Memutar Masa Lalu di Tengah Musik Digital

Dhani Kusuma merintis Djadoelrek di Surabaya sejak ketertarikannya pada radio bekas pada 2018, lalu memfokuskan usaha pada perangkat audio analog portabel sejak 2025.
Bisnis audio lawas menghadapi restorasi mahal dan kelangkaan suku cadang; Dhani kerap memakai komponen perangkat sejenis serta mulai mendatangkan barang dari Jepang.
Minat terhadap kaset, Walkman, dan Discman menjangkau Gen Z serta pembeli lintas kota, mendorong Dhani merencanakan ruang komunal untuk mendengarkan musik analog bersama.
Surabaya, IDN Times - Di sudut ruang yang dipenuhi benda-benda lawas, waktu seolah berjalan dengan cara berbeda. Sebuah boombox JVC berwarna perak bertengger di atas meja kayu, berdampingan dengan pemutar kaset TEAC, televisi saku, jam weker bundar, dan sejumlah mainan yang menyimpan jejak zaman.
Di sudut lain, sepeda motor klasik berwarna cokelat keemasan berdiri dengan gagah. Sebuah helm retro putih bertengger di atas tangkinya, sementara piringan hitam menghiasi dinding semen yang dibiarkan tampil apa adanya.
Di tengah lanskap nostalgia itu, Dhani Kusuma duduk santai, menikmati. Tatapannya tertuju pada perangkat audio di hadapannya. Jemarinya akrab dengan tombol-tombol yang bagi sebagian orang mungkin terasa asing. Ada tombol play, rewind, fast forward, hingga deretan pengatur suara yang harus disentuh dengan cermat agar mesin tua itu kembali bekerja sebagaimana mestinya.
Tak ada layar ponsel yang dipenuhi rekomendasi lagu. Tak ada daftar putar yang bisa diganti hanya dengan sekali usap. Untuk menikmati musik di perangkat semacam itu, seseorang perlu memasukkan kaset, menekan tombol, lalu menunggu pita magnetik bergerak dan suara mengalun dari speaker.
Ruang yang menjadi bagian dari Djadoelrek, usaha yang ia rintis di Surabaya, bukan sekadar tempat memajang atau memperjualbelikan perangkat audio lawas. Setiap benda memiliki karakter, cerita, dan kemungkinan untuk menghidupkan kembali ingatan yang pernah tersimpan.
Radio yang dahulu menemani pagi, tape yang mengiringi perjalanan, hingga Walkman yang pernah menjadi teman di masa sekolah, semuanya memiliki tempat tersendiri dalam ingatan orang-orang yang pernah menggunakannya.
Di tengah zaman ketika jutaan lagu tersedia dalam genggaman, Dhani memilih menekuni sesuatu yang justru membutuhkan kesabaran. Ia mengumpulkan, membersihkan, memperbaiki, dan menjual kembali perangkat audio analog. Bukan semata karena barang-barang itu terlihat klasik, melainkan karena ia percaya ada pengalaman mendengarkan musik yang tidak sepenuhnya tergantikan oleh teknologi digital.
Perjalanan Dhani menekuni dunia audio lawas sebenarnya bermula dari sebuah ketidaksengajaan. Pada 2018, ia pergi ke pasar loak bersama teman-temannya yang tergabung dalam klub mobil tua. Tujuan mereka saat itu cukup sederhana, mencari suku cadang kendaraan. Namun, di antara tumpukan barang bekas, perhatian Dhani justru tertarik pada sebuah radio.
Ia kemudian memutuskan membelinya, meski kondisinya sudah tidak prima. Beruntung, salah seorang temannya memiliki keterampilan memperbaiki perangkat elektronik lawas. Radio itu pun mendapat kesempatan untuk kembali berfungsi.
"Saya mulainya itu iseng-iseng sama teman. Waktu itu teman ke pasar loak, kebetulan cari sparepart mobil. Kami kan saya sama klub mobil tua. Waktu itu cari sparepart, terus saya lihat radio," kenang Dhani kepada IDN Times.
Pembelian yang semula hanya didorong rasa tertarik itu ternyata membuka pintu menuju kegemaran baru. Setelah radio pertama, ia mulai mencari perangkat lain, terutama boombox, perangkat audio portabel berukuran relatif besar yang populer pada era 1980-an dan dikenal dengan bentuknya yang khas.
Dhani merasa ada sesuatu yang akrab dari benda-benda tersebut. Ia teringat masa ketika radio dan tape menjadi bagian dari keseharian keluarga. Musik tidak selalu hadir melalui perangkat pribadi seperti sekarang. Suara dari radio atau kaset kerap memenuhi ruang rumah, didengarkan bersama anggota keluarga, bahkan menjadi latar berbagai aktivitas sehari-hari.
"Saya sudah lama enggak punya radio. Dulu kan dengarnya radio, radio, tape. Akhirnya saya beli. Kondisinya jelek waktu itu, terus dibenerin teman. Kebetulan teman bisa benerin. Akhirnya keranjingan," ujarnya.
Sejak 2018 hingga 2019, ketertarikan itu semakin berkembang. Dhani makin sering berburu perangkat audio lawas. Dari kegiatan mencari barang, ia mulai memahami karakter masing-masing perangkat, bentuk yang diminati kolektor, serta kondisi yang menentukan apakah sebuah barang masih layak digunakan atau membutuhkan restorasi.
Ada satu hal yang terus membuatnya kembali mencari perangkat analog. Karakter suaranya. Suara yang dihasilkan kaset pita melalui perangkat analog memiliki kesan hangat dan tebal. Karakter itu membawanya kembali pada pengalaman mendengarkan musik ketika masih kecil dan duduk di bangku sekolah.
"Suara vintage banget. Cenderung warm, hangat, dan juga nostalgianya kembali. Jadi teringat, oh iya zaman dulu. Waktu SMP, waktu SD, orang tua nyetel," katanya.
Dari situlah benda-benda lawas mulai memiliki makna lebih dari sekadar barang elektronik bekas. Radio yang sebelumnya hanya dipandang sebagai perangkat tua berubah menjadi penghubung dengan masa lalu. Sebuah tape bukan cuma mesin pemutar kaset, melainkan juga pengingat akan lagu-lagu yang pernah akrab di telinga dan suasana rumah yang mungkin sudah lama berubah.
Ketertarikan itu kemudian berkembang menjadi kegiatan jual beli. Pada awalnya, toko yang dirintis Dhani tidak hanya berisi perangkat audio. Beragam barang lawas, mulai dari mainan, pajangan, hingga jam, turut menjadi bagian dari koleksinya. Namun, seiring waktu, ia mulai menemukan bidang yang paling ingin ditekuni.
Pada 2025, Dhani memutuskan untuk lebih serius memusatkan usahanya pada audio portabel dan perangkat analog. Barang-barang lain yang sebelumnya mengisi toko mulai dilepas agar ia bisa memberi perhatian lebih besar pada perangkat yang menjadi minat utamanya.
"Di 2025 memang baru yang khusus, tapi barang saya sudah banyak sebenarnya. Jadi yang mainan dan segala macam itu saya mulai lepas. Akhirnya fokus ke audio portable, seperti Walkman, radio, radio yang pure radio, dan kadang-kadang juga turntable," tuturnya.
Fokus itu menjadi bagian dari identitas Djadoelrek. Selain perangkat audio, motor tua juga menjadi elemen yang memperkuat karakter ruang usahanya. Keduanya memiliki kesamaan dalam pandangan Dhani. Benda-benda yang pernah berjaya pada masanya masih memiliki daya tarik selama dirawat dan dipahami dengan baik.
Dunia jual beli barang lawas pun menghadirkan pengalaman yang kadang sulit ditebak. Dhani pernah membeli sebuah radio boombox dalam kondisi mati, kemudian berhasil menjualnya dengan harga lima kali lipat dari harga pembelian. Ia hanya membersihkan perangkat tersebut sebelum menawarkannya kepada calon pembeli.
"Saya beli radio, waktu itu radio boombox. Saya bisa jual kondisi mati. Harganya bisa lima kali lipat dari saya beli. Cukup saya bersihkan waktu itu. Teman saya bingung, 'Kok bisa jual radio mati?'" kata Dhani sambil tertawa.
Fenomena tersebut terjadi pada masa pandemik COVID-19, ketika aktivitas masyarakat banyak dibatasi. Pada periode itu, perangkat audio lawas tidak hanya dicari untuk digunakan, tetapi juga dimanfaatkan sebagai pajangan dan elemen dekorasi. Bentuknya yang khas membuat radio atau tape lawas menarik ditempatkan di rumah, studio, maupun ruang usaha yang mengusung konsep retro.
Sebagian pembeli menilai, fungsi barang mungkin bukan lagi satu-satunya pertimbangan. Tampilan, kelangkaan, dan nilai kenangan ikut menentukan daya tariknya. Sebuah boombox dengan tombol besar dan bodi kokoh, misalnya, menawarkan pengalaman visual yang berbeda dari speaker modern yang dirancang semakin ringkas.
Namun, ketertarikan terhadap barang vintage tidak serta-merta membuat bisnisnya mudah dijalankan. Di balik tampilannya yang menarik, perangkat elektronik lawas menyimpan persoalan teknis yang cukup rumit. Usia pemakaian yang panjang membuat sejumlah komponen aus, rusak, atau bahkan sudah tidak diproduksi lagi.
Dhani memahami betul bahwa membeli barang murah di pasar loak hanyalah tahap awal. Tantangan sesungguhnya muncul ketika perangkat itu harus dikembalikan ke kondisi yang layak digunakan. "Kalau yang di pasar loak memang belinya murah. Restorasinya ternyata cukup menantang. Di samping harga restorasi itu bisa tiga sampai empat kali lipat dari harga saya beli," katanya.
Komponen berbahan karet, seperti belt yang berfungsi menggerakkan mekanisme pemutar kaset, relatif masih bisa ditemukan. Persoalannya berbeda ketika kerusakan terjadi pada bagian mekanis yang lebih spesifik. Pada kondisi tertentu, Dhani harus mencari perangkat lain dengan seri yang sama untuk mengambil komponen yang masih berfungsi.
Praktik yang biasa disebut kanibalisasi komponen itu menjadi salah satu cara untuk mempertahankan perangkat lawas. Sebuah mesin yang rusak belum tentu bisa diperbaiki hanya dengan mengganti satu bagian menggunakan suku cadang baru. Kadang-kadang, solusinya justru berasal dari perangkat lain yang juga sudah berumur.
"Kalau mekanis itu kita harus kanibal-kanibal. Dengan device yang sama, seri yang sama, kemudian baru kita bisa ambil sparepart-nya. Itu akhirnya membuat cost-nya semakin mahal," ungkapnya.
Dalam hal ini, kondisi barang menjadi pertimbangan penting dalam menentukan harga jual. Perangkat yang tampak serupa belum tentu memiliki nilai yang sama. Kelengkapan komponen, tingkat kerusakan, kelangkaan, hingga kemungkinan untuk diperbaiki ikut menentukan harga akhirnya.
Di Djadoelrek, rentang harga perangkat audio lawas cukup lebar, mulai sekitar Rp250 ribu hingga lebih dari Rp3 juta. Ada perangkat yang relatif terjangkau bagi pembeli pemula, tetapi ada pula barang tertentu yang membutuhkan dana lebih besar karena modelnya langka atau kondisinya lebih terjaga.
Salah satu perangkat yang menarik perhatian kolektor adalah Sony TPS-L2, Walkman generasi awal yang semakin dikenal luas setelah tampil dalam film Guardians of the Galaxy. Perangkat itu menjadi contoh bagaimana barang elektronik yang dahulu dirancang untuk kebutuhan sehari-hari dapat berubah menjadi benda koleksi bernilai tinggi.
Untuk sejumlah model, Dhani memilih memperoleh barang dari kolektor atau pemilik lama, bukan semata mengandalkan pasar loak. Pertimbangannya adalah kondisi perangkat dan kelangkaan model yang dicari. Semakin sulit barang ditemukan, semakin besar pula upaya yang dibutuhkan untuk mendapatkannya dalam kondisi baik.
Di tengah berbagai urusan teknis tersebut, ada perkembangan yang membuat Dhani melihat masa depan audio analog dengan lebih optimistis. Pasarnya ternyata tidak hanya dihuni orang-orang yang pernah tumbuh bersama radio, kaset, dan Walkman. Generasi yang lahir ketika musik digital sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari juga mulai tertarik.
Dhani melihat munculnya pembeli dari kalangan Generasi Z sebagai fenomena yang menarik. Sebagian dari mereka datang untuk membeli perangkat analog tanpa pernah benar-benar menggunakan kaset pita sebelumnya. Ada pula yang tertarik pada Discman, pemutar CD portabel yang dahulu populer sebelum musik berbasis ponsel menguasai keseharian.
"Ada yang beli Gen Z yang bahkan enggak pernah tahu kaset pita itu seperti apa. Saya juga jual Discman, CD bagaimana cara play-nya. Setelah beli ada trouble, baru dia tanya, 'Lho Mas, gimana nih caranya?' Ternyata belum pernah," katanya.
Situasi ini menempatkan Dhani dalam peran yang lebih luas daripada sekadar penjual. Ia juga perlu menjelaskan cara kerja perangkat, mulai dari memasukkan kaset, mengoperasikan tombol, hingga memahami perawatan dasar agar barang tidak mudah rusak.
Bagi pembeli yang sudah terbiasa dengan layanan musik digital, menggunakan perangkat analog membutuhkan penyesuaian. Mereka harus memahami bahwa kaset memiliki pita fisik yang bisa kusut atau mengalami penurunan kondisi. Pemutar kaset pun membutuhkan mekanisme yang bekerja dengan baik agar suara dapat keluar secara optimal.
Namun, justru pengalaman baru itulah yang menjadi bagian dari daya tariknya. Generasi muda tidak selalu mencari perangkat dengan spesifikasi teknis terbaik. Dalam beberapa kasus, bentuk yang unik, ukuran yang ringkas, dan kesan berbeda ketika digunakan menjadi alasan yang cukup kuat untuk membeli.
Dhani menyebut Sony TCM-150 yang dilengkapi speaker serta Walkman berbodi tipis sebagai beberapa jenis perangkat yang diminati pembeli muda. Secara kualitas audio, perangkat tertentu mungkin tidak menjadi pilihan utama bagi pendengar yang mengutamakan kejernihan suara. Namun, desain dan portabilitasnya memiliki daya tarik tersendiri.
"Secara kualitas audio bagi kita mungkin kurang. Tetapi Gen Z juga yang penting portable. Walkman yang slim juga mereka suka karena lebih eye-catching. Bentuknya lucu-lucu," ucapnya.
Ketertarikan terhadap rilisan fisik turut membuka jalan bagi kembalinya perangkat analog ke perhatian publik. Dhani melihat sejumlah musisi yang merilis karya dalam format kaset ikut memancing rasa ingin tahu generasi muda. Ia mencontohkan Silampukau dan Bernadya sebagai musisi yang karyanya hadir dalam format fisik dan menarik perhatian pendengar.
"Musisi sekarang ada yang seperti Silampukau sudah mulai rilis kaset, Bernadya harganya mahal ternyata kasetnya. Itu akhirnya mulai memancing Gen Z untuk main rilisan fisik," ujarnya.
Kehadiran rilisan fisik memberi pengalaman berbeda dibandingkan mendengarkan lagu melalui layanan streaming. Musik tidak hanya hadir sebagai berkas digital yang bisa diputar kapan saja, tetapi juga sebagai benda yang dapat disimpan, disentuh, dan dikoleksi. Sampul kaset, bentuk kemasan, hingga proses memutar pita menjadi bagian dari pengalaman yang menyertai lagu.
Bagi generasi yang tumbuh pada era kaset, pengalaman itu mungkin terasa akrab. Namun, bagi sebagian anak muda, semuanya justru menjadi sesuatu yang baru. Apa yang dahulu dianggap biasa kini dapat menjadi pengalaman yang menarik untuk dicoba.
Perubahan tersebut juga terlihat dari jangkauan pasar Djadoelrek. Meski usahanya berada di Surabaya, Dhani menyebut banyak pelanggannya berasal dari kota lain, seperti Jakarta, Bandung, hingga Makassar. Jaringan pembeli itu menunjukkan bahwa ketertarikan terhadap perangkat audio lawas tidak terbatas pada satu kota atau kelompok usia.
Di Surabaya, ia melihat pertumbuhan kafe dan beragam skena musik berpotensi memberi ruang lebih luas bagi budaya mendengarkan musik secara kolektif. Tempat-tempat yang menghadirkan pengalaman musik berbeda dapat menjadi titik temu bagi orang-orang dengan ketertarikan serupa.
"Saya di Surabaya memang agak jarang main. Banyak customer saya justru di luar Surabaya, Jakarta, Bandung, Makassar. Kalau Surabaya, dengan adanya kafe-kafe dan skena-skena semakin banyak, kayaknya juga semakin banyak," katanya.
Dari pengamatannya terhadap pasar dan komunitas, Dhani menyimpan keinginan untuk mengembangkan Djadoelrek lebih jauh. Ia ingin menghadirkan ruang komunal di Surabaya, tempat orang-orang bisa berkumpul dan menikmati musik analog bersama.
Ia juga membayangkan sebuah ruang dengan perangkat audio yang disediakan untuk didengarkan, sehingga pengunjung tidak hanya datang untuk membeli barang, tetapi juga merasakan pengalaman yang selama ini menjadi alasan Dhani mencintai audio lawas.
"Saya memiliki keinginan membuat komunal space di Surabaya untuk mendengarkan lagu analog bersama, dengan saya menyediakan alat audio analog," katanya.
Gagasan itu terasa sejalan dengan karakter perangkat yang ia kumpulkan. Mendengarkan kaset bukan sekadar urusan memilih lagu. Ada proses memasukkan pita, menekan tombol, menikmati lagu yang diputar, lalu membalik kaset ketika satu sisi selesai.
Pengalaman itu mengajak pendengarnya untuk sedikit memperlambat ritme, memberi perhatian pada musik, dan menikmati lagu tanpa terus-menerus berpindah ke pilihan berikutnya.
Tentu, Dhani tidak menutup mata terhadap kemudahan teknologi digital. Layanan streaming menawarkan akses praktis terhadap katalog musik yang sangat luas. Pendengar bisa menemukan lagu lama maupun rilisan baru tanpa harus memiliki perangkat pemutar atau menyimpan media fisiknya. Namun, menurutnya, kemudahan tersebut tidak menghapus karakter yang ditawarkan kaset analog.
"Kalau saya lihat, kualitas digital yang Spotify, kita dengarkan lewat handphone, pribadi saya kualitasnya enggak bisa ngalahin kaset. Kaset analog itu suaranya tebal, treble-nya cenderung lebih halus dan lebih natural," katanya.
Ia merasakan suara analog memiliki karakter yang berbeda, terutama dari kesan hangat dan tebal yang dihasilkan perangkat tertentu. Meski kualitas suara pada akhirnya bergantung pada kondisi kaset, perangkat, rekaman, dan sistem pemutarnya, pengalaman mendengarkan bagi Dhani tidak semata-mata ditentukan oleh kejernihan atau ukuran teknis.
"Tidak bisa didapatkan di sound digital. Itu yang menjadikan kekuatan analog, karena pure warm, suaranya hangat dan tebal. Tebal dan clarity-nya juga oke," katanya.
Pandangan itu merupakan pengalaman personal yang tumbuh dari kebiasaannya mendengarkan dan mengutak-atik perangkat audio. Ada kepuasan tersendiri ketika sebuah mesin tua kembali berfungsi dan menghasilkan suara yang selama bertahun-tahun mungkin tidak lagi didengar pemilik sebelumnya.
Untuk mempertahankan perangkat-perangkat tersebut, Dhani juga mulai menjajaki pengadaan barang dan suku cadang dari Jepang. Bersama sejumlah temannya, ia berupaya mendatangkan perangkat maupun komponen yang masih tersedia di sana. Pilihan itu muncul karena beberapa kebutuhan semakin sulit dipenuhi jika hanya mengandalkan barang yang beredar di pasar lokal.
"Sparepart itu saya mulai merambah untuk datangin barang dari Jepang. Teman-teman saya bisa bantuin datangin barang dari Jepang. Kita mulai datangin karena memang sparepart di sana melimpah, cuma cost-nya lebih mahal," katanya.
Biaya yang lebih tinggi menjadi konsekuensi yang harus diperhitungkan. Namun, selama komponen masih bisa ditemukan dan perangkat masih memungkinkan untuk diperbaiki, selalu ada kesempatan untuk memperpanjang usia pakainya. "Tapi kalau demi kita menghidupi sesuatu yang kita pengin, ya kenapa enggak," kata Dhani.
Kalimat itu merangkum hubungan Dhani dengan dunia audio lawas. Ada biaya, waktu, dan tenaga yang harus dikeluarkan untuk merawat benda-benda yang sebagian orang mungkin anggap sudah usang. Ada pula risiko ketika perangkat yang dibeli ternyata menyimpan kerusakan lebih rumit daripada yang terlihat. Namun, semua itu tidak serta-merta membuatnya berhenti mencari.
Kini, di antara boombox yang berdiri di atas meja, Walkman yang bisa masuk ke saku, dan radio-radio tua yang menunggu menemukan pemilik baru, Dhani terus menjalankan usahanya. Ia merawat perangkat yang pernah menjadi bagian dari kehidupan banyak orang sekaligus memperkenalkannya kepada mereka yang baru mengenal dunia kaset dan radio analog.
Di ruang Djadoelrek, benda-benda itu seolah mempertemukan dua generasi dalam satu pengalaman. Mereka yang pernah tumbuh bersama kaset dapat menemukan kembali potongan masa lalu, sedangkan mereka yang lahir pada era digital memperoleh kesempatan untuk mengenal cara lain menikmati musik.
Dhani tidak sedang berusaha menghentikan kemajuan teknologi. Ia hanya ingin memastikan bahwa sesuatu yang pernah memberi pengalaman berarti tidak serta-merta kehilangan tempatnya ketika zaman berubah. Sebab, nilai sebuah benda tidak selalu selesai ketika fungsi utamanya tergantikan oleh teknologi yang lebih baru.
![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)



















