Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Khofifah Nilai NU Kian Relevan di Usia 1 Abad

IMG-20260208-WA0013.jpg
Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa saat di Harlah 1 Abad NU di Malang. Dok. Pemprov Jatim.
Intinya sih...
  • Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, menilai NU relevan di usia 1 abad.
  • NU konsisten mengedepankan Islam moderasi dan merawat tradisi, toleransi, dan kebangsaan.
  • Pesantren NU menjadi pusat pengkaderan ulama dan rumah besar umat yang terbuka serta inklusif.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Malang, IDN Times - Gubernur Jawa Timur (Jatim) Khofifah Indar Parawansa menilai Nahdlatul Ulama (NU) telah mengalami perkembangan signifikan sepanjang satu abad perjalanannya, dari organisasi keagamaan berbasis tradisi pesantren hingga menjadi kekuatan sosial yang berkontribusi besar dalam pembangunan peradaban dan persatuan bangsa.

Hal itu disampaikan Khofifah saat menghadiri puncak Mujahadah Kubro Satu Abad NU di Stadion Gajayana, Kota Malang, Minggu (8/2/2026).

Menurut Khofifah, NU mampu bertahan dan terus relevan selama 100 tahun karena konsisten mengedepankan Islam moderasi atau Islam wasathiyah yang menyeimbangkan nilai keagamaan, tradisi, dan kebangsaan.

“Selama satu abad, NU tidak hanya menjaga ajaran Ahlussunnah wal Jamaah, tetapi juga merawat tradisi, toleransi, dan kebangsaan. Inilah yang membuat NU terus tumbuh dan diterima lintas generasi,” ujarnya.

Khofifah menjelaskan, perkembangan NU tidak terlepas dari peran jaringan pesantren yang tersebar luas di seluruh Indonesia. Pesantren NU dinilai menjadi pusat pengkaderan ulama, ruang penguatan karakter umat, sekaligus fondasi pengembangan ilmu pengetahuan.

“Pesantren-pesantren NU menjadi tempat bertumbuhnya peradaban, membekali umat dengan ilmu agama dan ilmu pengetahuan yang relevan dengan perkembangan zaman,” jelasnya.

Khofifah menyebut, NU juga berkembang sebagai rumah besar umat yang terbuka dan inklusif. Di tengah dinamika internal dan perubahan sosial, NU tetap mampu menjaga harmoni serta merangkul berbagai kalangan demi persatuan bangsa.

“NU itu rumah besar. Kokoh, teduh, dan penuh toleransi. Dinamika yang ada justru menjadi kekuatan untuk terus merawat persatuan,” katanya.

Sebagai Ketua Umum Dewan Pembina PP Muslimat NU, Khofifah menegaskan bahwa NU yang didirikan pada 1926 tidak diperuntukkan bagi kelompok tertentu, melainkan untuk seluruh umat Islam di Indonesia.

“NU bukan hanya milik satu kelompok, tetapi menjadi wadah umat Islam secara keseluruhan yang terus berkontribusi bagi bangsa dan negara,” tegasnya.

Menurut Khofifah, memasuki abad kedua, tantangan NU semakin kompleks, mulai dari perubahan sosial, perkembangan teknologi, hingga dinamika global. Namun, ia optimistis NU akan tetap menjadi pilar moderasi dan perekat kebangsaan Indonesia.

“Dengan pengalaman satu abad, NU memiliki modal sosial dan spiritual yang kuat untuk terus berperan menjaga Indonesia yang damai, toleran, dan berkeadaban,” pungkasnya.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Zumrotul Abidin
EditorZumrotul Abidin
Follow Us

Latest News Jawa Timur

See More

Pesan Kader Muda NU Usai Mujahadah Kubro Satu Abad NU

08 Feb 2026, 13:57 WIBNews