Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Menperin Ancam Wajibkan Industri Terapkan Teknologi Penangkap Karbon

Kab. Gresik
3 min read
Menperin Ancam Wajibkan Industri Terapkan Teknologi Penangkap Karbon
Menperin M. Sarmuji saat diwawancara di Petrokimia Gresik. IDN Times/Ardiansyah Fajar.
  • Menteri Perindustrian M. Sarmuji membuka peluang mewajibkan teknologi dekarbonisasi bagi industri jika evaluasi membuktikan manfaatnya melampaui biaya investasi.

  • Proyek percontohan CCU di Petrokimia Gresik menekan emisi karbon sekaligus menghasilkan soda ash, meski nilai ekonomi dan kelayakan komersialnya masih dihitung.

  • Pemerintah menargetkan evaluasi berkelanjutan agar CCU berkembang dari uji coba ke skala industri, termasuk berpotensi diterapkan pada PLTU.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Gresik, IDN Times - Teknologi ramah lingkungan selama ini kerap dianggap sebagai beban tambahan bagi industri. Namun, Menteri Perindustrian M. Sarmuji menilai anggapan itu mulai terpatahkan lewat proyek percontohan Carbon Capture and Utilization (CCU) di Petrokimia Gresik. Teknologi ini bukan hanya menekan emisi karbon, tetapi juga menghasilkan produk bernilai ekonomi.

Pemerintah pun membuka peluang untuk mewajibkan penerapan teknologi dekarbonisasi tersebut di sektor industri apabila hasil evaluasi membuktikan manfaatnya lebih besar dibandingkan biaya investasi yang dibutuhkan.

“Kalau nanti terbukti ini bisa menjadi sekelas industri, artinya tidak memberikan beban yang berat bagi industri, kita bisa wajibkan suatu saat. Kita akan punya roadmap ke sana,” ujar Sarmuji saat mengunjungi Petrokimia Gresik, Jumat (16/10/2026).

Sarmuji bilang, proyek percontohan CCU menunjukkan bahwa upaya mengurangi emisi tidak harus berhenti sebagai pengeluaran tambahan. Teknologi ini dapat memberikan manfaat ganda. Yakni mendukung dekarbonisasi sekaligus menghasilkan produk sampingan yang berpotensi mendatangkan nilai ekonomi.

Ia menyebut proyek di Petrokimia Gresik menghasilkan produk yang disebutnya soda ash dalam keterangannya. Namun, nilai ekonomi dan kelayakan komersialnya masih perlu dihitung lebih lanjut sebelum teknologi tersebut diterapkan secara luas.

“Sebagian perusahaan atau industri enggan menerapkan dekarbonisasi. Bahkan dianggap ini sebagai unit cost, tambahan biaya. Tapi dalam proyek ini kita bisa membuktikan bahwa penerapan teknologi hijau dalam proses industri ternyata juga bisa menghasilkan manfaat yang lebih,” katanya.

Sarmuji menegaskan, proyek percontohan harus dievaluasi secara berkelanjutan agar bisa ditingkatkan dari skala uji coba menjadi penerapan industri komersial. Pemerintah ingin memastikan teknologi yang sudah diuji di dalam negeri tidak berhenti sebatas demonstrasi.

Ia juga menyinggung Jepang yang disebut telah menerapkan teknologi serupa dalam proses industrinya. Menurutnya, Indonesia perlu memastikan inovasi yang dikembangkan di dalam negeri benar-benar diimplementasikan secara luas, bukan justru lebih dahulu dimanfaatkan negara lain.

“Kita enggak mau apa yang sudah kita lakukan di sini ternyata enggak terimplementasi, justru diimplementasikan oleh negara lain,” katanya.

Sarmuji melihat potensi penerapan teknologi penangkapan dan pemanfaatan karbon tidak terbatas pada industri petrokimia. Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) juga dinilai berpotensi memanfaatkan teknologi tersebut untuk menekan emisi.

Ia menyebut penerapan teknologi itu pada PLTU berpotensi memperpanjang umur operasional pembangkit sekaligus menghasilkan produk sampingan. Namun, manfaat dan kelayakannya tetap perlu dikaji sesuai karakteristik masing-masing fasilitas.

Menurut Sarmuji, keraguan industri selama ini salah satunya muncul karena investasi teknologi hijau dianggap membebani biaya produksi. Pemerintah perlu menunjukkan perbandingan yang jelas antara biaya penerapan dan manfaat yang dihasilkan.

“Kalau dibandingkan kemanfaatannya lebih besar, ya berarti itu layak untuk investasi,” tegasnya.

Sementara itu, Direktur Utama Pupuk Indonesia, Rahmad Pribadi menyatakan, pihaknya berkomitmen mendukung upaya dekarbonisasi yang diarahkan pemerintah. Ia menyebut proyek CCU di Petrokimia Gresik telah menunjukkan konsep teknologi yang dapat dimanfaatkan dan menghasilkan produk bernilai guna.

“Hari ini kita menyaksikan proven concept, artinya teknologi baru yang sudah terbukti bisa dimanfaatkan, menghasilkan hal yang bermanfaat,” kata Rahmad.

Meski demikian, peningkatan proyek menjadi skala komersial masih membutuhkan perhitungan lebih lanjut. Rahmad mengatakan Pupuk Indonesia akan menghitung aspek keekonomian ketika teknologi tersebut dikembangkan ke skala yang lebih besar.

    Share Article
    Editorial Team

    Related Articles

    See More