Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Alarm Harga Sembako Jatim saat Kemarau: Beras Naik, Telur Masih Terpuruk

Alarm Harga Sembako Jatim saat Kemarau: Beras Naik, Telur Masih Terpuruk
Karung tumpukan beras hasil panen petani di Gudang Bulog. IDN Times/Ardiansyah Fajar.
Intinya Sih
  • Harga beras premium dan medium di Jawa Timur naik akibat menurunnya produksi padi saat musim kemarau, membuat pemerintah fokus menjaga stabilitas pasokan pangan.
  • Bulog Jatim menggencarkan program SPHP dengan realisasi 65.648 ton beras untuk menahan kenaikan harga dan memastikan harga tetap di bawah batas HET nasional.
  • Harga telur ayam ras dan daging ayam turun, sementara minyak goreng MinyaKita naik; pemerintah menyalurkan bantuan pangan bagi 5,63 juta keluarga guna menjaga daya beli masyarakat.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Surabaya, IDN Times - Memasuki musim kemarau, sejumlah komoditas bahan pokok di Jawa Timur (Jatim) mulai menunjukkan pergerakan harga yang perlu diwaspadai. Beras premium dan medium terpantau naik, sementara harga telur ayam ras di tingkat konsumen justru masih melemah di tengah keluhan peternak yang merugi akibat anjloknya harga di tingkat produksi.

Berdasarkan data Sistem Informasi Ketersediaan dan Perkembangan Harga Bahan Pokok (Siskaperbapo) Jatim per 8 Juni 2026 pukul 14.00 WIB, harga beras premium naik Rp19 menjadi Rp14.908 per kilogram. Sementara beras medium naik Rp5 menjadi Rp12.935 per kilogram.

Kenaikan tersebut terjadi ketika produksi padi mulai menurun seiring berakhirnya masa panen raya dan masuknya musim kemarau. Kondisi ini membuat pemerintah mulai memberi perhatian khusus terhadap stabilitas pasokan beras di Jatim.

Pemimpin Wilayah Perum Bulog Kanwil Jatim, Langgeng Wisnu Adinugroho mengakui, beras menjadi komoditas yang paling mendapat perhatian karena potensi kenaikan harga akan semakin besar ketika pasokan hasil panen mulai berkurang. "Memasuki musim kemarau panen sudah mulai berkurang sehingga harga beras menjadi atensi pemerintah," ujarnya.

Untuk menahan laju kenaikan harga, Bulog terus menggencarkan program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP). Hingga awal Juni, realisasi penyaluran beras SPHP di Jatim telah mencapai 65.648 ton atau sekitar 66 persen dari target 98.767 ton.

Menurut Langgeng, capaian tersebut menjadi realisasi tertinggi kedua secara nasional. Program SPHP ditujukan menjaga harga beras medium tetap berada di bawah batas Harga Eceran Tertinggi (HET) sebesar Rp13.500 per kilogram.

"Harga jual beras SPHP dari gudang Bulog Rp11.000 per kilogram dan harga ke konsumen maksimal Rp12.500 per kilogram," katanya.

Meski beras mulai naik, tekanan justru terjadi pada komoditas telur ayam ras. Data Siskaperbapo menunjukkan harga telur ayam ras di tingkat konsumen turun Rp104 menjadi Rp25.660 per kilogram.

Penurunan itu terjadi saat ribuan peternak di Jatim tengah menghadapi krisis harga. Beberapa hari sebelumnya, Pemprov Jatim dan Badan Gizi Nasional (BGN) bahkan turun tangan karena harga telur di tingkat peternak hanya berkisar Rp20.000-Rp20.500 per kilogram, jauh di bawah harga keekonomian produksi.

Selain telur, harga daging ayam ras juga mengalami penurunan cukup signifikan sebesar Rp874 menjadi Rp33.446 per kilogram. Sebaliknya, harga daging sapi masih merangkak naik menjadi Rp124.439 per kilogram.

Pada kelompok minyak goreng, harga MinyaKita tercatat naik Rp47 menjadi Rp16.405 per liter. Angka tersebut masih berada di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) nasional Rp15.700 per liter.

Langgeng mengatakan pemerintah juga terus menggelontorkan minyak goreng melalui pasar rakyat dan jaringan pemantauan harga pangan. Selama periode April hingga Juni 2026, Bulog Jatim telah menyalurkan 2,23 juta liter minyak goreng, dengan 64 persen distribusi terserap melalui pasar rakyat.

Meski demikian, hasil pemantauan Satgas Pangan di Pasar Soponyono dan Pasar Wonokromo menunjukkan stok MinyaKita masih menjadi perhatian pedagang karena tingginya permintaan masyarakat. "Beberapa pedagang berharap ketersediaan MinyaKita dapat ditambah karena permintaan masih cukup besar," ungkap Langgeng.

Di sisi lain, pemerintah juga mengandalkan program bantuan pangan untuk meredam tekanan harga sekaligus menjaga daya beli masyarakat. Sebanyak 5,63 juta keluarga penerima manfaat di Jatim mulai menerima bantuan berupa 20 kilogram beras dan 4 liter minyak goreng. Total bantuan yang disalurkan mencapai 112.769 ton beras dan 22,5 juta liter minyak goreng untuk alokasi dua bulan.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Faiz Nashrillah
EditorFaiz Nashrillah

Latest News Jawa Timur

See More