Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

ISPA Melonjak di Jatim, Surabaya Tertinggi

Kota Surabaya
4 min read
ISPA Melonjak di Jatim, Surabaya Tertinggi
Kepala Dinas Kesehatan Jatim, dr. Erwin Astha Triyonno saat di Gedung Negara Grahadi, Surabaya. IDN Times/Ardiansyah Fajar.
  • Kasus ISPA di Jawa Timur naik selama kemarau 2026, dari rata-rata 117 ribu kasus bulanan pada 2025 menjadi 147 ribu hingga Agustus; puncaknya melampaui 200 ribu kasus.

  • Surabaya mencatat kasus ISPA tertinggi, diikuti Sidoarjo, Lamongan, Kabupaten Malang, dan Kota Malang. Kemarau, polusi udara, serta kebakaran hutan disebut dapat berkontribusi.

  • Dinkes Jatim menegaskan data sentinel tidak mewakili kasus Influenza A provinsi. Masyarakat disarankan memakai masker, menjaga pola hidup sehat, dan memeriksakan diri bila keluhan tak membaik.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Surabaya, IDN Times - Kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Jawa Timur (Jatim) meningkat selama musim kemarau 2026. Dari sejumlah daerah, Surabaya tercatat sebagai wilayah dengan kasus ISPA tertinggi, disusul Sidoarjo, Lamongan, serta Kabupaten dan Kota Malang.

Kepala Dinas Kesehatan Jatim, dr. Erwin Astha Triyonno mengatakan, peningkatan kasus ISPA terlihat dibandingkan tahun sebelumnya. Pada 2025, rata-rata kasus ISPA di Jatim berada di kisaran 117 ribu kasus per bulan.

Sementara pada 2026, rata-rata kasus hingga Agustus telah meningkat menjadi sekitar 147 ribu kasus per bulan. Bahkan pada Agustus 2026 terjadi puncak kasus yang mencapai sekitar 200 ribu lebih.

"Data ISPA ini memang di Jawa Timur, mungkin di nasional juga, relatif meningkat pada musim kemarau. Dibandingkan dengan tahun 2025, rata-rata di 2025 itu per bulannya 117.000. Sedangkan di tahun 2026 ini sampai bulan Agustus, itu rata-rata sekitar 147.000," ujarnya saat ditemui di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Kamis (1/10/2026).

Erwin menambahkan, peningkatan tidak bisa dilepaskan dari kondisi musim kemarau. Faktor lain seperti polusi udara dan kebakaran hutan juga dapat berkontribusi terhadap meningkatnya gangguan saluran pernapasan.

"Pada bulan Agustus itu ada peak-nya, kurang lebih 200.000 sekian. Dan itu pola di mana berkaitan dengan musim kemarau. Dibarengi juga dengan polusi mungkin, atau kebakaran hutan, atau yang lain-lain," katanya.

Erwin menyebut lima wilayah dengan kasus ISPA tertinggi di Jatim adalah Surabaya, Sidoarjo, Lamongan, Kabupaten Malang, dan Kota Malang. "Surabaya, ada di Sidoarjo, ada di Lamongan. Empat, lima Kabupaten dan Kota Malang," ungkapnya.

Meski angka ISPA meningkat, Dinkes Jatim meminta masyarakat tidak mengaitkan seluruh kasus tersebut dengan Influenza A. Erwin menegaskan hingga kini Jawa Timur tidak memiliki data yang secara khusus menunjukkan jumlah kasus Influenza A di tingkat provinsi.

Ia membantah informasi yang menyebut puluhan ribu warga Jatim terkonfirmasi Influenza A sebagai data kasus provinsi. "Jatim enggak punya data untuk Influenza A. Itu data site, data nasional, tapi site sentinel-nya ada di Kota Malang. Itu enggak bisa terus dijadikan mewakili Kota Malang, mewakili Jawa Timur," tegasnya.

Menurut Erwin, data surveilans Influenza A dan penyakit pernapasan lainnya dikumpulkan melalui sejumlah site sentinel. Di Jatim, salah satu lokasi pemantauan tersebut berada di Kota Malang, yakni RSUD dr. Saiful Anwar (RSSA) dan fasilitas kesehatan tingkat pertama yang menjadi bagian dari surveilans.

Data dari site sentinel tidak dapat serta-merta diterjemahkan sebagai jumlah kasus Influenza A di seluruh Jatim. Erwin menjelaskan ISPA sendiri dapat disebabkan berbagai macam agen, mulai dari virus, bakteri hingga jamur. Pada kondisi seperti saat ini, virus menjadi salah satu penyebab yang dominan, tetapi tidak berarti seluruh kasus ISPA disebabkan virus tertentu.

Gejala ISPA yang umum antara lain demam, batuk, pilek, dan nyeri tenggorokan. Penularannya dapat terjadi melalui droplet ketika seseorang batuk, bersin, atau mengalami pilek.

Untuk mencegah penularan, masyarakat yang sedang sakit disarankan menggunakan masker.

Penggunaan masker juga dianjurkan bagi masyarakat sehat ketika berada di tengah kerumunan. "Yang sakit khususnya pakai masker. Yang kedua, di tempat kerumunan, meskipun kita sehat, upayakan pakai masker," kata Erwin.

Ia meminta masyarakat tidak panik, tetapi juga tidak lengah. Sebab, ISPA pada umumnya merupakan penyakit yang dapat sembuh sendiri dalam waktu sekitar satu hingga dua minggu.

Namun, perhatian khusus diperlukan ketika ISPA menyerang kelompok rentan, seperti bayi, lansia, ibu hamil, maupun orang dengan penyakit penyerta.

"Kalau merasa ada keluhan dan keluhan itu relatif tidak cepat membaik, segera ke fasilitas kesehatan," ucapnya.

Dinkes Jatim juga memastikan kapasitas layanan kesehatan masih mampu menangani peningkatan kasus tersebut. Erwin menyebut rumah sakit memang mengalami kenaikan pasien, tetapi belum sampai pada kondisi layanan yang tidak terkendali.

"Teman-teman rumah sakit relatif memang ada kenaikan, tapi sekitar 40 sampai 60 persen. Dalam tanda kutip masih mampu laksana," jelasnya.

Ia mengatakan layanan puskesmas juga tetap berjalan dengan pola masing-masing. Sejumlah puskesmas memiliki layanan hingga 24 jam, khususnya puskesmas perawatan, sementara tenaga kesehatan tertentu juga membuka layanan di luar jam kerja.

Bagi masyarakat, Erwin menekankan pencegahan tetap menjadi kunci. Pola hidup sehat, asupan nutrisi yang baik, istirahat cukup, serta menghindari rokok menjadi langkah penting untuk menjaga daya tahan tubuh.

"Jangan sampai panik. Kuncinya cuma satu: kita enggak boleh lengah, tetap harus hati-hati, tapi juga jangan sampai panik," pungkasnya.

    Share Article
    Editorial Team

    Related Articles

    See More