Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Harga Sembako Kompak Naik, Telur Jadi Anak Tiri Pasar Pangan Magetan

Harga Sembako Kompak Naik, Telur Jadi Anak Tiri Pasar Pangan Magetan
Harga telur ayam di tingkat peternak Magetan tak kunjung naik. IDN Times/Riyanto.
Intinya Sih
  • Harga telur di Magetan tetap stagnan sekitar Rp22.800 per kilogram di tingkat peternak, menyebabkan stok menumpuk dan sebagian dikirim ke luar daerah karena permintaan lokal menurun.
  • Sejumlah kebutuhan pokok seperti beras, gula, tepung, dan minyak goreng mengalami kenaikan harga signifikan dalam beberapa pekan terakhir, membuat masyarakat semakin terbebani biaya belanja harian.
  • Bawang putih mencatat lonjakan tertinggi hingga Rp34 ribu per kilogram akibat pengaruh kenaikan dolar dan BBM yang memicu naiknya biaya impor serta distribusi barang kebutuhan pokok.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Magetan, IDN Times – Kenaikan harga kebutuhan pokok kembali dirasakan masyarakat Kabupaten Magetan. Sejumlah komoditas pangan seperti beras, gula, minyak goreng, hingga bawang putih mengalami lonjakan harga dalam beberapa pekan terakhir. Namun, di tengah tren kenaikan tersebut, telur ayam justru menjadi satu-satunya komoditas yang belum menunjukkan kenaikan harga.

Kondisi ini membuat telur seolah menjadi anak tiri di pasar pangan. Saat harga bahan pokok lain terus merangkak naik, harga telur justru bertahan rendah dan membuat peternak kesulitan mendapatkan keuntungan.

1. Harga telur stagnan, stok menumpuk di peternak

Riyanto
Harga telur ayam di tingkat peternak Magetan tak kunjung naik. IDN Times/Riyanto.

Ook Cahyadi, pedagang di Pasar Sayur Magetan, mengatakan harga telur saat ini berada di kisaran Rp24 ribu per kilogram di tingkat pedagang. Sementara harga di tingkat peternak hanya sekitar Rp22.800 per kilogram.

Bahkan, sebagian peternak terpaksa mengirim telur ke luar daerah seperti Semarang dan Yogyakarta dengan harga sekitar Rp21.500 per kilogram karena stok yang terus menumpuk.

"Daripada tidak terjual dan menumpuk di kandang, akhirnya banyak yang dikirim ke luar daerah," ujar Ook, Senin (16/6/2026).

Menurutnya, instruksi Badan Gizi Nasional (BGN) terkait penyerapan telur untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) belum memberikan dampak berarti terhadap harga di tingkat peternak. Di sisi lain, daya beli masyarakat yang menurun membuat permintaan telur belum mampu mengangkat harga pasar.

2. Beras, gula, hingga minyak goreng mengalami kenaikan

Riyanto
Harga Minyak goreng MinyaKita dijual di atas HET. IDN Times/Riyanto.

Berbeda dengan telur, sejumlah kebutuhan pokok lainnya justru mengalami kenaikan harga. Beras yang sebelumnya dijual Rp14 ribu per kilogram kini naik menjadi Rp14.500 per kilogram. Harga gula pasir juga naik cukup signifikan. Dari sebelumnya sekitar Rp15.800 per kilogram, kini mencapai Rp17.500 per kilogram.

Kenaikan juga terjadi pada produk tepung. Tepung gandum naik dari Rp8 ribu menjadi Rp9 ribu per kilogram, sementara tepung kanji melonjak dari Rp9 ribu menjadi Rp13 ribu per kilogram.

Yang menarik, minyak goreng rakyat MinyaKita justru dijual lebih mahal dibanding sejumlah minyak goreng pabrikan. Harga Minyakita saat ini mencapai Rp21 ribu hingga Rp22 ribu per liter dan kerap sulit ditemukan di pasaran. Padahal, beberapa merek minyak goreng pabrikan seperti Fortune, Rizki, dan Sania dijual di kisaran Rp21 ribu per liter.

3. Bawang putih melonjak tajam, pedagang sebut efek dolar dan BBM

Riyanto
Aktivitas jual beli di pasar sayur Magetan. IDN Times/Riyanto.

Kenaikan paling mencolok terjadi pada bawang putih. Wartini, pedagang bumbu dapur di Pasar Sayur Magetan, menyebut harga bawang putih naik drastis dari Rp23 ribu menjadi Rp34 ribu per kilogram atau melonjak Rp11 ribu.

Sementara itu, harga bawang merah saat ini berada di kisaran Rp24 ribu per kilogram. Untuk komoditas cabai, harga cabai rawit mencapai Rp70 ribu per kilogram, cabai merah besar Rp50 ribu per kilogram, sedangkan cabai merah keriting sekitar Rp10 ribu per kilogram.

Menurut para pedagang, kenaikan harga berbagai kebutuhan pokok dipicu oleh melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dan kenaikan harga BBM. Kondisi tersebut berdampak langsung pada barang-barang yang masih bergantung pada pasokan impor, terutama bawang putih. "Kebanyakan barang yang naik itu memang dipengaruhi barang impor. Saat dolar naik dan biaya distribusi ikut naik, harga di pasar juga langsung terdorong," kata Wartini.

Kondisi ini membuat masyarakat harus merogoh kocek lebih dalam untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sementara itu, peternak telur justru masih menunggu momentum agar harga komoditas mereka ikut bergerak naik seperti kebutuhan pokok lainnya.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Faiz Nashrillah
EditorFaiz Nashrillah

Latest News Jawa Timur

See More