Surabaya, IDN Times - Pusat layanan kesehatan jantung khusus anak kini ada dan Surabaya, tepatnya di RS Royal Surabaya. Pusat layanan dengan nama HOPE yang merupakan Royal Pediatric Heart Center.
Layanan ini dibentuk dengan latar belakang tingginya penyakit jantung pada anak. Setiap tahun, ribuan bayi di Indonesia lahir dengan kelainan jantung bawaan. Sebagian terdeteksi sejak dini, tetapi tidak sedikit yang baru diketahui setelah muncul gejala yang berulang. Berat badan tak kunjung naik, napas cepat, tubuh mudah lelah, atau infeksi saluran pernapasan yang datang silih berganti. Dalam banyak kasus, keterlambatan diagnosis menjadi faktor yang memperberat kondisi anak.
HOPE difokuskan sebagai layanan komprehensif kesehatan jantung anak, mulai dari skrining, diagnosis, hingga tindakan intervensi dan pemantauan lanjutan.
Berlokasi di Gedung B RS Royal Surabaya, pusat layanan ini dilengkapi perangkat diagnostik dan intervensi modern untuk menangani berbagai kasus, termasuk Ventricular Septal Defect (VSD), Atrial Septal Defect (ASD), serta sejumlah kelainan jantung bawaan lain pada bayi dan anak.
Layanan juga mencakup pemantauan berkelanjutan pasca tindakan guna memastikan proses tumbuh kembang tetap berjalan optimal.
Dipimpin oleh Dr. dr. I Ketut Alit Utamayasa, Sp.A(K), dokter spesialis anak konsultan kardiologi anak yang telah lama berpraktik di Surabaya, pusat layanan ini berada di bawah arahan sosok dengan rekam jejak klinis yang matang di bidang kardiologi pediatrik.
Ia dikenal memiliki pengalaman luas dalam menangani berbagai kasus kelainan jantung bawaan (Congenital Heart Disease/CHD) pada bayi dan anak, termasuk tindakan intervensi dengan tingkat kompleksitas tinggi yang menuntut ketelitian, presisi, dan pertimbangan klinis yang mendalam.
Menurut Dr. Ketut Alit, tantangan terbesar dalam penanganan kelainan jantung anak bukan semata pada tindakan medis, melainkan pada deteksi dini.
“Gejalanya sering tidak khas. Anak dengan berat badan sulit naik, napas lebih cepat dari normal, atau sering mengalami infeksi saluran pernapasan berulang perlu dicurigai dan diperiksakan lebih lanjut. Semakin cepat terdeteksi, semakin baik hasil penanganannya,” ujarnya, Jumat (10/4/2026).
Ia menjelaskan bahwa penyebab kelainan jantung bersifat multifaktorial, mulai dari faktor genetik, infeksi, hingga paparan lingkungan seperti polusi dan kebiasaan merokok.
"Perkembangan teknologi diagnostik membuat lebih banyak kasus kini dapat diidentifikasi lebih awal, namun ketersediaan layanan dan tenaga ahli masih menjadi tantangan di berbagai daerah," katanya.
Direktur RS Royal Surabaya, dr. Deny, M.M., CPM (Asia), FISQua, mengatakan bahwa pembentukan HOPE merupakan respons terhadap kebutuhan tersebut. Menurutnya, fasilitas seperti cath lab dan mesin ekokardiografi merupakan komponen penting dalam layanan jantung anak, tetapi ketersediaan dokter dengan kompetensi intervensi khusus tetap menjadi faktor penentu.
“Jumlah dokter dengan keahlian intervensi jantung anak di Indonesia masih terbatas, sementara beban kasus cukup besar. Karena itu, ketika sumber daya manusia dan fasilitas siap, kami memandang perlu membangun layanan yang lebih terfokus,” kata dr. Deny.
Selama ini, layanan jantung anak di Jawa Timur masih terpusat pada rumah sakit rujukan tertentu, sehingga waktu tunggu tindakan menjadi tantangan tersendiri bagi pasien. Kehadiran pusat layanan tambahan diharapkan dapat membantu memperluas akses dan mempercepat penanganan, terutama pada kasus yang memerlukan intervensi segera.
"Di Indonesia, kelainan jantung bawaan masih menjadi salah satu penyebab utama morbiditas pada anak. Dengan meningkatnya kesadaran, deteksi lebih dini, serta pemerataan layanan subspesialistik, peluang anak untuk tumbuh dan berkembang secara optimal semakin terbuka. Upaya memperluas kapasitas layanan di daerah menjadi bagian penting dalam menjawab tantangan tersebut," jelas dr Deny.
