Menemukan Pancasila di Gang Tepi Rel Surabaya

Warga Dupak Magersari membangun kemandirian ekonomi di tengah permukiman rel melalui usaha rumahan, pasar tumpah, dan tradisi kerajinan dandang yang menopang penghidupan lintas generasi.
Koperasi Srikandi Kapirel berkembang dari tabungan Rp2.000 per hari sejak 2024 menjadi modal sekitar Rp20 juta, menyediakan pinjaman untuk usaha, pendidikan, serta renovasi rumah anggota.
Koperasi dan usaha dandang mencerminkan gotong royong, musyawarah, serta keadilan sosial; keberlanjutannya bergantung pada tata kelola transparan, tanggung jawab anggota, inovasi, dan akses pasar.
Surabaya, IDN Times – “Tuuuut... tuuut... tuuut...” Peluit kereta api memecah percakapan warga Kampung Dupak Magersari, Kota Surabaya, Senin (14/9/2026) malam. Tak lama berselang, bunyi roda besi beradu dengan rel terdengar semakin dekat. “Jeg-jeg-jeg-jeg.”
Dari sebuah bangunan bertuliskan Balai RW, seorang laki-laki berseru, “Awas-awas, sepur!” Sepeda motor yang melintas di sekitar perlintasan segera berhenti. Warga menoleh, memastikan kereta datang dari jalur A atau B. Sesaat, percakapan terhenti. Setelah rangkaian gerbong berlalu, kehidupan kampung kembali berjalan seperti biasa.
Di Dupak Magersari, kewaspadaan telah menjadi bagian dari keseharian. Begitu pula kebiasaan saling mengingatkan, berbagi ruang, dan mengandalkan satu sama lain di tengah permukiman yang padat. Namun, ada hal lain yang membuat kampung di Kecamatan Bubutan, Surabaya, ini menarik. Di sela deru kereta, gang-gang sempit, dan rumah yang berdempetan, warga merawat sesuatu yang menjadi penopang kehidupan mereka. Ekonomi yang tumbuh dari kekuatan sendiri.
Pagi hari, kawasan sekitar rel dapat berubah menjadi pasar tumpah. Pedagang menggelar sayuran dan kebutuhan pangan, sementara warga datang untuk berbelanja. Sebagian lainnya menjalankan usaha dari rumah, mulai dari berjualan makanan hingga memproduksi peralatan dapur berbahan aluminium.
Di kampung ini, rumah tidak selalu sekadar tempat pulang. Bagi sebagian keluarga, rumah juga merupakan toko, tempat produksi, sekaligus ruang untuk mempertahankan penghidupan. Salah satu usaha yang paling lekat dengan identitas Dupak Magersari adalah kerajinan dandang. Warisan yang telah bertahan selama puluhan tahun itu membuat kawasan ini dikenal sebagai Kampung Dandang.
Di tengah perubahan zaman, usaha tersebut masih bertahan. Pesanan datang dari berbagai daerah, bahkan menyeberang pulau. Sementara itu, para pedagang kecil tetap berusaha menjaga perputaran dagangan dengan modal yang terbatas.
Di sinilah cerita ekonomi Dupak Magersari bermula. Bukan dari investasi besar atau berdirinya perusahaan baru, melainkan dari upaya warga mengelola apa yang mereka miliki, saling membantu, dan menciptakan jalan agar penghasilan keluarga tetap berjalan.
Salah satu ikhtiarnya bernama Koperasi Srikandi Kapirel. Koperasi ini berangkat dari kebiasaan sederhana. Menyisihkan Rp2.000 setiap hari. Nominal yang mungkin terlihat kecil, tetapi menjadi awal dari upaya warga membangun kemandirian ekonomi sekaligus memperkuat hubungan sosial di kampung.
Dalam skala yang lebih luas, praktik tersebut memperlihatkan bagaimana nilai-nilai Pancasila dapat hidup melalui kegiatan ekonomi sehari-hari. Gotong royong tidak berhenti pada kerja bakti. Musyawarah tidak hanya berlangsung dalam rapat warga. Keadilan sosial pun tidak semata-mata dibicarakan dalam forum resmi.
Nilai-nilai itu dapat hadir ketika warga mengumpulkan uang bersama, menentukan penggunaannya melalui kesepakatan, lalu memastikan dana yang kembali dapat membantu anggota lainnya.
Dari Rp2.000, Warga Belajar Berdiri di Atas Kekuatan Sendiri

Ibu-ibu yang tergabung dalam Koperasi Srikandi Kapirel di Kampung Dupak Magersari Surabaya. IDN Times/Ardiansyah Fajar. Bendahara koperasi, Ika Sofi Widiyanti (37) masih mengingat bagaimana Koperasi Srikandi Kapirel mulai digagas pada 2023. Saat itu, sejumlah warga Dupak Magersari berkenalan dengan praktik pengorganisasian ekonomi masyarakat di Kalijawi, Yogyakarta.
Kampung Kalijawi memiliki pengalaman mengorganisasi warga di kawasan permukiman bantaran sungai yang menghadapi persoalan lingkungan dan kerentanan penguasaan lahan. Salah satu praktik yang dipelajari warga Dupak Magersari adalah membangun kekuatan ekonomi melalui tabungan rutin dalam jumlah kecil.
Sekitar tujuh hingga delapan warga kemudian berangkat ke Kalijawi. Mereka berasal dari unsur pengurus RT, PKK, dan warga yang aktif dalam kegiatan kampung. Perwakilan laki-laki dan perempuan sama-sama terlibat.
Sepulangnya ke Surabaya, mereka mempelajari sistem tersebut dan menyesuaikannya dengan kondisi setempat. Warga Kalijawi pun datang untuk berbagi pengalaman. Dari proses itu, muncul keyakinan bahwa masyarakat tidak harus menunggu memiliki modal besar untuk mulai membangun kekuatan ekonomi.
Awal 2024, Koperasi Srikandi Kapirel mulai berjalan dengan 13 anggota sebagai kelompok percontohan. Setiap anggota menyisihkan Rp2.000 per hari, kemudian mengumpulkannya setiap bulan.
Dengan pola tersebut, seorang anggota dapat menyimpan sekitar Rp60.000 dalam sebulan. Jika dilakukan oleh 13 orang, terkumpul Rp780.000 pada bulan pertama. Uang itu tidak dibiarkan mengendap. Anggota sepakat memutarnya melalui skema simpan pinjam. Pada tahap awal, pinjaman yang dapat diberikan kepada anggota sekitar Rp400.000, dengan pengembalian selama tiga bulan dan jasa sebesar 5 persen sesuai kesepakatan.
Bagi keluarga dengan penghasilan terbatas, dana tersebut bisa membantu memenuhi kebutuhan yang tidak selalu dapat menunggu. Bagi koperasi, setiap pengembalian menjadi kesempatan untuk mengumpulkan kembali modal dan menyalurkannya kepada anggota lain.
“Kalau arisan itu kan sudah dapat, narik, semua orang sudah narik, buyar,” kata Ika.
Koperasi, menurut dia, dirancang untuk berjalan lebih panjang. Anggota tetap menabung selama menjadi bagian dari koperasi, sementara dana pinjaman yang dikembalikan dapat diputar kembali.
Tentu, membangun kepercayaan tidak semudah mengumpulkan uang. Pada awal pembentukan, ada warga yang ragu. Sebagian khawatir harus terus membayar, sementara lainnya takut tabungan tidak kembali jika pinjaman bermasalah.
Keraguan itu dijawab secara bertahap melalui praktik. Warga melihat bagaimana simpanan dikelola, pinjaman disalurkan, dan kewajiban pengembalian dijalankan. Dari 13 anggota pertama, koperasi berkembang dengan pembentukan kelompok-kelompok baru. Jumlah anggota sempat berubah karena sejumlah orang berhenti atau pindah, tetapi kini sekitar 25 orang masih tergabung.
Nominal simpanan bulanan juga disesuaikan berdasarkan kesepakatan anggota menjadi Rp50.000. Dari proses menabung dan perputaran pinjaman, modal yang dikelola koperasi kini mencapai sekitar Rp20 juta.
Angka tersebut mungkin belum besar jika dibandingkan dengan lembaga keuangan berskala luas. Namun, bagi warga yang membangunnya dari simpanan kecil, modal itu memiliki arti lebih dari sekadar nominal. Ada kemampuan untuk menentukan kebutuhan sendiri, mengelola uang bersama, dan menyediakan alternatif pembiayaan yang dekat dengan kehidupan anggota.
Di situlah nilai gotong royong menemukan bentuk yang konkret. Setiap orang menyumbang sesuai kemampuannya. Manfaatnya tidak harus dinikmati pada waktu yang sama, tetapi dana yang terkumpul diupayakan tetap berguna bagi anggota secara bergantian.
Ketika Koperasi Membantu Rumah dan Penghidupan

Salah satu anggota Koperasi Srikandi Kapirel, Tri Nawangsari yang memandangi rumahnya usai renovasi dari hasil pinjaman koperasi. IDN Times/Ardiansyah Fajar. Bagi Ika, salah satu manfaat koperasi yang paling terasa adalah terbukanya akses pembiayaan untuk kebutuhan rumah tangga dan perbaikan tempat tinggal. Melalui pendampingan Arsitek Komunitas (Arkom) Jawa Timur, koperasi memperoleh dukungan untuk skema renovasi rumah dengan rencana awal sebesar Rp50 juta bagi lima anggota.
Pada tahap awal, dana Rp30 juta disalurkan untuk tiga anggota, yakni Ketua Koperasi Srikandi Kapirel Riski Indrayanti (38), Wakil Ketua Wiwik Sukarsi (43), dan anggota Tri Nawang Sari (36). Masing-masing memperoleh plafon pembiayaan maksimal Rp10 juta.
Skemanya tidak seluruhnya berupa hibah. Sekitar 25 persen dari plafon, atau Rp2,5 juta, menjadi hibah bagi anggota. Sementara 75 persen sisanya, yakni Rp7,5 juta, harus dikembalikan kepada koperasi dengan jasa 5 persen dan masa pengembalian 30 bulan.
Dengan mekanisme yang disepakati, dana yang kembali dapat menjadi sumber pembiayaan bagi anggota berikutnya. Namun, prosesnya tidak berhenti pada penyaluran uang. Anggota juga menjalani persiapan dan pendampingan untuk menentukan kebutuhan renovasi serta merencanakan penggunaan dana.
Bagi Tri Nawang Sari, manfaatnya dapat dilihat langsung dari perubahan rumahnya. Sebelum direnovasi, kamar di lantai dua terasa pengap karena sirkulasi udara kurang memadai. Setelah ditambahkan bukaan, jendela, dan loster, udara lebih leluasa bergerak dari depan menuju belakang.
“Depan belakang itu bisa masuk angin,” kata Nawang, menggambarkan perubahan sirkulasi udara di rumahnya.
Renovasi berlangsung sekitar dua minggu. Dana yang diterima belum mencukupi seluruh kebutuhan sehingga Nawang tetap harus menambah biaya sendiri. Kenaikan harga material setelah Lebaran dan ongkos tenaga kerja menjadi tantangan tersendiri. Ia pun membandingkan harga bahan bangunan dan memanfaatkan material lama yang masih layak digunakan.
Pengalaman Nawang memperlihatkan bahwa pembiayaan yang dibutuhkan warga tidak selalu berkaitan dengan ekspansi usaha. Rumah yang lebih sehat dan nyaman juga menjadi bagian penting dari kesejahteraan keluarga.
Namun, dalam konteks kemandirian ekonomi, rumah memiliki fungsi yang lebih luas di Dupak Magersari. Ia bisa menjadi tempat produksi, penyimpanan barang, atau ruang untuk menjalankan usaha.
Hal itu terlihat pada rumah Wiwik Sukarsi. Setelah direnovasi, lantai bawah rumahnya digunakan untuk kegiatan produksi dandang, sementara lantai atas menjadi tempat tinggal keluarga. Pembagian ruang tersebut membantu keluarga memisahkan kegiatan produksi dan kebutuhan rumah tangga. Usaha dapat terus berjalan tanpa harus mengorbankan seluruh ruang untuk kehidupan keluarga.
Warga di permukiman padat begini merasa, perubahan seperti itu penting. Keterbatasan lahan membuat satu bangunan harus mampu menjalankan beberapa fungsi sekaligus. Koperasi pun tidak hanya berkaitan dengan pinjaman dan pengembalian. Dana yang dikelola dapat membantu memperbaiki ruang tempat warga tinggal sekaligus bekerja.
Riski, yang merasakan manfaat renovasi sekaligus memimpin koperasi, berharap jumlah anggota terus bertambah. Ia memahami bahwa sebagian warga masih memandang koperasi sebagai tempat berutang. Pengurus pun terus mengenalkan mekanisme dan manfaat koperasi melalui kegiatan warga, termasuk pertemuan PKK.
Kepercayaan, menurut pengalaman mereka, tidak dapat dibangun hanya dengan ajakan. Warga perlu melihat bagaimana sistem bekerja dan manfaat yang benar-benar dirasakan anggota. Selain renovasi rumah, pinjaman koperasi juga digunakan untuk menambah modal dagangan, kulakan barang, menjalankan usaha daring, hingga memenuhi kebutuhan pendidikan anak.
Bendahara koperasi, Ika, menyebut sejumlah anggota memanfaatkan dana untuk mempertahankan perputaran usaha mereka. “Jadi pinjaman itu mereka pakai buat nambahin modal, buat muter modal,” ujarnya.
Ada pedagang yang membutuhkan tambahan uang untuk membeli stok. Ada pula keluarga yang perlu memenuhi biaya pendaftaran sekolah ketika tahun ajaran baru tiba. Kebutuhan tersebut mungkin tidak selalu besar, tetapi penting bagi keberlangsungan kehidupan keluarga. Ketika pinjaman dikembalikan, dana dapat digunakan lagi untuk membantu anggota lainnya.
Meski demikian, keberlanjutan koperasi tetap bergantung pada kemampuan anggota memenuhi kewajiban, tata kelola yang transparan, dan kesepakatan yang dipahami bersama. Semangat gotong royong tidak menghilangkan kebutuhan untuk mengelola risiko. Justru, kepercayaan perlu dijaga melalui tanggung jawab setiap anggota.
Kampung Dandang, Warisan yang Tetap Menghidupi Warga
Di Dupak Magersari, cerita kemandirian ekonomi tidak berhenti pada koperasi. Jauh sebelum Srikandi Kapirel berdiri, kampung ini telah memiliki sumber penghidupan yang diwariskan lintas generasi. Kerajinan dandang.
Mulyadi, perajin yang kini berusia hampir 50 tahun, merupakan generasi kedua yang meneruskan usaha ayahnya, Matari. Ia tidak mengetahui secara pasti sejak kapan Dupak Magersari dikenal sebagai Kampung Dandang. Namun, ketika Mulyadi masih kecil, kegiatan produksi dandang sudah menjadi bagian dari kehidupan warga.
Ayahnya telah menjalankan usaha itu selama puluhan tahun. Pada masa ketika penanak nasi elektrik belum umum digunakan, pesanan dandang bisa mencapai puluhan buah sehari. Matari bahkan mengajak sejumlah tetangga membantu produksi. Mereka belajar mengolah aluminium, membentuk badan dandang, membuat saringan, hingga merakit bagian-bagiannya.
Sebagian kemudian membuka usaha sendiri. Dari satu rumah produksi, keterampilan itu menyebar ke rumah-rumah lainnya. Kini, setidaknya tujuh rumah di kawasan tersebut masih aktif memproduksi dandang.
Di tempat Mulyadi bekerja, lembaran aluminium diukur, dipotong, ditempa, dan dibentuk sesuai pesanan. Ada dandang untuk kebutuhan rumah tangga, ada pula yang dibuat untuk memasak soto, bakso, hingga mi pangsit.
Ukuran produk bervariasi, mulai dari kapasitas sekitar delapan kilogram hingga dandang berukuran besar dengan kapasitas 30–50 kilogram. Prosesnya sebagian besar masih mengandalkan keterampilan tangan. Namun, para perajin juga beradaptasi agar produksi lebih efisien.
Dahulu, lubang pada saringan dandang dibuat satu per satu menggunakan paku. Proses tersebut membutuhkan waktu lama, terutama ketika pesanan sedang banyak. Para perajin kemudian mengembangkan peralatan yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Dengan berkonsultasi kepada Bengkel Cokro, mereka membuat mesin pelubang dan alat pres khusus.
Peralatan itu tidak sekadar mempercepat pekerjaan. Pengembangan tersebut menunjukkan bahwa mempertahankan tradisi tidak berarti menolak perubahan. Keterampilan lama justru perlu disertai inovasi agar tetap mampu menjawab kebutuhan pasar.
Pasar dandang buatan Dupak Magersari pun tidak hanya terbatas di Surabaya. Mulyadi menyebut, pesanan datang dari sejumlah daerah, termasuk Maumere dan wilayah lain di Nusa Tenggara Timur. Ia pernah mengirim 100 dandang ke NTT, sementara pesanan untuk Pasar Grosir Surabaya juga terus dikerjakan.
Menurut Mulyadi, ketebalan aluminium menjadi salah satu pertimbangan pelanggan. Bahan yang digunakan berkisar 0,8–1 milimeter, bergantung pada ukuran dan permintaan. Di tengah semakin beragamnya peralatan dapur modern, para perajin berusaha mempertahankan pasar melalui ketahanan produk, keterampilan produksi, dan kemampuan memenuhi kebutuhan pelanggan.
Usaha tersebut juga memperlihatkan bagaimana ekonomi lokal dapat tumbuh dari pengetahuan yang dimiliki masyarakat sendiri. Keterampilan diwariskan di dalam keluarga. Tenaga kerja berasal dari lingkungan sekitar. Peralatan dikembangkan sesuai kebutuhan produksi. Produk kemudian dipasarkan ke luar kampung, bahkan ke luar pulau.
Artinya, kegiatan ekonomi Dupak Magersari bukan sekadar aktivitas untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ia juga menyimpan potensi dalam bentuk lapangan kerja, keterampilan, dan jaringan perdagangan.
Namun, mempertahankan usaha tradisional tidak selalu mudah. Perubahan pola konsumsi, persaingan produk, harga bahan baku, serta kebutuhan memperluas pasar menjadi tantangan yang perlu dihadapi.
Akses pembiayaan yang lebih mudah dapat membantu, tetapi bukan satu-satunya jawaban. Pelaku usaha juga membutuhkan kepastian pasar, peningkatan keterampilan, inovasi produk, dan pengelolaan usaha yang sehat.
Dalam konteks itu, koperasi dan usaha warga berpotensi saling menguatkan. Koperasi menyediakan akses pembiayaan berbasis anggota, sedangkan usaha lokal menciptakan kegiatan produktif yang menghasilkan pendapatan.
Hubungan tersebut tidak otomatis membuat seluruh persoalan ekonomi selesai. Namun, keduanya menyediakan fondasi yang dapat dikembangkan agar uang, keterampilan, dan peluang usaha tetap berputar di lingkungan masyarakat.
Ekonomi Warga sebagai Wujud Pancasila yang Hidup

Suasan Kampung Dupak Magersari Surabaya pada malam hari. IDN Times/Ardiansyah Fajar. Ekonom Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Hendry Cahyono melihat, kekuatan Koperasi Srikandi Kapirel terletak pada proses pembentukannya yang tumbuh dari bawah atau bottom up. Koperasi itu berangkat dari kebutuhan warga, bukan semata-mata target pembentukan lembaga. Anggota menyisihkan uang, menentukan kebutuhan, dan menggunakan dana berdasarkan mekanisme yang disepakati bersama.
“Koperasi tidak sekadar badan usaha, melainkan gerakan ekonomi rakyat yang berasaskan kekeluargaan dan gotong royong,” ujarnya, Rabu (16/9/2026).
Menurut Hendry, koperasi yang bertumpu pada partisipasi masyarakat memiliki kedekatan dengan persoalan sehari-hari anggotanya. Mereka mengetahui kebutuhan pembiayaan yang muncul di lingkungan sendiri, mulai dari tambahan modal dagangan hingga biaya pendidikan.
Kedekatan tersebut menjadi modal sosial yang penting. Namun, ia harus didukung tata kelola yang sehat, tanggung jawab anggota, dan penggunaan dana yang tepat.
Hendry juga mengingatkan bahwa menjamurnya koperasi simpan pinjam perlu dibaca bersama kebutuhan masyarakat terhadap akses pembiayaan. Bagi pekerja informal dan pelaku usaha mikro, koperasi dapat menjadi alternatif ketika akses ke lembaga keuangan lain terbatas.
Persoalannya, pinjaman tidak selalu menghasilkan peningkatan kesejahteraan jika hanya digunakan untuk menutup kebutuhan konsumsi tanpa memperkuat kapasitas pendapatan Menurut Hendry, penggunaan pembiayaan untuk kegiatan produktif perlu mendapat perhatian. Tambahan modal yang digunakan untuk membeli bahan baku, menambah stok, memperbaiki peralatan, atau meningkatkan produktivitas berpeluang membantu usaha berkembang.
Kendati demikian, kebutuhan rumah tangga seperti pendidikan dan perbaikan tempat tinggal juga merupakan bagian dari kesejahteraan. Yang penting ialah memastikan skema pembiayaan sesuai kemampuan anggota dan tidak menimbulkan beban pengembalian yang sulit dipenuhi.
Kembali ke Dupak Magersari, pendekatan itu dapat diterapkan melalui penguatan koperasi sekaligus pengembangan usaha lokal. Pembiayaan dapat diarahkan untuk membantu pedagang mempertahankan stok, perajin meningkatkan kapasitas produksi, atau pelaku usaha mengakses pasar yang lebih luas.
Hendry menilai keberhasilan usaha juga tidak seharusnya diukur hanya dari kemampuan mengekspor produk atau berubah menjadi perusahaan besar. Ukuran yang lebih penting ialah kesehatan keuangan, keberlanjutan usaha, produktivitas, kemampuan beradaptasi dengan teknologi, serta peningkatan kesejahteraan pemilik dan pekerjanya.
“UMKM sukses belum tentu harus meninggalkan status UMKM. Sebaliknya, naik kelas menjadi usaha besar belum tentu menjamin kesejahteraan,” katanya. Dengan ukuran itu, usaha kecil yang mampu menghidupi keluarga, mempertahankan pekerja, dan bertahan menghadapi perubahan juga memiliki nilai ekonomi yang penting.
Pandangan itu sejalan dengan upaya Pemerintah Kota Surabaya memperkuat peran koperasi dan UMKM dalam perekonomian daerah. Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi menyebut koperasi dan UMKM sebagai penggerak ekonomi yang turut mendukung upaya menurunkan kemiskinan.
Ia menyampaikan pertumbuhan ekonomi Surabaya berada di atas rata-rata provinsi dan nasional. Menurut Eri, pemerintah kota juga telah menerbitkan ratusan ribu Nomor Induk Berusaha (NIB) untuk mendukung pendataan dan pengembangan pelaku usaha serta membuka peluang kerja sama dengan berbagai pemangku kepentingan.
Pendataan dan legalitas menjadi salah satu pintu untuk memperkuat usaha masyarakat. Namun, manfaatnya perlu diteruskan melalui dukungan yang benar-benar dibutuhkan pelaku usaha, seperti akses pasar, pembiayaan yang sehat, pendampingan, dan peningkatan keterampilan.
Di tingkat kampung, kebutuhan itu memiliki bentuk yang sangat konkret. Pedagang memerlukan modal untuk kulakan. Perajin membutuhkan bahan baku dan peralatan. Pelaku usaha rumahan membutuhkan pasar yang berkelanjutan. Sementara itu, koperasi memerlukan tata kelola yang baik agar kepercayaan anggota tetap terjaga dan dana dapat terus dimanfaatkan secara bertanggung jawab.
Di sinilah nilai Pancasila dapat diterjemahkan menjadi agenda pembangunan ekonomi yang nyata. Sila kedua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, tercermin dalam upaya memperhatikan kebutuhan dasar dan martabat warga. Sila ketiga, Persatuan Indonesia, hadir ketika masyarakat membangun kekuatan bersama di tengah perbedaan kondisi ekonomi.
Kemudian sila keempat, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, menemukan ruangnya ketika anggota menentukan aturan dan penggunaan dana melalui kesepakatan. Sementara sila kelima, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia, menjadi tujuan ketika kegiatan ekonomi diarahkan untuk memperluas kesempatan dan meningkatkan kesejahteraan.
Semua itu tentu tidak berarti bahwa setiap kegiatan koperasi otomatis mencerminkan seluruh nilai Pancasila. Nilai-nilai tersebut perlu dijaga melalui partisipasi yang terbuka, pembagian manfaat yang adil, pengelolaan yang transparan, dan kesempatan yang setara bagi warga.
Namun, pengalaman Dupak Magersari memperlihatkan bahwa Pancasila dapat menjadi sesuatu yang lebih dekat daripada slogan atau upacara. Ia dapat hadir dalam cara warga mengelola uang bersama, mempertahankan usaha tetangga, dan mencari solusi atas kebutuhan kampung.
Semangat semacam inilah yang relevan dalam pengembangan Kampung Pancasila. Bukan hanya menghadirkan simbol atau kegiatan seremonial, tetapi memastikan nilai gotong royong dan keadilan sosial berpengaruh terhadap kehidupan masyarakat, termasuk dalam kegiatan ekonomi.




















