Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Terungkap Santri Rentan Stres, Ini Cara Kelola Kesehatan Mental

Kab. Probolinggo
Terungkap Santri Rentan Stres, Ini Cara Kelola Kesehatan Mental
Fakultas Kedokteran Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya menggelar kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (Pengmas) bertajuk “Peningkatan Kesehatan Mental Santri melalui Psikoedukasi dan Pelatihan Strategi Koping Adaptif” di Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong, Probolinggo. Dok. Unusa
  • Skrining kesehatan jiwa nasional penduduk usia 7 tahun ke atas mencapai 10,8 persen hingga 31 Desember 2025, melampaui target nasional 10 persen.
  • FK Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya mengadakan psikoedukasi dan pelatihan koping adaptif bagi santri Pesantren Zainul Hasan Genggong untuk mengenali stres dan menjaga kesehatan mental.
  • Tekanan santri dapat berasal dari akademik, kegiatan keagamaan, adaptasi asrama, dan rindu keluarga; kegiatan mencakup pre-post-test, diskusi, pemeriksaan kesehatan, serta pendampingan profesional.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Probolinggo, IDN Times - Kesehatan mental menjadi perhatian penting di kalangan remaja, termasuk santri yang menjalani aktivitas pendidikan, keagamaan, dan kehidupan berasrama dengan berbagai tuntutan. Pemerintah pun terus mendorong deteksi dini melalui skrining kesehatan jiwa.

Secara nasional, hingga 31 Desember 2025, cakupan skrining kesehatan jiwa penduduk usia 7 tahun ke atas mencapai 10,8 persen, melampaui target nasional sebesar 10 persen.

Di tengah upaya tersebut, edukasi mengenai kesehatan mental dinilai penting dilakukan sejak lingkungan pendidikan, termasuk pondok pesantren. Fakultas Kedokteran Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya menggelar kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (Pengmas) bertajuk “Peningkatan Kesehatan Mental Santri melalui Psikoedukasi dan Pelatihan Strategi Koping Adaptif” di Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong, Probolinggo.

Kegiatan tersebut menyasar para santri dengan tujuan membekali mereka kemampuan mengenali tanda-tanda masalah kesehatan mental, menjaga kondisi psikologis, serta mengelola tekanan secara lebih sehat.

Pengasuh Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong, Ustadz Muhammad Syifauddin, mengapresiasi kegiatan tersebut. Menurutnya, perhatian terhadap kesehatan mental perlu berjalan beriringan dengan pendidikan agama dan pembentukan karakter santri.

“Kami menyambut baik kegiatan ini karena kesehatan mental merupakan bagian penting dalam pembentukan karakter santri. Kami berharap para santri tidak hanya memiliki ilmu agama yang baik, tetapi juga mampu menjaga kesehatan fisik dan mentalnya, sehingga dapat menjalani proses belajar secara optimal,” ujarnya, Rabu (12/8/2026).

Sementara itu, dokter spesialis kedokteran jiwa dr. Nur Azizah menjelaskan, masa remaja merupakan periode yang penuh perubahan sehingga membutuhkan kemampuan adaptasi yang baik. Pada santri, tekanan dapat muncul dari berbagai kondisi, mulai tuntutan akademik, padatnya aktivitas keagamaan, proses adaptasi dengan lingkungan pesantren, hingga kerinduan terhadap keluarga.

Kemampuan mengenali gejala stres menjadi salah satu bekal penting bagi santri agar mampu menghadapi tekanan tanpa mengabaikan kondisi psikologisnya.

“Kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Santri perlu mengetahui bahwa merasa sedih, cemas, atau tertekan merupakan hal yang dapat dialami siapa saja. Yang terpenting adalah bagaimana cara mengelolanya dengan baik serta tidak ragu untuk mencari bantuan ketika menghadapi kesulitan,” kata dr. Azizah.

Pesan tersebut menekankan bahwa persoalan psikologis tidak seharusnya dianggap sebagai kelemahan. Mengenali perubahan emosi dan perilaku justru menjadi langkah awal untuk mendapatkan pertolongan sebelum masalah berkembang menjadi lebih berat.

Untuk mengetahui efektivitas kegiatan, para santri terlebih dahulu mengikuti pre-test sebelum materi diberikan. Setelah sesi edukasi selesai, peserta kembali mengikuti post-test. Evaluasi tersebut digunakan untuk melihat perubahan pemahaman santri mengenai kesehatan mental dan strategi koping adaptif setelah mengikuti psikoedukasi.

Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan diskusi dan Focus Group Discussion (FGD). Para santri aktif menyampaikan pertanyaan, mulai cara menghadapi tekanan akibat tugas dan hafalan, mengendalikan emosi, hingga langkah yang dapat dilakukan ketika mengetahui teman sedang menghadapi persoalan psikologis.

Antusiasme tersebut menunjukkan bahwa isu kesehatan mental memiliki kaitan erat dengan kehidupan remaja di lingkungan pesantren. Kemampuan berbicara mengenai tekanan psikologis dan mengetahui kapan harus mencari bantuan menjadi bagian penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang sehat.

Selain psikoedukasi, juga dilakukan pemeriksaan kesehatan bagi para santri. Pemeriksaan tersebut menjadi bagian dari upaya deteksi dini sekaligus membuka ruang konsultasi bagi santri mengenai kondisi kesehatan yang mereka alami.

Apabila ditemukan kondisi yang membutuhkan penanganan lebih lanjut, terutama berkaitan dengan kesehatan jiwa, tim akan melakukan tindak lanjut dan pendampingan secara profesional bersama pihak pesantren.

    Share Article
    Editorial Team

    Related Articles

    See More