Surabaya, IDN Times - Di media sosial warga Surabaya mengeluh soal penutupan sejumlah ruas jalan di Kota Pahlawan akibat adanya event lari maraton yang digelar, Minggu (5/10/2026). Pemerintah Kota Surabaya pun buka suara.
Kepala Dinas Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga serta Pariwisata Kota Surabaya, Herry Purwadi mengatakan, pihaknya memohon maaf kepada warga Surabaya bila selama event tersebut berlangsung perjalannya warga terganggu. Event seperti ini juga tidak berlangsung setiap minggu. "Tentu saja kami mohon maaf yang sebesar-besarnya kepada seluruh warga Kota Surabaya apabila perjalanannya ada yang terganggu," ujarnya saat konferensi pers, Minggu (4/10/2026).
Herry menuturkan walaupun mengorbankan pengguna jalan, lomba lari ini tersebut disebut telah berkontribusi terharap perekonomian di Kota Surabaya. Apalagi, hampir 40 persen peserta lomba berasal dari luar Surabaya dan satu persen dari luar negeri. "Tetapi berpikirlah kita kembali bahwa acara yang kita saksikan saat ini, bagaimana bisa meningkatkan perputaran ekonomi yang sangat luar biasa di Kota Surabaya," terang dia.
Lewat event lari seperti ini, Surabaya akan semakin dikenal. Terlebih, para peserta yang datang ke Surabaya bukan cuma untuk lari, tapi juga berwisata hingga menikmati kulinernya. "Sport tourism juga perlu kami tingkatkan kembali. Kami bangga, seperti tadi disampaikan bahwa rute-rute yang akan dilalui oleh para pelari, para runners, itu melewati destinasi-destinasi wisata yang memang ditumbuhkembangkan oleh Pemerintah Kota Surabaya," ucapnya.
Event lomba lari, Surabaya ISOPLUS Marathon 2026 ini disebut mempu menghasilkan perputaran ekonomi dari kegiatan yang digelar pada Minggu (4/10/2026) ini mencapai Rp74,78 miliar. Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, mengatakan, setidaknya ada 11 ribu pelari yang ikut dalam lomba tersebut. Jumlah itu telah memicu pergerakan ekonomi dari berbagai sektor dan berkontribusi terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Surabaya hingga Rp41 miliar.
"Hari ini dilakukan kembali Isoplus Marathon 2026 di Kota Surabaya. Ini menunjukkan bahwa Surabaya memang menjadi salah satu pilihan utama untuk lari maraton di Indonesia. Partisipasinya mencapai 11 ribu peserta lebih dan dampaknya sangat luar biasa, terutama pada peningkatan okupansi hotel dan sektor pariwisata," ujarnya.
Eri menyebut, berkat sport tourism tingkat okupansi kamar hotel di Surabaya melonjak drastis hingga menyentuh 90 persen selama gelaran berlangsung. Sebab, 40 persen pelari berasal dari luar Kota Surabaya.
“Okupansi hotel meningkat 80 sampai 90 persen, karena 40 persen berasal dari luar kota Surabaya, dan 1 persen di antaranya merupakan pelari mancanegara dari Australia, Jepang, Filipina, hingga India,” pungkas dia.
