Penulis Epilog Buku 'Islam Ala Prabowo' Buka Suara

- KH Asep Saifuddin Chalim mengaku telah meminta judul buku “Islam Ala Prabowo” diubah karena sensitif, dengan usulan “Kepemimpinan Prabowo dalam Kacamata Islam”.
- Penulis epilog itu menegaskan tulisannya tidak mengkultuskan Prabowo, melainkan memakai kisah Khalifah Umar bin Abdul Aziz sebagai teladan kepemimpinan berorientasi pada rakyat.
- Kiai Asep berharap Prabowo meneladani keberanian Umar bin Abdul Aziz dalam memberantas korupsi, kolusi, dan nepotisme; ia juga menyinggung protes ulama soal penggunaan tulisan tanpa izin.
Surabaya, IDN Times - Kontroversi buku Islam Ala Prabowo yang beredar luas di media sosial akhirnya mendapat penjelasan langsung dari salah satu orang yang terlibat dalam buku tersebut. Ketua Umum Jaringan Kiai Santri Nasional (JKSN) KH Asep Saifuddin Chalim mengaku sejak awal sudah mengingatkan tim penyusun agar judul buku tersebut diubah karena dinilai sensitif.
Kiai Asep merupakan penulis epilog atau bagian penutup buku yang kini menjadi perbincangan publik tersebut. Ia mengaku terkejut ketika mengetahui buku tetap diterbitkan dengan judul Islam Ala Prabowo.
Menurut Kiai Asep, sejak diminta menulis untuk buku tersebut, dirinya telah menyampaikan keberatan terhadap pilihan judul. Ia bahkan mengusulkan judul alternatif yang dinilai lebih tepat dan tidak menimbulkan tafsir seolah-olah Islam dilekatkan secara personal kepada Presiden Prabowo Subianto.
“Saat panitia buku tersebut minta tulisan kepada saya, saya telah mengingatkan agar judulnya diubah karena sangat sensitif. Saya sudah menyarankan agar judul buku itu diubah menjadi ‘Kepemimpinan Prabowo dalam Kacamata Islam’. Bagaimana kepemimpinan Prabowo dalam kacamata Islam? Itu lebih bagus judulnya dibandingkan Islam Ala Prabowo,” tegasnya, Kamis (10/9/2026).
Ia menjelaskan, substansi tulisan yang dibuatnya juga tidak dimaksudkan untuk memuji atau mengkultuskan Prabowo. Epilog tersebut justru mengangkat kisah Khalifah Umar bin Abdul Aziz sebagai rujukan mengenai model kepemimpinan yang berorientasi pada kepentingan rakyat.
Kiai Asep mengatakan prinsip kepemimpinan dalam perspektif Islam adalah kebijakan seorang pemimpin harus berorientasi pada kemaslahatan masyarakat. “Tasarruful imam ala ra'iyah manutun bil maslahah. Kiprah seorang pemimpin untuk rakyatnya harus diorientasikan untuk kepentingan rakyat,” terangnya.
Ia kemudian mengaitkan prinsip tersebut dengan kepemimpinan Presiden Prabowo. Menurutnya, dalam berbagai pidatonya Prabowo kerap menekankan kepentingan rakyat dan pemberantasan korupsi.
Namun, Kiai Asep menegaskan tulisannya bukan bentuk pengkultusan terhadap Prabowo. Ia justru ingin menyampaikan pesan agar Presiden dapat mengambil pelajaran dari kepemimpinan Umar bin Abdul Aziz, khususnya dalam pemberantasan korupsi, kolusi dan nepotisme.
“Jadi, semangat saya, semangat untuk berdakwah. Kita semua tahu bahwa kebijakan Presiden sangat menentukan nasib bangsa Indonesia,” tegasnya.
Menurut pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah ini, Umar bin Abdul Aziz merupakan salah satu figur pemimpin yang layak dijadikan inspirasi karena mampu membangun pemerintahan yang dinilainya bersih, adil dan berorientasi pada kesejahteraan rakyat dalam masa kepemimpinan yang relatif singkat.
“Cerita Khalifah Umar bin Abdul Aziz sering saya sampaikan saat berceramah di hadapan pejabat, baik kepala daerah maupun menteri. Saya harap dapat menginspirasi, khususnya dalam ketegasannya memberantas korupsi dan nepotisme,” katanya.
Kiai Asep menilai keberanian seorang pemimpin menjadi salah satu aspek penting dalam menjalankan pemerintahan. Ia berharap nilai-nilai kepemimpinan Umar bin Abdul Aziz tidak berhenti sebagai cerita sejarah, tetapi dapat menjadi referensi bagi pemimpin Indonesia saat ini.
“Bukan ilusi tapi sebuah realitas, realitas sejarah. Presiden Prabowo bisa melakukan itu. Dan saya berharap bahwa apa yang terjadi pada Khalifah Umar bin Abdul Aziz itu dibaca oleh Pak Prabowo dan Pak Prabowo menjadikannya sebagai referensi,” imbuhnya.
Di tengah polemik buku tersebut, Kiai Asep juga menyinggung munculnya protes sejumlah ulama terkait penggunaan tulisan dalam buku tanpa izin atau komunikasi yang dianggap memadai dengan penulis.
Ia memilih tidak memberikan penilaian panjang mengenai persoalan tersebut. Namun, Kiai Asep menegaskan dirinya terbuka mengenai posisi dan maksud tulisannya karena memang sejak awal mengetahui bahwa tulisan tersebut akan menjadi bagian dari buku.
“Aduh, saya enggak tahulah, saya khawatirnya lempar batu sembunyi tangan. Kalau saya kan terang-terangan saja, blak-blakan. Sebagai penulis epilog di buku tersebut, bagian penutupan,” katanya.
Bagi Kiai Asep, pesan yang ingin disampaikan melalui epilog tersebut merupakan bagian dari dakwah, yakni mengajak seorang pemimpin mengambil hikmah dari sejarah kepemimpinan Islam.
“Apa itu bukan dakwah? Kan dakwah. Untuk bagaimana Pak Prabowo menjadi seperti Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Ibroh,” tegasnya.
Ia pun menyebut ada kesamaan tertentu yang menurutnya dapat menjadi modal bagi Prabowo untuk meneladani Umar bin Abdul Aziz, terutama dari sisi keberanian mengambil keputusan.
“Ada persamaan, mohon maaf, keberanian. Tapi di sinilah yang harus dibuktikan tentang keberaniannya Pak Prabowo. Umar bin Abdul Aziz berani, masih muda orangnya. Prabowo kan berani. Itu kesamaannya kan di situ,” ungkapnya.
Kiai Asep kembali menegaskan bahwa persoalan utama yang ingin disampaikannya bukanlah menjadikan Prabowo sebagai figur yang dikultuskan, melainkan mendorong agar kekuasaan digunakan sebesar-besarnya untuk kepentingan rakyat. Ia menyayangkan jika substansi tersebut justru tertutup oleh kontroversi judul buku.
“Kalau yang lain kan mungkin masih pikir-pikir, tapi Pak Prabowo kan berani. Ya sudahlah kita mengatakan apa adanya, gitu,” pungkasnya.




















