Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Puluhan Guru di Jatim Jelajahi Rumah Ibadah, Belajar Rawat Kemajemukan

IMG-20260207-WA0157.jpg
Peserta Workshop Literasi Keagamaan Lintas Budaya saat kunjungan di Gereja Kristen Indonesia Pregolan Bunder Surabaya. (IDN Times/Khusnul Hasana)
Intinya sih...
  • Puluhan guru di Jatim belajar merawat kemajemukan di rumah ibadah Surabaya melalui program LKLB.
  • Program LKLB bertujuan membangun kompetensi untuk bekerja sama dengan mereka yang berbeda agama dan kepercayaan.
  • Program LKLB telah menarik minat sejumlah negara di Asia Tenggara, termasuk Filipina dan Vietnam.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Surabaya, IDN Times - Puluhan guru dari berbagai wilayah di Jawa Timur menjelajahi rumah ibadah yang ada di Kota Surabaya untuk belajar merawat kemajemukan, Sabtu (7/2/2026). Kegiatan itu digelar oleh Institut Leimena melalui program Hybrid Upgrading Workshop Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKLB).

Setidaknya ada 40 orang yang mengikuti kegiatan tersebut, mereka terdiri dari 34 guru, dan sisanya ormas keagamaan, serta kementerian/lembaga. Guru dan ormas keagamaan dianggap sebagai agen-agen perubahan dalam masyarakat untuk mengatasi tantangan intoleransi dan bahaya xenophobia.

Mereka diajak untuk berkunjung di dua rumah ibadah yang berada di Surabaya. Pertama di Gereja Kristen Indonesia Pregolan Bunder, dan kedua di Masjid Jendral Sudirman. Para peserta sangat antusias berinteraksi dengan tuan rumah masing-masing tempat ibadah.

Direktur Eksekutif Institut Leimena, Matius Ho mengatakan, para guru ini adalah bagian dari 10.500 alumni LKLB dari 38 provinsi di Indonesia yang sudah mengikuti pelatihan tahap dasar LKLB.

“Program LKLB ini bertujuan untuk membangun kompetensi untuk bisa berelasi bahkan bekerja sama dengan mereka yang berbeda agama dan kepercayaan. Ini kompetensi penting untuk dimiliki masyarakat majemuk,” Matius Ho.

Matius mengatakan Program LKLB dikembangkan untuk membangun rasa saling percaya dengan memerangi prasangka dan stereotipe negatif terhadap orang lain yang berbeda. “Fokus ini krusial karena prasangka dan ketakutan terhadap orang lain yang berbeda adalah bibit subur bagi konflik sosial,” kata Matius Ho.

Ia menambahkan, program LKLB melampaui keterbatasan dialog antaragama tradisional yang sering kali berhenti pada tahap mengenal, sebaliknya pengetahuan tentang orang lain yang berbeda agama tidak selalu diterjemahkan menjadi empati dan solidaritas. Pendekatan LKLB berangkat dari tiga kompetensi dasar yaitu pribadi, komparatif, dan kolaboratif.

Kompetensi pribadi artinya bagaimana memahami agama sendiri khususnya dalam relasi dengan orang yang berbeda agama, sedangkan kompetensi komparatif artinya bagaimana memahami agama lain memandang orang yang berbeda, dan kompetensi kolaboratif yaitu mampu bekerja sama sekalipun berbeda demi kebaikan bersama.

“Misalnya, kalau kita mau memahami Islam, bukan mencari informasi dari media sosial atau pemuka agama lain, tapi kita perlu langsung bicara dengan penganut agama itu sendiri, jadi sebetulnya mendorong orang untuk belajar membangun empati,” kata Matius.

Menurut Matius, program LKLB yang dijalankan Indonesia telah menarik minat sejumlah negara di Asia Tenggara, termasuk Filipina, yang mengirimkan enam delegasi dari Mindanao State University System dalam Workshop LKLB di Surabaya kali ini. Delegasi dari Mindanao, Filipina, ingin mengintegrasikan model pendidikan LKLB ke dalam kurikulum di kampus mereka.

Sebelumnya,delegasi dari Ministry of Basic, Higher, and Technical Education (MBHTE) Bangsamoro Autonomous Region in Muslim Mindanao (BARMM), Filipina, dan delegasi dari Ho Chi Minh National Academy of Politics, Vietnam, juga melakukan observasi program LKLB di Indonesia. Presiden Singapura juga mengangkat Program LKLB Indonesia sebagai contoh membangun kohesi sosial dalam masyarakat multikultural.

“Literasi keagamaan lintas budaya kini telah masuk sebagai salah satu strategi ASEAN untuk 20 tahun ke depan dalam membangun komunitas yang inklusif dan kohesif,” kata Matius.

Senada dengan itu, Wakil Indonesia di Komisi HAM Antarpemerintah ASEAN (AICHR) 2019-2024, Yuyun Wahyuningrum, mengatakan pendekatan LKLB membuka jalan yang selama ini terasa tertutup dalam diskursus agama di kawasan Asia Tenggara. LKLB menawarkan bahasa yang jujur, aman, dan membumi untuk membicarakan agama, bukan sebagai sumber ketegangan, melainkan sebagai ruang perjumpaan dan pembelajaran.

Menurut Yuyun, pendekatan LKLB menjadi penting diangkat ke kawasan Asia Tenggara karena seringkali isu agama diakui sebagai isu penting, namun enggan dibahas secara terbuka.

“Perbedaan agama kerap dilihat lebih sebagai masalah daripada sebagai bagian dari identitas regional, bagian yang penting untuk perdamaian atau sebagai solusi,” kata Yuyun sebagai narasumber utama Workshop LKLB di Surabaya.

Ia menambahkan isu kebebasan beragama dan supremasi hukum yang diangkat sebagai topik dalam Workshop LKLB, merupakan bekal penting bagi para guru. Yuyun menyatakan dalam pengalamannya selama lebih dari 20 tahun bekerja di isu HAM dan enam tahun sebagai Perwakilan Indonesia di AICHR justru mengajarkan hal penting bahwa hak asasi manusia tidak hidup di dokumen, melainkan di dalam ruang-ruang keseharian.

“Hak asasi manusia hidup di sekolah, di ruang kelas. Di cara seorang guru menyapa murid yang keyakinannya berbeda. Di situlah hak asasi diuji, bukan di forum resmi, melainkan dalam interaksi sehari-hari,” tandas Yuyun.

Sejak tahun 2021, program LKLB yang digagas Institut Leimena telah mengadakan 70 kelas pelatihan tahap dasar dengan jumlah alumni lebih dari 10.500 orang dari 38 provinsi di Indonesia, serta melakukan sebanyak 23 Workshop LKLB sebagai pelatihan tahap lanjutan yang telah diikuti oleh sekitar 700 perserta dari berbagai provinsi di Indonesia.

Share
Topics
Editorial Team
Faiz Nashrillah
EditorFaiz Nashrillah
Follow Us

Latest News Jawa Timur

See More

Eri Cahyadi Akui Selain KBS, PD Pasar Juga Diperiksa Kejaksaan

07 Feb 2026, 21:05 WIBNews