Surabaya, IDN Times - Kebutuhan darah di Jawa Timur (Jatim) mencapai sekitar 908 ribu kantong dalam setahun. Tingginya kebutuhan tersebut membuat pemerataan partisipasi donor darah sukarela di seluruh kabupaten/kota menjadi salah satu tantangan yang perlu diperkuat Palang Merah Indonesia (PMI) Jatim.

Ketua PMI Jatim, Imam Utomo mengatakan, kebutuhan darah tersebut tidak hanya terkonsentrasi di satu wilayah. Namun, aktivitas pengambilan dan distribusi darah sangat berkaitan dengan kebutuhan rumah sakit di masing-masing daerah.

“908 ribu kantong,” ujarnya usai acara di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Kamis (1/10/2026).

Imam juga membeberkan, kebutuhan darah di Surabaya saja berada di kisaran 400-500 kantong per hari. Jika dihitung dalam sebulan, kebutuhan darah di Kota Pahlawan mencapai sekitar 12 ribu kantong.

“Sebetulnya di Surabaya itu setiap hari 400 sampai 500 kantong. Satu bulan itu 12 ribu,” katanyaa.

Imam pun menjelaskan, kondisi kebutuhan darah antardaerah di Jatim tidak bisa hanya dilihat dari jumlah pendonor. Kebutuhan tersebut juga dipengaruhi keberadaan dan karakteristik rumah sakit yang menjadi pengguna darah.

“Ini tergantung rumah sakitnya,” katanya.

Maka, pemerataan ketersediaan darah tidak semata-mata dilakukan dengan menambah unit transfusi darah (UTD). Menurut Imam, fasilitas pengambilan darah yang ada saat ini dapat dioptimalkan sesuai kebutuhan dan sebaran layanan kesehatan.

Persoalan pemerataan donor sukarela juga menjadi perhatian Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa. Ia menyoroti adanya kesenjangan partisipasi pendonor sukarela antara wilayah perkotaan dan kabupaten.

Khofifah mencontohkan Kota Mojokerto yang hanya memiliki tiga kecamatan, tetapi partisipasi pendonor sukarelanya tercatat lebih tinggi dibandingkan Kabupaten Mojokerto yang memiliki 31 kecamatan. Fenomena serupa juga terlihat di wilayah Kota dan Kabupaten Probolinggo serta Kota dan Kabupaten Malang.

“Kadinkes dr. Erwin dipandu oleh Pak Imam Utomo supaya area-area yang masuk wilayah kabupaten ini juga keikutsertaannya bisa ditingkatkan,” kata Khofifah.

Menurut Khofifah, wilayah kabupaten memiliki potensi besar untuk memperluas basis pendonor sukarela. Sebab, secara geografis wilayah kabupaten mengelilingi sejumlah pusat kota di Jawa Timur.

“Kalau mereka bisa dimaksimalkan sebagai pendonor darah sukarela saya rasa ini sesuatu yang memiliki kemungkinan besar untuk bisa diluaskan,” imbuhnya.

Selain pemerataan pendonor, Khofifah mendorong penguatan ekosistem donor darah sejak lingkungan sekolah. Salah satunya melalui sinergi Palang Merah Remaja (PMR) dengan gerakan Pramuka.

Kolaborasi tersebut dapat menjadi pintu masuk untuk mengenalkan kegiatan sosial dan kemanusiaan kepada pelajar sekaligus membangun kebiasaan donor darah ketika mereka telah memenuhi syarat.

“Kalau itu bisa memberseiringi antara Pramuka dengan PMR, ini skalanya bisa sangat masif. Karena pada dasarnya Pramuka di setiap sekolah dari mulai SD,” kata Khofifah.

Di tengah kebutuhan darah yang besar, konsistensi pendonor menjadi bagian penting dalam menjaga pasokan. Salah satunya ditunjukkan Joko Rustryanto, warga Surabaya berusia 35 tahun yang telah 75 kali mendonorkan darah.

Joko mengaku mulai rutin donor sejak berusia sekitar 20 tahun. Kebiasaan itu berawal ketika dirinya masih kuliah dan mengikuti program yang mendorong mahasiswa melakukan donor darah.

Seiring waktu, donor darah menjadi kebiasaan yang terus dijalankannya. Ia bahkan dapat melakukan donor hingga dua kali dalam sebulan melalui metode apheresis.

“Awalnya waktu kuliah ada suatu program yang mengharuskan kita donor. Terus akhirnya saya menerima manfaatnya. Merasakan manfaatnya seperti lebih segar, lebih sehat lagi dan bisa tahu keadaan kondisi kita,” ujar Joko.

Menurut Joko, sebelum melakukan donor, pendonor harus melalui proses seleksi sehingga kondisi tubuhnya diperiksa terlebih dahulu. Ia mengaku pernah berhenti sementara mendonor ketika pandemi COVID-19 karena fokus pada kondisi saat itu.

Kini, ia ingin melanjutkan konsistensinya hingga mencapai 100 kali donor dan memperoleh penghargaan dari Presiden. “Saya ingin penghargaan ke-100 kali dari Presiden. Konsistensi saya yang penting,” katanya.

Joko masih membutuhkan sekitar 25 kali donor lagi untuk mencapai target tersebut. Ia pun mengajak masyarakat tidak takut mendonorkan darah. Menurutnya, donor darah bukan hanya membantu orang lain yang membutuhkan, tetapi juga menjadi bagian dari kepedulian terhadap sesama.

“Jangan takut donor darah karena donor darah banyak manfaatnya, baik bagi kita maupun bagi penerima,” pungkasnya.