Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Dinkes Magetan Ungkap 4 Penyebab Gangguan Mental di Generasi Alpha

Dinkes Magetan Ungkap 4 Penyebab Gangguan Mental di Generasi Alpha
Suwantiyo, Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2P) Dinas Kesehatan Magetan. IDN Times/ Riyanto.
Share Article

Magetan, IDN Times – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Magetan, Jawa Timur, mengungkapkan bahwa jumlah remaja Generasi Alpha yang mengalami gangguan kesehatan mental mengalami penurunan. Dari sebelumnya sekitar 600 kasus, kini tersisa 483 kasus berdasarkan hasil skrining kesehatan jiwa di sejumlah sekolah. Meski menurun, tantangan terkait kesehatan mental di kalangan remaja masih menjadi perhatian serius.

1. Data menurun, tapi "Human Stories" belum terdokumentasi

Ilustrasi/ IDN Times/ Riyanto.
Ilustrasi/ IDN Times/ Riyanto.

Suwantiyo, Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2P) Dinkes Magetan, menyebut bahwa tren ini sejalan dengan kondisi nasional. Berdasarkan data, satu dari tiga remaja Indonesia yang berusia 10 hingga 17 tahun mengalami masalah kesehatan mental. “Setiap tahun, satu dari dua puluh remaja dalam rentang usia tersebut didiagnosis dengan gangguan mental,” ujar Suwantiyo.

Namun, ia mengakui bahwa Dinkes Magetan belum memiliki data mendalam atau “human stories” terkait kondisi keluarga dan remaja yang mengalami masalah mental. “Kami perlu survei lebih lanjut untuk memahami lebih spesifik penyebab dan dampaknya,” tambahnya.

2. Penyebab utama gangguan mental di kalangan remaja

Ilustrasi. IDN Times/ Riyanto.
Ilustrasi. IDN Times/ Riyanto.

Suwantiyo menjelaskan bahwa ada beberapa faktor utama yang menyebabkan gangguan kesehatan mental pada remaja di Magetan. Faktor-faktor tersebut mencakup ketidakhadiran ayah dalam pengasuhan, membuat ibu kewalahan dan anak merasa terlantar. 

Sebab kedua, kata dia, orang tua yang terlalu sibuk, sehingga anak dibesarkan oleh pengasuh lain. Atau bisa juga karena ketergantungan pada gadget dan media sosial, yang mengurangi interaksi sosial secara langsung. Terakhir adalah tekanan akademik yang tinggi, membuat remaja rentan stres.

“Penggunaan gadget yang berlebihan sejak usia dini dapat memicu fobia sosial pada anak-anak. Mereka jadi cenderung menghindari interaksi sosial langsung,” jelas Suwantiyo.

3. Generasi Alpha rentan fobia sosial

Ilustrasi. IDN Times/ Riyanto.
Ilustrasi. IDN Times/ Riyanto.

Remaja Generasi Alpha, yang lahir antara tahun 2010 hingga 2025, dinilai lebih rentan terhadap fobia sosial. Hal ini, menurut Suwantiyo, disebabkan oleh kurangnya interaksi sosial yang diberikan orang tua akibat perhatian yang sering teralihkan oleh gadget. Selain itu, kurangnya dukungan emosional membuat anak-anak lebih sensitif dalam berinteraksi dengan lingkungan sekitar.

Untuk mengatasi masalah ini, Dinkes Magetan bersama pemerintah daerah telah menjalankan berbagai program edukasi. “Kami melibatkan sekolah-sekolah dalam kegiatan fisik seperti olahraga dan pramuka untuk mengurangi ketergantungan pada gadget,” ujarnya. 

Selain itu, kader kesehatan di masyarakat juga terus memberikan edukasi kepada orang tua mengenai pentingnya keseimbangan aktivitas bagi anak-anak.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Riyanto
EditorRiyanto

Latest News Jawa Timur

See More

29.869 Murid Lolos SPMB SMA Jatim, Jalur SMK Masih Dibuka

28 Jun 2026, 09:48 WIBNews