Ponorogo, IDN Times – Perayaan malam 1 Suro atau 1 Muharram 1448 Hijriah di Ponorogo Senin (15/6/2026) sore berlangsung meriah. Ribuan warga memadati pusat kota untuk menyaksikan kirab pusaka dan tradisi perebutan Buceng Porak yang menjadi bagian dari rangkaian Grebeg Suro.
Ribuan Warga Berebut Buceng Porak saat Grebeg Suro Ponorogo

1. Ribuan warga padati rute kirab pusaka
Sejak siang hari, warga dari berbagai daerah telah memadati sepanjang Jalan Makam Batoro Katong hingga Paseban Alun-alun Ponorogo. Mereka menunggu prosesi kirab lima pusaka sakral milik Pemkab Ponorogo yang dibawa dari Kota Lama menuju Kota Tengah untuk menjalani ritual jamasan.
Lima pusaka yang dikirab yakni Payung Kyai Songsong Tunggul Wulung, Tombak Kyai Tunggul Nogo, Sabuk Angkin Cinde Puspito, Tombak Kyai Brama Geni, dan Keris Kyai Pamong Angon Geni. Tradisi ini menjadi salah satu agenda utama dalam perayaan Grebeg Suro yang selalu menarik perhatian masyarakat.
2. Buceng porak habis diserbu dalam hitungan menit
Usai prosesi jamasan, perhatian warga langsung tertuju pada dua Buceng Porak yang berisi aneka hasil bumi seperti buah dan sayuran. Ribuan orang yang telah menunggu sejak lama langsung menyerbu gunungan tersebut.
Tak sampai beberapa menit, seluruh isi Buceng Porak habis diperebutkan warga. Banyak masyarakat percaya hasil bumi yang diperoleh dari Buceng Porak membawa keberkahan, keselamatan, dan kemakmuran di tahun baru Islam.
Salah satu warga, Suhartutik, mengaku rela berdesakan bersama kedua anaknya demi mendapatkan bagian dari gunungan hasil bumi tersebut.
"Saya dapat jeruk, wortel sama terong. Tadi desak-desakan sekali, tapi senang karena ini sudah jadi tradisi setiap Suro dan berharap membawa berkah," ujarnya.
3. Tak hanya budaya, grebeg suro juga gerakkan ekonomi
Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Ponorogo, Lisdyarita, menyebut antusiasme masyarakat tahun ini bahkan lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya. Keramaian tersebut tidak hanya menjadi sarana pelestarian budaya, tetapi juga berdampak positif terhadap perekonomian lokal.
Menurutnya, pedagang kaki lima, toko, hingga pelaku UMKM turut merasakan manfaat dari membludaknya jumlah pengunjung selama rangkaian Grebeg Suro berlangsung.
Selain itu, kirab pusaka juga menjadi media edukasi sejarah bagi generasi muda agar lebih mengenal perjalanan Kota Lama, Kota Tengah, serta berbagai pusaka bersejarah yang dimiliki Ponorogo.
Tradisi yang telah berlangsung turun-temurun ini pun diharapkan terus menjadi simbol kebersamaan sekaligus doa bersama agar Ponorogo senantiasa diberikan keselamatan dan kesejahteraan.