Cerita Evakuasi Mahasiswa dari Sudan: Hanya Boleh Bawa 1 Ransel

Surabaya, IDN Times - Sudan masih memanas karena konflik bersenjata. Dentuman ledakan. Desing peluru masih terdengar jelas di permukiman warga. Suara-suara itu juga didengar langsung oleh mahasiswa Indonesia yang berada di sana.
"Kondisinya menegangkan, terdengar suara tembakan maupun dentuman ledakan. Suara tank nembak juga terdengar jelas," ujar Salman Nasrullah Najib (24) saat ditemui IDN Times.
Jelasnya suara yang didengar Salman ini lantaran lokasi permukiman memang tak jauh dari markas pasukan paramiliter Rapid Support Forces (RSF). Diketahui, konflik Sudan ini dipicu oleh pertikaian bersenjata antara militer dengan paramiliter.
"Seminggu konflik membuat toko yang ada di sekitar kita tutup. Bahkan ketika kita mau beli (sesuatu) itu dilarang," beber dia.
Larangan itu diberlakukan oleh pedagang di Sudan karena barang dagangannya untuk persediaan pribadi. Alhasil para mahasiswa Indonesia maupun warga asli Sudan sendiri harus memutar otak untuk bisa mencukupi kebutuhan pokoknya.
Beruntung, Salman bersama WNI lainnya dapat dievakuasi. "Hari Jumat sore kita dikumpulkan Pengurus Pelajar Indonesia, kemudian ada kabar dari KBRI akan diadakan evakuasi. Karena sifatnya mendadak seluruh diminta bersiap bawa barang satu tas ransel saja," ungkap dia.
Pada Sabtu, ratusan WNI dari Khortoum diberangkatkan ke Port Sudan. "Itu melakukan perjalanan darat sekitar 20 jam. Sampai di Port Sudan pagi hari," katanya. Di sana hanya diberi waktu istirahat sebentar. WNI kemudian dilayarkan ke Jeddah, Arab Saudi pada malam harinya.
"Perjalanan 22 jam sampai Jeddah. Sampai di Jeddah kami disambut KBRI semua tentara Jeddah. Kemudian istirahat di hotel. Lalu perjalanan udara dari Jeddah menuju Indonesia," sambung Salman.
Hingga kini, diakui mahasiswa asal Gresik ini kalau masih ada mahasiswa yang belum sampai Indonesia. Karena mereka terbagi dalam empat kloter. Terlepas dari itu, Salman sangat bersyukur sekaligus sedih dengan kondisi yang ada.
Dia bersyukur bisa dievakuasi pulang ke Indonesia. Tapi di sisi lain merasakan sedih. Karena studinya di Sudan sudah memasuki tahun keempat. Yang mana tahun terakhir untuk bisa mendapatkan gelar sarjana dari Sudan.
"Rencananya masih dipikirkan pihak kampus dan IAS (Ikatan Alumni Sudan) untuk bagaimana kelanjutan studi. Semoga ada kabar baik," harap dia.
















