Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Di Depan Prabowo, KH Hasan Tegaskan Tak Alergi Kritik

Kab. Ponorogo
3 min read
Di Depan Prabowo, KH Hasan Tegaskan Tak Alergi Kritik
Pimpinan Ponpes Gontor, KH Hasan Abdullah Sahal saat menyampaikan sambutan dalam perayaan 100 tahun Gontor, Sabtu (19/9/2026). Tangkapan Layar YouTube Gontor TV.
  • KH Hasan Abdullah Sahal menyatakan siap diprotes, dikritik, atau didemo bila makanan, pakaian, kendaraan, dan tempat tinggalnya melebihi para santri Gontor.
  • Di hadapan Presiden Prabowo pada peringatan 100 tahun Gontor, ia menegaskan pondok dibangun atas keikhlasan, pengabdian, serta perjalanan panjang menghadapi berbagai kesulitan.
  • Kiai Hasan menyebut satu abad Gontor sebagai peringatan untuk bersyukur dan memperbaiki pengabdian, sambil menyampaikan prinsip pendidikan STIR: sabar, tawakal, ikhlas, dan ridha.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Ponorogo, IDN Times - Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor, KH Hasan Abdullah Sahal, memasang standar ketat bagi dirinya sendiri sebagai pimpinan pondok. Ia mempersilakan dirinya diprotes, dikritik, bahkan didemo apabila kehidupan yang dijalaninya melebihi para santri.

Pernyataan itu disampaikan Kiai Hasan di hadapan Presiden Prabowo Subianto dalam peringatan 100 tahun Pondok Modern Darussalam Gontor di Kabupaten Ponorogo, Sabtu (19/9/2026).

Kiai Hasan secara terbuka meminta agar kehidupannya dibandingkan dengan kehidupan para santri, mulai dari makanan, pakaian, kendaraan hingga tempat tinggal. “Saya ingin menyampaikan kepada Bapak Presiden, boleh disaksikan kalau makan saya, pakaian saya, kendaraan saya, rumah saya, apa lagi, melebihi makanan santri, pakaian santri, kendaraan santri, rumah santri, protes boleh,” ujarnya.

Ia kemudian mengulang pernyataannya untuk menegaskan standar tersebut. “Saya ulangi, kalau apa yang saya makan, apa yang saya pakai, apa yang saya tempati, apa yang saya kerjakan lebih daripada santri, boleh diprotes, boleh dikritik, boleh didemo,” katanya.

Sikap tersebut merupakan bagian dari nilai yang diwariskan para pendiri Gontor. Ia menekankan bahwa Pondok Modern Darussalam Gontor sejak awal dibangun melalui keikhlasan dan pengabdian, sehingga nilai tersebut harus terus dijaga dalam kehidupan pondok. “Dengan inilah para pendiri telah mewakafkan ini dengan ikhlas,” ucapnya.

Kiai Hasan menyampaikan pernyataan dalam refleksi perjalanan Gontor yang telah mencapai usia 100 tahun. Menurutnya, satu abad perjalanan pondok bukanlah perjalanan yang selalu mudah.

Selama 100 tahun, Gontor telah merasakan berbagai keadaan, mulai dari masa sulit hingga masa yang lebih baik. Namun, berbagai persoalan tersebut menjadi bagian dari perjalanan yang harus terus dihadapi.

“Tidak sepi daripada kesulitan, tidak sepi daripada masalah. Tetapi kita mengatakan, setiap masa ada tokohnya, setiap tokoh ada masalahnya, setiap masa dan tokoh ada masalahnya, setiap masalah harus ada solusinya,” katanya.

Kiai Hasan juga menekankan bahwa momentum satu abad Gontor bukan semata-mata perayaan. Ia menyebutnya sebagai peringatan untuk kembali mengingat nikmat Allah dan meningkatkan rasa syukur serta pengabdian.

“Ini peringatan, bukan perayaan,” tegasnya

Menurutnya, usia 100 tahun harus menjadi momentum untuk memperbaiki diri dan meningkatkan kualitas pengabdian. Kiai Hasan juga menyampaikan pesan pendidikan kepada Prabowo. Ia menggunakan istilah “STIR” sebagai prinsip yang menurutnya menjadi bagian dari cara mendidik di Gontor.

STIR yang dimaksud merupakan kependekan dari Sabar, Tawakal, Ikhlas, dan Ridha. “Cara mendidik kami pakai STIR. STIR itu sabar, tawakal, ikhlas, ridha,” kata Kiai Hasan.

Ia kemudian mengingatkan agar setiap orang mampu menyesuaikan sikap dengan keadaan dan waktu. “Waktu cepat, cepat. Waktu lambat, lambat. Jangan waktu cepat kamu lambat, jangan waktu lambat kamu cepat,” katanya.

Dalam kesempatan ini, Kiai Hasan juga menyerahkan buku Gontor untuk Indonesia kepada Prabowo sebagai bagian dari persembahan dalam momentum satu abad Gontor.

Ia mengatakan kontribusi Gontor kepada Indonesia tidak mungkin disebutkan satu per satu dalam waktu singkat, terutama melalui para alumninya yang telah mengabdi di berbagai bidang.

    Share Article
    Editorial Team

    Related Articles

    See More