Marak Konten Sayat Lengan Pelajar di Bondowoso

Bondowoso, IDN Times – Tren menyayat tangan sedang marak di media sosial. Aksi ini ternyata diikuti oleh puluhan siswi SD di Situbondo, Jawa Timur. Mereka kedapatan menyayat tangannya sendiri menggunakan alat cek GDA (alat alkes) lantaran mengikuti tren. Saat ditanya alasannya, mereka mengaku hanya ingin viral. Aksi serupa ternyata juga dilakukan oleh sejumlah siswi SMP di Bondowoso.
1. Bukan jarum, tapi pakai cutter

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Bondowoso, Sugiono Eksantoso mengatakan bahwa ia mendapati laporan dari sekolah yang mendapati muridnya mengikuti tren sayat tangan tersebut. Namun bedanya, sejumlah siswi SD dan SMP di Bondowoso ini menyayat tangannya tidak menggunakan jarum sebagaimana digunakan pelajar di Situbondo. Alat sayat lengan yang digunakan kali ini terbilang lebih berbahaya dengan menggunakan cutter.
"Di Bondowoso ternyata ada juga, setelah kita kroscek kemarin, ada yang ditingkat SD dan SMP, alasan mereka lagi ngikuti gaya tren yang jika lagi frustasi menyayat diri sendiri menggunakan cutter kecil," ungkapnya, Rabu (11/10/2023).
2. Cek lengan rutin

Atas kasus ini, pihak dinas selanjutnya mengambil langkah tegas terhadap semua sekolahan. Salah satunya dengan melakukan pembinaan dan teguran tegas. Ini dilakukan sebagai upaya pencegahan agar murid tidak melakukan tindakan merugikan tersebut.
Berdasarkan investigasi yang dilakukan sejumlah sekolah, aksi menyayat lengan ini sudah dilakukan para pelajar pecandu media sosial di Bondowoso sejak beberapa pekan lalu. Hal tersebut dibuktikan dari bekas luka di lengan murid yang sudah mengering dan waktu konten tersebut diunggah di akun TikTok mereka.
"Kita berikan kebijakan yang tegas. Kita minta kepada lembaga di sekolah, bahwa setiap hari Senin siswa-siswi harus di sweeping. Baik yang sudah pernah melakukan ataupun yang belum melakukan," tegasnya.
3. Waspada penjual mainan keliling

Selain itu, Sugiono juga meminta semua kepala sekolah untuk menseterilkan lingkungan sekolah dari pedagang keliling yang kedapatan menjual benda tajam. Hal tersebut perlu dilakukannya guna meminimalisir potensi tren sayat lengan dimanfaatkan oleh oknum pedagang mainan untuk menjual jarum atau cutter yang biasa dipakai mereka.
"Kita juga minta agar para penjual di sekitar lingkungan sekolah agar bisa mengerti tentang bahaya yang sewaktu-waktu bisa menimpa anak didik kita," pungkasnya.

















