100 Tahun Gontor, dari “Ngon Kotor” Jadi “Ngon Inspirator”

- Pondok Modern Darussalam Gontor memperingati 100 tahun perjalanan di Ponorogo, dihadiri Presiden Prabowo Subianto, dengan transformasi dari kawasan “ngon-kotor” menjadi “ngon inspirator”.
- KH Hasan Abdullah Sahal menekankan Gontor berkembang dari 1,2 hektare pada 1958 menjadi sekitar 1.200 hektare, berlandaskan wakaf pendiri berupa ide, nilai, sistem, lembaga, dan pendidikan.
- Gontor disebut berkontribusi mendidik umat dan bangsa sejak masa penjajahan; alumninya kini tersebar di pemerintahan serta berbagai sektor, sementara satu abad dijadikan pengingat untuk bersyukur dan memperkuat manfaat.
Ponorogo, IDN Times - Pondok Modern Darussalam Gontor telah menempuh perjalanan panjang selama satu abad. Dari kawasan yang dahulu dikenal dengan kondisi lingkungan yang kotor, Gontor kini berkembang menjadi lembaga pendidikan yang melahirkan ribuan alumni dan berkontribusi di berbagai bidang kehidupan bangsa.
Perjalanan itu kembali dikenang Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor, KH Hasan Abdullah Sahal, saat menyampaikan pidato dalam peringatan 100 tahun Gontor di Kabupaten Ponorogo, Sabtu (19/9/2026). Acara tersebut turut dihadiri Presiden RI Prabowo Subianto.
Kiai Hasan mengungkapkan, nama Gontor memiliki sejarah yang tidak terlepas dari kondisi kawasan tersebut pada masa awal berdirinya. Gontor disebut merupakan singkatan dari “ngon-kotor”, yang menggambarkan lingkungan yang kala itu masih jauh dari kondisi seperti sekarang.
“Gontor singkatan dari ngon-kotor karena banyak syirik, banyak kufur, banyak maksiat,” ujarnya.
Namun, perjalanan Gontor selama 100 tahun menunjukkan perubahan yang sangat jauh dari kondisi awal tersebut. KH Hasan kemudian menggambarkan transformasi itu dengan istilah yang lebih optimistis. “Gontor sekarang menjadi ngon inspirator,” katanya.
Menurutnya, perubahan Gontor tidak hanya terlihat dari perkembangan fisik pondok, tetapi terutama dari nilai, sistem pendidikan, dan kontribusinya dalam membina umat serta bangsa Indonesia.
Ia mengingatkan bahwa Gontor sejak awal dibangun dengan semangat pendidikan. Bahkan, para pendiri Gontor, yakni KH Ahmad Sahal, KH Zainuddin Fanani, dan KH Imam Zarkasy, kemudian mewakafkan pondok tersebut kepada umat Islam.
Pada 1958, kompleks Gontor disebut masih memiliki luas sekitar 1,2 hektare. Kini, setelah satu abad perjalanan, kawasan Gontor telah berkembang hingga sekitar 1.200 hektare. “Diwakafkan kepada umat Islam seluruh dunia dengan keikhlasan para pendiri,” kata Kiai Hasan.
Menurutnya, yang diwariskan para pendiri kepada Gontor bukan sekadar tanah dan bangunan. Ada ide, nilai, sistem, lembaga, hingga kecintaan terhadap pendidikan yang turut diwariskan kepada generasi berikutnya.
“Mewakafkan ide, mewakafkan nilai, mewakafkan sistem, mewakafkan lembaga, mewakafkan cinta kepada pondok ini,” katanya.
Kiai Hasan menegaskan, perjalanan 100 tahun Gontor juga menjadi bagian dari perjalanan bangsa Indonesia. Gontor, kata dia, sejak zaman penjajahan telah berupaya mendidik dan memerdekakan umat dari kesesatan serta membangun kemandirian.
Ia pun berharap Gontor tidak hanya dikenang karena usianya yang telah mencapai satu abad, tetapi juga karena kontribusinya dalam membangun pendidikan dan peradaban. “Cerdaslah menyikapi sejarah karena kita akan membangun sejarah. Tidak menyerah pada sejarah,” katanya.
Dalam kesempatan ini, Kiai Hasan juga menyampaikan bahwa alumni Gontor kini tersebar di berbagai bidang, termasuk pemerintahan. Mereka berada di lembaga eksekutif, legislatif, yudikatif, serta berbagai sektor lainnya. Keberadaan para alumni merupakan bagian dari kontribusi Gontor untuk bangsa.
“Jadi kita akan membangun sejarah, membangun peradaban dari Gontor,” tegasnya.
Peringatan satu abad Gontor pun tidak dimaknai sekadar sebagai perayaan. Kiai Hasan menyebut momentum tersebut sebagai peringatan untuk kembali mengingat nikmat Allah, mensyukurinya, serta memperkuat tekad untuk berbuat lebih baik pada masa mendatang.
Ia berharap perjalanan Gontor memasuki usia 100 tahun menjadi pijakan untuk terus memberikan manfaat bagi umat dan Indonesia. “Ya Allah, berikanlah kami kekuatan untuk ingat, untuk bersyukur, untuk beribadah lebih daripada sebelumnya,” tuturnya.















