Hari Kartini 2026, Khofifah Gaspol Fokus Turunin Angka Kematian Ibu

- Khofifah Indar Parawansa menjadikan Hari Kartini 2026 sebagai momentum memperkuat peran perempuan dan menurunkan angka kematian ibu melalui kolaborasi lintas sektor di Jawa Timur.
- Pemprov Jatim mengembangkan layanan kesehatan ibu-anak, memanfaatkan teknologi seperti aplikasi e-Desi, serta mencatat penurunan stunting menjadi 14,7 persen dan peningkatan IPG hingga 93,29 pada 2025.
- Khofifah menegaskan pentingnya gerakan bersama menghadapi tantangan kekerasan terhadap perempuan, pernikahan dini, dan stunting sambil memperkuat perlindungan lewat UPTD PPA serta PUSPAGA.
Surabaya, IDN Times - Gubernur Jawa Timur (Jatim), Khofifah Indar Parawansa mengajak memaknai Peringatan Hari Kartini 2026 menjadi momentum untuk mendorong penguatan peran perempuan sekaligus menekan angka kematian ibu (AKI). Ia pun meminta seluruh elemen masyarakat memperkuat kolaborasi lintas sektor demi meningkatkan kualitas kesehatan ibu.
Mengusung tema “Bergerak Bersama Menurunkan Angka Kematian Ibu”, peringatan tahun ini menitikberatkan pentingnya sinergi berbagai pihak dalam melindungi keselamatan ibu sebagai fondasi pembangunan sumber daya manusia.
Khofifah menegaskan, upaya penurunan AKI tidak bisa dilepaskan dari penguatan peran perempuan sebagai subjek utama pembangunan, mulai dari lingkup keluarga hingga tingkat global. “Spirit perjuangan R.A. Kartini harus diwujudkan dalam langkah konkret, salah satunya memastikan kesehatan ibu sebagai fondasi SDM unggul,” ujarnya, Selasa (21/4/2026).
Pemprov Jatim, lanjutnya, terus memperkuat layanan kesehatan ibu dan anak melalui berbagai inovasi, mulai dari pengembangan layanan spesialis seperti stroke center, jantung center, hingga onkologi center, serta layanan kesehatan bergerak untuk menjangkau wilayah terpencil dan kepulauan.
Selain itu, pemanfaatan teknologi juga didorong, salah satunya melalui aplikasi e-Desi untuk deteksi dini faktor risiko hipertensi pada ibu hamil. Upaya ini berkontribusi pada penurunan angka kematian ibu dan bayi serta prevalensi stunting di Jatim yang tercatat turun menjadi 14,7 persen pada 2025.
Di sisi lain, indikator pembangunan gender di Jawa Timur juga menunjukkan tren positif. Indeks Pembangunan Gender (IPG) mencapai 93,29 pada 2025, meningkat dari tahun sebelumnya, sementara Indeks Ketimpangan Gender (IKG) turun menjadi 0,347, lebih baik dibanding rata-rata nasional.
Meski demikian, Khofifah mengingatkan masih ada tantangan serius, seperti kekerasan terhadap perempuan dan anak, pernikahan usia dini, hingga stunting yang berdampak pada kesehatan ibu.
“Penurunan angka kematian ibu bukan hanya tanggung jawab sektor kesehatan, tetapi membutuhkan gerakan bersama seluruh elemen bangsa,” tegasnya.
Sebagai bentuk komitmen, Pemprov Jatim juga memperkuat perlindungan perempuan melalui optimalisasi layanan UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) serta Pusat Pembelajaran Keluarga (PUSPAGA).
Tak hanya di tingkat lokal, Khofifah juga menyoroti kontribusi perempuan Indonesia di panggung global, termasuk peran organisasi perempuan dalam mendorong perdamaian dunia melalui diplomasi kemanusiaan.
“Mari jadikan momentum ini untuk memperkuat peran perempuan, menurunkan angka kematian ibu, dan menghadirkan generasi yang sehat serta berdaya saing,” pungkasnya.


















