Ngawi Darurat Kekeringan, Ribuan Warga Kesulitan Air Bersih

BPBD Ngawi menaikkan status kekeringan menjadi tanggap darurat setelah kemarau panjang berdampak pada 1.600 KK atau 4.403 jiwa.
Penyusutan debit sumur, Pamsimas, dan sumur bor membuat distribusi air bersih sejak 1 Agustus meluas dari tiga menjadi 28 dusun.
Kecamatan Pitu, Padas, dan Karangjati menjadi wilayah terdampak utama; BPBD memprioritaskan pasokan air sambil menunggu perkiraan hujan pada November 2026.
Ngawi, IDN Times – Kemarau panjang mulai memicu krisis air bersih di Kabupaten Ngawi, Jawa Timur. Sebanyak 4.403 jiwa terdampak kekeringan hingga membuat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Ngawi menaikkan status dari siaga menjadi tanggap darurat kekeringan.
Penyusutan debit air tanah membuat sumur warga hingga sumber air dari program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas) serta sumur bor mulai mengering. Akibatnya, ribuan warga kini bergantung pada bantuan distribusi air bersih untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Ngawi, Yudha Herlambang, mengatakan distribusi air bersih telah dilakukan sejak 1 Agustus 2026. Seiring meluasnya dampak kemarau, jumlah lokasi yang membutuhkan bantuan terus bertambah. "Saat ini sudah naik jadi tanggap darurat untuk kekeringan wilayah Ngawi. Sejak 1 Agustus lalu kita sudah droping air sampai sekarang," ujarnya, Kamis (15/10/2026).
Yudha menjelaskan, pada awal Agustus, distribusi air bersih hanya menyasar tiga dusun. Namun, kemarau yang berlangsung berkepanjangan membuat jumlah titik distribusi meningkat menjadi 28 dusun.
Bantuan tersebut disalurkan setiap hari oleh BPBD bersama instansi terkait untuk memenuhi kebutuhan warga yang kesulitan mendapatkan air bersih. Berdasarkan pendataan sementara, sekitar 1.600 kepala keluarga (KK) atau 4.403 jiwa terdampak kekeringan. Kondisi ini dinilai lebih parah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya karena sejumlah sumber air mulai mengalami penurunan debit dalam beberapa bulan terakhir.
"Kalau dihitung kartu keluarga (KK) ada sekitar 1.600-an yang terdampak dari kekeringan ini. Ya memang dampak El Nino ini kemaraunya jadi lebih panjang," jelasnya.
BPBD Ngawi masih memantau perkembangan kondisi di lapangan untuk mengantisipasi bertambahnya permintaan bantuan air bersih. Sebab, hujan belum turun secara merata, sementara sumber air di sejumlah wilayah terus menyusut.
Yudha menyebut, berdasarkan hasil koordinasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), hujan diperkirakan mulai turun pada November 2026.
Karena itu, BPBD akan terus memperbarui status kebencanaan sesuai perkembangan situasi dan kebutuhan penanganan di lapangan. Wilayah terdampak kekeringan mayoritas berada di Kecamatan Pitu, Padas, hingga Karangjati. Distribusi air bersih diharapkan mampu menjaga kebutuhan dasar warga sampai hujan kembali turun.
Selain kekeringan, Ngawi juga menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Namun, BPBD masih menetapkan status siaga darurat karena kejadian yang tercatat sejauh ini dinilai tidak meluas dan tidak berlangsung lama.
Yudha menyebut, terdapat dua kejadian kebakaran yang menjadi perhatian, yakni di kawasan Gunung Lawu dan kebakaran terbaru di Gunung Butak. "Untuk karhutla statusnya masih siaga. Di Ngawi ini dua kali kejadian, yakni di Gunung Lawu dan terbaru kemarin Gunung Butak yang terbakar," katanya.
BPBD terus memantau potensi bencana tersebut di tengah kondisi kemarau. Sementara itu, penanganan kekeringan menjadi prioritas karena ribuan warga membutuhkan pasokan air bersih untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.




















