Potret Kemarau di Magetan, Telaga Mengering hingga Petani Gagal Panen

Kemarau panjang di Plaosan membuat puluhan hektare kubis, terong, dan tomat layu hingga mati akibat kekurangan air, sehingga petani menghadapi gagal panen dan kehilangan penghasilan.
Volume air Telaga Sarangan menyusut lebih dari 50 persen; bebatuan di tepian muncul, sementara airnya tetap dimanfaatkan untuk irigasi belasan desa dan Pabrik Gula Rejosari.
Penyusutan Telaga Sarangan mengubah akses wisata speedboat karena pengunjung harus menuruni tangga ke area lebih dalam, serta memperberat ketersediaan air bagi pertanian.
Magetan, IDN Times – Kemarau panjang mulai memukul kehidupan warga Kabupaten Magetan, Jawa Timur. Puluhan hektare tanaman sayuran milik petani di Kecamatan Plaosan layu hingga mati akibat kekurangan air. Sementara itu, volume air Telaga Sarangan menyusut lebih dari 50 persen hingga bebatuan di tepian mulai bermunculan.
Kondisi ini menjadi gambaran dampak kekeringan yang melanda sektor pertanian hingga pariwisata. Petani terancam kehilangan pendapatan karena gagal panen, sedangkan penyusutan air telaga turut mengubah akses pengunjung yang ingin menikmati wahana speedboat.
1. Puluhan hektare sayuran mati, petani merugi

Tanaman tomat petani di Plaosan Magatan layu dan mati akibat kekuranga air. (IDN Times/Riyanto) Kemarau panjang membuat petani di Kelurahan Plaosan dan Desa Sidomulyo, Kecamatan Plaosan, harus menghadapi kenyataan pahit. Tanaman sayuran yang mereka budidayakan, mulai dari kubis, terong, hingga tomat, layu bahkan mati karena kekurangan air.
Tanaman yang semestinya menjadi sumber penghasilan kini dibiarkan mati di ladang. Petani kesulitan mempertahankan tanaman karena pasokan air untuk penyiraman semakin terbatas.
Sukiyo, salah seorang petani, mengaku sudah enggan pergi ke kebun lantaran tanaman yang ditanamnya tidak mampu bertahan menghadapi kekeringan.
“Malas ke kebun, Mas. Tanam apa saja mati karena tidak ada air. Petani gagal panen semua,” ujarnya.
Kondisi tersebut membuat petani hanya bisa berharap hujan segera turun agar lahan pertanian kembali produktif. Mereka juga berharap hasil panen sayuran nantinya kembali normal sehingga harga di pasaran tetap stabil.
2. Air Telaga Sarangan susut

Kondisi air telaga Sarangan yang surut akibat kemarau. (IDN Times/Riyanto) Dampak kemarau juga terlihat di Telaga Sarangan, Kelurahan Sarangan, Kecamatan Plaosan. Berdasarkan pantauan pada Jumat (16/10/2026), permukaan air telaga wisata andalan Magetan itu menyusut drastis hingga lebih dari 50 persen.
Bebatuan yang sebelumnya terendam kini mulai terlihat di sejumlah tepian telaga. Dalam kondisi normal, kapasitas air Telaga Sarangan disebut mencapai sekitar 3 juta meter kubik.
Penyusutan tersebut menjadi perhatian karena air telaga tidak hanya menunjang sektor pariwisata, tetapi juga dimanfaatkan untuk kebutuhan lain.
Air Telaga Sarangan selama ini dialirkan untuk irigasi persawahan di belasan desa yang tersebar di Kecamatan Plaosan dan Poncol. Selain itu, airnya juga dimanfaatkan untuk kebutuhan Pabrik Gula Rejosari Magetan.
Rendy, salah seorang pemilik speedboat, mengatakan penyaluran air untuk berbagai kebutuhan turut berkaitan dengan menyusutnya volume air telaga.
“Air juga dialirkan untuk irigasi sawah dan PG, sehingga air di telaga menyusut lebih dari separuh,” jelasnya.
3. Pengunjung speedboat harus turun tangga

Kondisi air telaga Sarangan yang surut akibat kemarau. (IDN Times/Riyanto) Penyusutan air Telaga Sarangan turut mengubah akses pengunjung yang ingin menikmati wisata speedboat. Mereka kini harus turun melalui tangga menuju bagian telaga yang masih cukup dalam untuk aktivitas perahu bermotor.
Di sisi lain, menyusutnya air telaga juga menjadi tantangan bagi pemanfaatan sumber air untuk irigasi pertanian. Terlebih, petani di wilayah Plaosan sudah merasakan dampak kekeringan dengan matinya tanaman sayuran sebelum sempat dipanen.
Para petani berharap kemarau panjang segera berakhir agar ketersediaan air kembali membaik. Sementara itu, petani yang mengandalkan pasokan air dari Telaga Sarangan diimbau mengikuti pola tanam yang disarankan dengan mempertimbangkan ketersediaan air selama musim kemarau.




















