Surabaya, IDN Times - Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Jawa Timur menyiapkan posko pemulangan Pekerja Migran Indonesia (PMI) menjelang arus mudik Lebaran 2026. Posko tersebut difungsikan untuk pendataan sekaligus pemberian layanan informasi bagi para pekerja migran yang kembali ke daerah asal.
Kepala Disnakertrans Jatim, Sigit Priyanto, mengatakan pendataan terhadap PMI yang pulang rutin dilakukan setiap tahun, terutama pada periode H-7 hingga H+7 Lebaran yang biasanya mengalami lonjakan.
“Kami sudah rutin melakukan pendataan terhadap teman-teman pekerja migran Indonesia. Mereka sudah siap untuk melakukan pendataan dan juga menerima informasi dari kami,” ujar Sigit.
Berdasarkan data tahun lalu, tercatat sebanyak 2.459 PMI pulang ke Jatim pada periode H-7 dan H+7 Lebaran. Tahun ini, jumlahnya diperkirakan tidak jauh berbeda, dengan catatan tidak ada kebijakan efisiensi di negara penempatan yang memengaruhi kepulangan.
“Kalau tahun kemarin 2.459 orang pada H-7 dan H+7. Tahun ini mudah-mudahan stabil, tidak ada efisiensi di luar negeri,” katanya.
Sigit mengakui, data tersebut merupakan PMI yang melapor atau tercatat di sistem. Di luar itu, masih ada pekerja migran yang pulang tanpa melapor. “Biasanya yang berhasil dan sukses tidak melapor. Tapi yang tidak sukses atau dipulangkan baru melapor ke kami. Karena itu kami minta dibantu agar pendataan lebih mudah,” jelasnya.
Disnakertrans Jatim juga mengimbau para PMI agar berhati-hati saat membawa uang dalam jumlah besar, terutama dalam bentuk mata uang asing. Ia menyarankan agar kepulangan dijemput keluarga untuk mengurangi potensi risiko.
“Kalau membawa uang dolar atau uang asing agar berhati-hati. Kalau bisa dijemput keluarga. Biasanya kalau membawa uang banyak langsung menyewa mobil lalu mampir-mampir. Ini yang perlu diantisipasi,” tegasnya.
Terkait transportasi, menurut Sigit, kepulangan PMI umumnya difasilitasi oleh perusahaan penempatan jika masih terikat kontrak. Jika tidak, biasanya dijemput oleh keluarga masing-masing.
