Sosok Prof Eighty Dekan Perempuan Pertama di Fakultas Kedokteran Unair

- Prof Eighty resmi menjadi dekan perempuan pertama di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga setelah perjalanan panjang sebagai dosen, peneliti, dan dokter spesialis obgin sejak 2005.
- Ia dikenal sebagai guru besar termuda bidang Uroginekologi Rekonstruksi di Indonesia dengan riset inovatif tentang pemanfaatan sel punca untuk kesehatan dasar panggul perempuan.
- Sebagai dekan, Prof Eighty membawa visi mencetak 'dokter bintang tujuh' melalui konsep BRIGHT agar FK Unair mandiri, inovatif, dan berdaya saing nasional maupun internasional.
Surabaya, IDN Times - Prof Eighty, begitu ia biasa disapa. Sosok perempuan pertama yang kini menjadi Dekan di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga. Fakultas kedokteran tertua nomer 2 di Indonesia, sekaligus fakultas yang termasuk membidani lahirnya Universitas Airlangga.
Bukan perjalanan pendek yang tiba-tiba membuat Prof Dr Eighty Mardiyan Kurniawati, dr, SpOG SubSp.Urogin-RE dipercaya sebagai pimpinan tertinggi Fakultas Kedokteran. Perjalanan menjadi dosen di UNAIR dimulai sejak Januari 2005. Saat itu ia masih menjadi peserta didik PPDS (Program Pendidikan Dokter Spesialis) semester empat.
"Saya dipanggil Ketua Departemen, Prof Lila Dewata beserta Prof Djoko Waspodo dan dr Hari Paraton. Beliau meminta saya untuk menjadi staf dosen dan mengikuti tes PNS yang sedang dibuka," cerita Eighty, Selasa (20/4/2026). Salah satu kriterianya adalah karena IPK di atas 3 dan mempunyai prestasi. Prof Eighty, saat mahasiswa S1 tercatat sebagai Mahasiswa Berprestasi UNAIR yang sedianya akan mewakili di forum nasional pada 1998. Tapi saat itu forum dibatalkan karena maraknya demo reformasi. Hal menarik lainnya, ia aktif dalam penelitian ilmiah sejak mahasiswa, juara pimnas, aktif dalam dunia organisasi daan menjadi wartawan di Surabaya Post serta berlanjut di Jawa Pos pada 2000-2002. Sebagai mahasiswa, saat itu ia tak bisa menolak. Dan akhirnya menjadi staf dosen sekaligus menjalani program PPDS Obstetri dan Ginekologi.
Menjadi dosen yang sekaligus dokter obgin menjadi tantangan tersendiri. Setelah lulus sejak 2008, ia pun mulai praktik dan mengabdikan diri di Fakultas Kedokteran. "Pagi sampai siang bersama mahasiswa dan PPDS. Sore hingga malam ganti bersama pasien dan ibu hamil," cerita Prof Eighty.
Bukan hal yang mudah. Apalagi saat pasien mulai semakin banyak. Di sisi lain, peran sebagai pendamping suami dan ibu 3 orang putra, juga menuntut kehadirannya. "Supaya tidak kehilangan momen, saat anak-anak masih kecil, saya sering mengajak mereka bertiga ke RS. Menemani saya menolong persalinan atau operasi. Meskipun kadang hanya menunggu di mobil atau di kantin. Ini sekaligus mengajarkan mereka bahwa dokter adalah tugas mulia. Kehadiran dan ilmunya ditunggu oleh pasien, " jelas istri dr Abdul Haris SpBS, MTrOpsla ini.
Rutinitas ini berjalan bertahun-tahun. Hingga kemudian, peran ini bertambah karena harus sekolah konsultan uroginekologi rekonstruksi di FK Universitas Indonesia/RSCM pada 2011-2013, dan menjadi mahasiswa program Doktor yang berhasil membuatnya menyandang gelar Doktor pada 2020.
Perjalanan dosennya menempuh dunia baru saat diminta menjadi Ketua Humas di FK UNAIR pada 2015-2020. Rekam jejak di dunia jurnalistik membuatnya menikmati tugas tersebut. Dan ini berlanjut dengan tugasnya sebagai Staf Khusus Dekanat pada masa Covid kurun 2020-2023.
Masa COVID tidak memungkinkan prof Eighty melakukan rutinitas seperti biasanya. Ada pembatasan praktik dan pendidikan. Tapi ini tak membuatnya kehilangan kreativitas. "Saat COVID ini justru banyak publikasi dan inovasi bersama tim. Termasuk membuat berbagai manekin pembelajaran untuk PPDS Obgin. Mulai manekin untuk robekan jalan rahim, bedah sesar hingga pengangkatan rahim yang dibuat bersama dr Riska Wahyuningtyas SpOG, dr Citra Aulia SpOG dan dr Dara SpOG.
Masa "diam" di era COVID ternyata juga memungkinkan Prof Eighty untuk menyiapkan persyaratan pengajuan Guru Besar atau Profesor. Pada 2023 ia dikukuhkan sebagai Guru besar di bidang Uroginekologi Rekonstruksi, Stem Cell dan Gangguan Fungsi Seksual Perempuan. Ia menjadi guru besar termuda di dunia Obgin di Indonesia. Juga guru besar perempuan pertama di bidang Uroginekologi Rekonstruksi. Pidato pengukuhannya tentang Stem Cell atau Sel Punca di bidang Uroginekologi Rekonstruksi atau Gangguan Dasar Panggul. Ini sesuai dengan penelitian disertasinya saat S3 yang melakukan uji pemanfaatan sel punca untuk tata laksana fistula vesicovagina.
Pidato pengukuhan ini mendapat perhatian dan dampak luas. Karena kemudian banyak yang menyadari bahwa kesehatan perempuan bukan hanya tentang kehamilan dan melahirkan. Tapi juga pentingnya menjaga kesehatan dasar panggul agar tidak terjadi rahim turun, gangguan berkemih, gangguan buang air besar dan buang angin serta gangguan fungsi seksual. Termasuk juga mengenali gejala awal, melakukan penanganan yang sesuai serta memanfaatkan kemajuan teknologi untuk penanganannya termasuk pemanfaatan sel punca.
Pemimpin perempuan
Menjadi pemimpin perempuan bukan sekadar kebanggaan. Tapi juga sebuah amanah yang harus dilakukan dengan tanggung jawab dan diselesaikan dengan baik.
Pada 2023, Prof Eighty mendapatkan tugas sebagai Wakil Dekan II di Fakultas Vokasi. Kaget. Karena harus mengemban jabatan struktural bukan di rumah sendiri. Tapi justru ini menjadi tantangan. "Seorang pemimpin harus bisa beradaptasi di mana pun tempatnya," ungkap ibu dari Nawwaf, Nabil dan Nafis ini.
Saat ini, sejak 1 September 2025, ia menjadi pimpinan nomer satu di Fakultas Kedokteran UNAIR. Kembali ke rumah yang sudah membesarkannya.
Dalam proses pendidikan, ia ingin mewujudkan FK UNAIR sebagai Fakultas Kedokteran yang dapat menghasilkan dokter bintang tujuh. Yakni dokter sebagai penyedia layanan kesehatan, pengambil keputusan, komunikator, pemimpin masyarakat, manajer, pembelajar seumur hidup, dan peneliti, yang mempunyai nilai iman dan akhlak baik.
Dalam ruang besar, konsep BRIGHT yang diusungnya, diharapkan mampu mewujudkan visi dan misi Fakultas Kedokteran UNAIR serta mendukung Visi dan Misi UNAIR. Yaitu Menjadi Fakultas Kedokteran yang mandiri, inovatif, terkemuka di tingkat nasional dan internasional, pelopor pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi kedokteran, entrepreneurship serta humaniora berdasarkan moral agama.


















