Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Karhutla Jatim 7.363 Hektare, Indikasi Ulah Manusia Menguat
ilustrasi kebakaran hutan (pexels.com/Pixabay)
  • Karhutla di Jawa Timur sepanjang 2026 hingga pertengahan September membakar 7.363 hektare; Taman Nasional Baluran paling terdampak dengan 2.970,05 hektare, disusul Tahura R. Soerjo 516,45 hektare.
  • Pemprov Jatim menangani karhutla melalui pemadaman, penegakan hukum, dan pemulihan ekosistem. Indikasi keterlibatan manusia menguat, termasuk temuan bekas api unggun di Tahura dan dugaan pembakaran lahan oleh PT WDM.
  • Pascakebakaran, Dishut Jatim akan mengevaluasi kebutuhan regenerasi alami atau penanaman vegetasi lokal. Pencegahan diperkuat lewat data satelit, drone, patroli lapangan, serta peran masyarakat sekitar hutan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Kebakaran hutan dan lahan di Jawa Timur sepanjang 2026 telah membakar 7.363 hektare hingga pertengahan September, dengan penanganan mencakup pemadaman, penegakan hukum, dan pemulihan ekosistem.
  • Who?
    Dinas Kehutanan Jawa Timur, Pemprov Jatim, Balai Gakkum Kehutanan, seorang tersangka di Baluran, serta PT WDM di Bojonegoro terlibat dalam penanganan atau proses hukum.
  • Where?
    Karhutla terjadi di berbagai wilayah Jawa Timur, terutama Taman Nasional Baluran di Situbondo, Tahura R. Soerjo, dan lahan di Bojonegoro.
  • When?
    Data kebakaran tercatat sepanjang 2026 hingga pertengahan September. Permohonan penyelidikan Tahura R. Soerjo diajukan pada 26 Agustus 2026, sementara keterangan disampaikan 19 September 2026.
  • Why?
    Indikasi keterlibatan manusia menguat, khususnya di Tahura R. Soerjo, setelah ditemukan bekas api unggun dan jejak orang tak dikenal. Tidak ditemukan petir atau aktivitas vulkanik saat kejadian.
  • How?
    Pemerintah memadamkan api, mengajukan penyelidikan, memproses dugaan pelaku, mengevaluasi area terbakar, menyiapkan penanaman vegetasi lokal, serta memperkuat pemantauan melalui satelit, drone, dan pengawasan lapangan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Hutan dan tanah di Jawa Timur terbakar sampai 7.363 hektare. Baluran dan Tahura R. Soerjo paling banyak terbakar. Petugas menduga ada orang yang membuat api, karena ada bekas api unggun. Pemerintah memadamkan api, mencari pelaku, dan akan menanam pohon lagi saat musim hujan. Hutan juga diawasi dengan satelit, drone, dan petugas.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Di tengah besarnya kerusakan, penanganan karhutla di Jawa Timur menunjukkan pendekatan yang makin menyeluruh: pemadaman dipadukan dengan penyelidikan, proses hukum, pemulihan berbasis vegetasi lokal, serta pengawasan teknologi dan lapangan. Pelibatan masyarakat sebagai mitra utama juga memberi dasar penting bagi perlindungan kawasan hutan secara lebih terarah.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Surabaya, IDN Times - Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Jawa Timur (Jatim) sepanjang 2026 telah melahap 7.363 hektare kawasan hingga pertengahan September. Dari luasan tersebut, kawasan konservasi menjadi salah satu wilayah yang mengalami kerusakan paling parah.

Taman Nasional Baluran di Situbondo menjadi kawasan dengan luasan terbakar terbesar, mencapai 2.970,05 hektare atau sekitar 40,3 persen dari total area yang terbakar di Jatim. Posisi berikutnya ditempati kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) R. Soerjo dengan luasan terbakar mencapai 516,45 hektare.

Besarnya luasan tersebut membuat Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jatim tidak hanya fokus memadamkan api. Penanganan kini diarahkan pada tiga lini sekaligus, yakni pemadaman, penegakan hukum, dan pemulihan ekosistem.

Kepala Dinas Kehutanan (Dishut) Jatim, Jumadi mengatakan, hasil koordinasi dengan Wakil Gubernur Jatim Emil Elestianto Dardak menegaskan penanganan karhutla harus dilakukan secara terpadu karena api tidak mengenal batas administrasi maupun kewenangan.

"Pemadaman, penegakan hukum, dan pemulihan ekosistem harus berjalan secara terpadu. Satu hal yang menyita perhatian adalah indikasi kuat keterlibatan manusia dalam deretan insiden ini," ujarnya, Sabtu (19/9/2026).

Pemerintah, lanjut dia, tidak akan memberikan toleransi terhadap pihak yang terbukti sengaja membakar kawasan hutan dan lahan, baik perorangan maupun korporasi. "Kami tidak akan menoleransi pelaku pembakaran, baik perorangan maupun korporasi," tegasnya.

Dugaan keterlibatan manusia salah satunya mengemuka dalam karhutla di kawasan Tahura R. Soerjo. Titik awal api terdeteksi di sekitar Lapangan Kotak, wilayah yang kerap dilalui jalur pendakian dan menjadi lokasi aktivitas masyarakat.

Hasil analisis awal tidak menemukan fenomena alam seperti petir maupun aktivitas vulkanik pada waktu kejadian. Sebaliknya, petugas menemukan bekas api unggun dan jejak kehadiran orang tak dikenal yang mengarah pada dugaan aktivitas perburuan liar.

Pemerintah kemudian melayangkan permohonan penyelidikan resmi kepada Balai Gakkum Kehutanan pada 26 Agustus 2026. Penegakan hukum juga dilakukan dalam kasus karhutla di Taman Nasional Baluran. Seorang tersangka telah diserahkan kepada Balai Gakkum Kehutanan Wilayah Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara untuk menjalani proses hukum.

Tak hanya individu, dugaan pelanggaran oleh korporasi juga menjadi perhatian. Salah satunya kebakaran lahan di Bojonegoro yang melibatkan PT WDM. Perusahaan tersebut dilaporkan atas dugaan pembersihan lahan dengan cara membakar. Kasusnya kini masih berada dalam tahap pengumpulan bahan dan keterangan (pulbaket).

"Salah satunya kebakaran lahan di Bojonegoro. PT WDM dilaporkan atas dugaan pembersihan lahan dengan cara membakar dan kini memasuki tahap pengumpulan bahan keterangan," beber Jumadi.

Setelah api padam, pekerjaan pemerintah belum selesai. Dinas Kehutanan Jatim kini melakukan evaluasi pascakebakaran untuk menentukan kawasan yang masih mampu memulihkan diri melalui regenerasi alami dan wilayah yang membutuhkan intervensi berupa penanaman kembali.

Pemerintah tidak ingin pemulihan dilakukan secara serampangan dengan sekadar menanam pohon. Vegetasi lokal akan diprioritaskan pada area yang mengalami kerusakan berat. Penanaman diproyeksikan mulai dilakukan menjelang awal musim hujan. Setelah ditanam, vegetasi tersebut akan dipelihara dan dipantau secara ketat setidaknya selama tiga tahun.

Di sisi pencegahan, pengawasan kawasan hutan juga mulai diperkuat dengan teknologi. Pemantauan titik panas memanfaatkan data satelit seperti SiPongi, Terra/Aqua, Sentinel, dan Landsat. Drone juga digunakan untuk memantau wilayah yang sulit dijangkau petugas, termasuk tebing dan jurang curam.

Namun, teknologi bukan satu-satunya tumpuan. Pengawasan langsung di lapangan tetap menjadi bagian penting dalam mencegah karhutla kembali meluas saat musim kemarau berikutnya.

Jumadi menegaskan masyarakat di sekitar kawasan hutan memiliki peran penting dalam menjaga kawasan dari ancaman kebakaran. "Masyarakat sekitar hutan adalah mitra utama kami. Prinsipnya tegas: masyarakat yang menjaga hutan harus dilindungi, tetapi siapa pun yang terbukti membakar hutan harus mempertanggungjawabkan perbuatannya secara hukum," pungkasnya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article