Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Hari Kesaktian Pancasila, Eks Napiter Diundang Upacara

Kota Surabaya
3 min read
Hari Kesaktian Pancasila, Eks Napiter Diundang Upacara
Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Jatim, Eddy Supriyanto (tengah) usai upacara. IDN Times/Ardiansyah Fajar.
  • Pemprov Jawa Timur mengundang empat eks napiter dalam upacara Hari Kesaktian Pancasila untuk memperkuat rasa kebangsaan, nasionalisme, dan keterlibatan mereka di masyarakat.

  • Jatim memiliki sekitar 197 eks napiter yang didorong mengikuti kegiatan nasional di kabupaten/kota setelah kembali menerima NKRI dan berbaur dengan berbagai elemen masyarakat.

  • Pemprov mengingatkan generasi muda agar bijak bermedia sosial karena paham radikal dapat menyebar, serta menekankan penguatan Pancasila melalui keluarga dan lingkungan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Surabaya, IDN Times - Peringatan Hari Kesaktian Pancasila di Jawa Timur (Jatim) tak sekadar menjadi seremoni. Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jatim turut mengundang mantan narapidana terorisme (eks napiter) dalam upacara sebagai bagian dari upaya memperkuat kembali rasa kebangsaan dan nasionalisme.

Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Jatim, Eddy Supriyanto mengatakan, pelibatan eks napiter dalam sejumlah momentum hari besar nasional telah dilakukan secara berkelanjutan. Mereka yang diundang, kata Eddy, merupakan eks napiter yang telah kembali menerima Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

"Kalau ada hari-hari besar negara seperti Hari Kebangkitan, Hari Lahir Pancasila, tanggal 17 Agustus, Pahlawan, kita selalu melibatkan mereka supaya mereka kembali ke Ibu Pertiwi," ujarnya, Kamis (1/10/2026).

Pada peringatan Hari Kesaktian Pancasila kali ini, terdapat empat eks napiter yang mengikuti upacara. Jumlah tersebut merupakan bagian dari upaya Pemprov Jatim untuk melibatkan eks napiter dalam kegiatan kebangsaan di berbagai daerah.

Eddy menyebut Jatim memiliki sekitar 197 eks napiter yang tersebar di kabupaten/kota. Mereka didorong untuk kembali berbaur dengan masyarakat dan mengikuti berbagai kegiatan kebangsaan di wilayah masing-masing.

"Kita kan ada 197 eks napiter. Nah, itu kita sebar di kabupaten/kota supaya bisa mengikuti upacara-upacara hari besar nasional di daerah, termasuk di Provinsi Jawa Timur, di Kota Surabaya juga ada," ungkapnya.

Eddy menambahkan, kehadiran eks napiter dalam upacara bukan sekadar formalitas. Mereka diharapkan dapat membangun kembali rasa kebangsaan, nasionalisme, serta berbaur dengan berbagai elemen masyarakat.

"Rata-rata mereka mengikuti upacara supaya untuk memperkuat rasa kebangsaan, nasionalisme. Kita hadirkan, bisa berbaur dengan elemen masyarakat lainnya," jelasnya.

Langkah tersebut menjadi relevan di tengah kekhawatiran terhadap penyebaran paham radikal melalui media sosial. Eddy mengatakan perkembangan teknologi menghadirkan tantangan baru karena informasi yang dikonsumsi anak-anak dan generasi muda tidak seluruhnya berada dalam jangkauan pengawasan orang tua.

Momentum Hari Kesaktian Pancasila juga dimanfaatkan untuk mengingatkan generasi muda agar bijak menggunakan media sosial. "Media sosial ini selain juga memberikan positif, tapi juga harus diantisipasi karena setiap hari dikonsumsi oleh anak-anak kita," kata Eddy.

Menurutnya, penyebaran ideologi, termasuk paham radikal, dapat berlangsung melalui media sosial. Karena itu, penguatan ideologi Pancasila tidak cukup hanya dilakukan melalui kegiatan formal, tetapi juga membutuhkan pendampingan keluarga dan lingkungan.

"Pesan kepada anak-anak muda, bijak menggunakan media sosial. Tepat di momen Kesaktian Pancasila, kita kuatkan ideologi kita, termasuk cinta tanah air dan juga memperkuat ideologi Pancasila," katanya.

Eddy juga menekankan pentingnya peran orang tua. Menurut dia, pengawasan tidak boleh mengabaikan anak-anak usia sekolah dasar maupun sekolah menengah karena media sosial telah ikut memengaruhi pola pikir dan pergaulan mereka.

"Jangan menyepelekan usia mereka SD atau SMP, tapi media sosial ini telah membentuk anak-anak dari pola pikir, cara bergaul, dan sebagainya," katanya.

Salah satu eks napiter yang mengikuti momentum tersebut, Arif, mengatakan Hari Kesaktian Pancasila menjadi pengingat bahwa Pancasila memiliki peran penting dalam menjaga persatuan dan keutuhan NKRI.

Menurut Arif, sejarah menunjukkan pernah ada upaya untuk mengganti ideologi Pancasila. Namun, menurutnya, Pancasila tetap menjadi ideologi yang dianggap mampu menjaga keutuhan bangsa.

"Ini merupakan momen pengingat kita untuk menyadari bahwa dengan Pancasila ini, dengan ideologi Pancasila, dapat menyatukan bangsa, menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia," katanya.

Arif mengaku kini berupaya menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai seorang wirausaha, ia juga aktif di lingkungan masyarakat, termasuk mengelola musala pribadi dan menjadi imam.

"Saya berupaya untuk menjadi... setelah saya kembali ke masyarakat, saya berupaya untuk kembali menjadikan agama Islam ini yang rahmatan lil 'alamin. Dan ini sesuai dengan Pancasila juga, nilai-nilai yang ada dalam Pancasila," pungkasnya.

    Share Article
    Editorial Team

    Related Articles

    See More