencuat setelah sebuah akun Instagram mengunggah video mengenai patahan yang disebut melintasi Surabaya. Dalam tujuh hari, video tersebut telah ditonton sekitar 476 ribu kali, mendapat 15,1 ribu tanda suka dan lebih dari 1.000 komentar.

“Sudah tahukah kalian, Surabaya memiliki patahan aktif baru? Ini daerah yang dilintasinya,” tulis akun tersebut dalam keterangan videonya.

Narasi mengenai “patahan aktif baru” itulah yang kemudian menjadi perhatian. Sebab, menurut Amien, keberadaan struktur patahan di kawasan Surabaya memang bukan informasi baru dan telah menjadi objek penelitian ilmiah.

ITS bersama Pusat Survei Geologi, Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) RI, sebelumnya telah melakukan penelitian mengenai peta patahan di Jatim yang dipublikasikan pada 2024. “Hasil penelitian tersebut menunjukkan terdapat dua patahan yaitu patahan Surabaya dan patahan Waru,” ungkap Amien.

Dua struktur patahan tersebut disebut memiliki potensi aktif dan pernah mengalami pergerakan. Temuan tersebut juga disebut sejalan dengan peta patahan Indonesia yang disusun Pusat Studi Gempa Nasional (Pusgen) pada 2024.

Namun, ada satu hal penting yang perlu digarisbawahi. Patahan yang melintasi Surabaya, Sidoarjo hingga Bangkalan memang ada, tetapi belum terverifikasi sebagai patahan aktif. “Patahan yang melewati Surabaya, Sidoarjo, hingga Bangkalan memang ada, tetapi belum terverifikasi aktif,” tegas Amien.

Menurutnya, istilah “patahan” dan “patahan aktif” tidak bisa disamakan begitu saja. Sebuah patahan merupakan rekahan atau zona pergeseran pada kerak bumi. Sementara untuk mengategorikannya sebagai patahan aktif, diperlukan bukti ilmiah mengenai aktivitas atau pergerakan patahan tersebut.

“Kita harus memahami bahwa ada patahan yang aktif dan tidak aktif. Untuk menyebutnya sebagai patahan aktif, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut,” jelasnya.

Dengan kata lain, viralnya informasi mengenai patahan di Surabaya bukan berarti masyarakat harus bersiap menghadapi gempa besar dalam waktu dekat. Tidak ada dasar untuk menarik kesimpulan semacam itu hanya dari keberadaan sebuah patahan.

Amien pun mengingatkan masyarakat agar tidak menjadikan konten media sosial sebagai satu-satunya rujukan dalam memahami risiko kebencanaan.

Informasi mengenai bencana, menurut dia, harus dilihat berdasarkan sumber yang kredibel dan hasil kajian ilmiah. Masyarakat juga perlu membedakan antara fakta keberadaan struktur geologi dengan kesimpulan bahwa struktur tersebut aktif atau akan segera menimbulkan gempa.

Meski meminta masyarakat tidak panik, Amien justru mendorong Pemkot Surabaya tidak mengabaikan potensi risiko gempa. Kewaspadaan, kata dia, tetap diperlukan. Salah satunya dengan memperkuat sistem pemantauan pergerakan atau pergeseran tanah. “Pemerintah daerah dapat menyiapkan alat pendeteksi pergerakan atau pergeseran tanah sebagai bagian dari upaya pemantauan dan mitigasi,” katanya.

Selain alat pemantauan, pemerintah juga dinilai perlu memiliki peta kawasan rawan gempa yang menjadi acuan dalam pembangunan kota. Peta tersebut penting untuk menentukan tingkat risiko suatu wilayah sekaligus memastikan bangunan yang berdiri di kawasan berpotensi terdampak gempa memenuhi standar konstruksi tahan gempa.

Langkah tersebut dinilai jauh lebih penting daripada sekadar memperdebatkan informasi viral mengenai patahan. Sebab, risiko bencana tidak bisa dihapus hanya dengan menyangkal keberadaannya. Sebaliknya, risiko dapat ditekan melalui pemetaan, pemantauan, pembangunan yang sesuai standar dan kesiapsiagaan masyarakat.

Bagi Amien, informasi mengenai patahan seharusnya menjadi momentum untuk meningkatkan literasi kebencanaan masyarakat, bukan menjadi sumber kepanikan. Apalagi Surabaya merupakan kawasan perkotaan dengan kepadatan penduduk dan bangunan yang tinggi. Mitigasi sejak dini menjadi bagian penting untuk membangun kota yang lebih tangguh apabila sewaktu-waktu terjadi gempa.

Upaya tersebut sekaligus sejalan dengan komitmen ITS dalam mendukung Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan ke-11 tentang Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan.

    Share Article
    Editorial Team

    Related Articles

    See More