Lembaga Ini Sebut Kakek Prabowo Layak Jadi Pahlawan Nasional

Surabaya, IDN Times - Sygma Research and Consulting menilai RM Margono Djojohadikoesoemo yang juga kakek dari Presiden RI Prabowo Subianto, layak memperoleh gelar pahlawan nasional. Pernyataan itu disampaikan saat Forum Grub Duskusi (FGD) Kajian Historis Usulan Gelar Pahlawan Nasional di Aula PWI Jawa Timur, Surabaya, Jumat (25/10/204).
FGD tersebut menghadirkan empat orang narasumber kunci yakni Dekan Fakultas ilmu Budaya Universitas Airlangga (FIB Unair) sekeligus guru besar sejarah, Prof Dr Purnawan Basundoro, S.S., M.Hum, guru besar perbankan dan ekonom Unesa, Prof Drs Ec Abdul Mongid, M.A., Ph, Bupati Banyumas, Iwannudin Iskandar, S.H., M.Hum dan Ketua PWI Jatim Luthfil Hakim.
Komisaris Sygma Research and Consulting Yuristiarso Hidayat mengatakan, usulan tersebut telah mendapat persetujuan dari Bupati Banyumas. Banyumas merupakan makam Margono.
"Jatim ingin menjadi inisiator agar RM Margono Djojohadikoesoemo dapat meraih kehormatannya, saya berpikir beliau sangat berhak untuk itu," ujar Yuristiarso.
Nantinya, pihaknya akan melakukan kajian lebih dalam di sejumlah kota mengenai usulan Margono sebagai pahlawan nasional. Berbekal berbagai dokumen penting yang melibatkan sejarawan hingga peneliti.
"Kajian ini merupakan bagian dari upaya kami untuk mengenang dan mengapresiasi peran beliau yang sudah sepantasnya mendapatkan gelar Pahlawan Nasional, sekaligus sebagai bentuk kontribusi kami dalam memperkaya literatur sejarah Indonesia," kata Komisaris Sygma Research and Consulting, Anna Luthfie.
FGD tersebut membahas historis dan membedah peran RM Margono Djojohadikoesoemo dalam sejarah Bangsa Indonesia. Dalam diskusi tersebut, mereka sepakat bahawa kakek Prabowo itu layak menyandang gelar pahlawan nasional.
Raden Mas Margono Djojohadikoesoemo atau RM Margono Djojohadikoesoemo merupakan ayah dari Prof Dr Soemitro Djojohadikoesoemo, Prof Dr Soemitro adalah ayah dari Presiden Prabowo. Ia lahir pada 16 Mei 1894 silam di Purwokerto.
Ayah Margono, merupakan seorang priyayi yang menjadi pegawai pemerintah kolonial Belanda. Dia merupakan cucu buyut Raden Tumenggung Banyakwide atau dikenal sebagai Panglima Banyakwide, pengikut setia Pangeran Diponegoro.
Keluarga dari RM Margono Djojohadikusoemo merupakan pejuang. Dua kakaknya yaitu Kapten Anumerta Soebianto Djojohadikoesoemo dan Taruna Soejono Djojohadikoesoemo gugur pada Pertempuran Lengkong. Nama kedua kakak RM Margono yang gugur itu kemudian digunakan menjadi namanya cucu-cucunya. Yakni Prabowo Subianto dan adiknya Hashim Sujono.
"Cucu adalah bentuk dari keberhasilan seorang eyang," ujar Prof Drs Ec Abdul Mongid, selaku akademisi.
Margono memulai pendidikan di Europeesche Lagere School (sekolah dasar kolonial) pada tahun 1901. Pada tahun 1907, ia melanjutkan pendidikan di Opleiding School Voor Indlandsche Ambtenaren (OSVIA, sekolah pegawai negeri) di Magelang hingga tahun 1911.
Di era Presiden Soekarno-Hatta, Margono mengusulkan pembentukan Bank Sentral atau Bank Sirkulasi seperti yang dimaksud UUD 1945. Dirinya juga mendapat mandat dari Soekarno-Hatta untuk mengerjakan persiapan pembentukan Bank Sentral (Bank Sirkulasi) Negara Indonesia pada tanggal 16 September 1945.
Kemudian pada 15 Juli 1946, terbit Perppu Nomor 2 tahun 1946 tentang pendirian Bank Negara Indonesia (BNI). Margono Djojohadikoesoemo pun ditunjuk sebagai Direktur Utama BNI.
"Beliau melakukan operasional bank yang baru berdiri agar efisien, ini tentu tidak mudah," ungkap Prof Abdul.
Selama menjabat sebagai Dirut BNI, Margono memastikan bank beroperasi secara efisien di tengah tantangan perjuangan bangsa Indonesia merebut kemerdekaan. Di massa itu, Margono juga berusaha untuk menstabilkan ekonomi dan keuangan negara.
Selain itu dalam ketatanegaraan Indonesia, Margono berjasa dalam memunculkan ide hak angket DPR RI pada tahun 1950-an. Ia juga mengusulkan resolusi agar DPR mengadakan hak angket atas usaha memperoleh devisa dan cara mempergunakan devisa.
RM Margono Djojohadikoesoemo kemudian meninggal dunia pada 25 Juli 1978 di Jakarta. Ia dimakamkan di pemakaman keluarga, Desa Dawuhan, Banyumas, Jawa Tengah. Saat itu, Gubernur Jakarta Ali Sadikin datang melayat.
Nama RM Margono Djojohadikoesoemo kemudian diabadikan menjadi salah satu nama jalan di Jakarta. Kisah kehidupannya juga menjadi inspirasi pembuatan film Merah Putih. Bahkan namanya juga terpatri sebagai Gedung RM Margono Djojohadikoesoemo di Universitas Gajah Mada.

















