Surabaya, IDN Times - Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Airlangga (Unair), M Riski Senja Virawan buka suara soal meninggalnya salah satu calon manajer Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), Anisa Muyassaroh meninggal dunia saat mengikuti Latihan Dasar Militer (Latsarmil) di Balikpapan, Kalimantan Timur. Riski menyebut, kakak tingkatnya itu dibunuh negara melalui Latsarmir.
"Kakak kita dibunuh TNI dan negara," ucap Riski melalui keterangan tertulis, Senin (29/6/2026).
Anisa yang merupakan alumni Program Studi (Prodi) S1 Fisika Unair ini diduga meninggal dunia akibat mengalami heat stroke pada Kamis (18/6/2026) ketika mengikuti pelatihan yang digelar Kementrian Pertahanan (Kemenhan). Sebelum mengembuskan napas terakhir, sempat mendapatkan penanganan medis di fasilitas kesehatan satuan sebelum akhirnya dirujuk ke rumah sakit.
Riski mengatakan, kematian Anisa menambah daftar dosa yang dilakukan pemerintah terhadap rakyat Indonesia. Padahal dosa-dosa lain belum juga ditebus.
"Belum usai dosa-dosa lainnya diselesaikan, negara kembali berulah. Setelah Program Makan Bergizi (MBG) belum selesai, kini Koperasi Desa Merah Putih menjadi bom waktu dosa negara kepada rakyatnya," ujarnya.
Menurutnya, Anisa Muyassaroh, menjadi salah satu korban program politik negara lewat Latsarmil. Pihaknya pun turut berduka cita atas meninggalnya warga Lamongan ini.
"Kami berbela sungkawa atas meninggalnya kakak-kakak kami dan semoga amal ibadahnya diterima oleh Tuhan yang Mahakuasa," ungkap Riski.
Baginya, atas kematian Anisa, negara tak merasa bersalah . Negara justru menganggap bahwa meninggalnya Anisa dan empat orang lainnya bukan bentuk kelalaian dan kegagalan program KDMP.
"Apa keterhubungan antara mengelola Koperasi dengan Latihan Militer. Sepositif apapun mencoba mencerna, menghubungkan militer dan koperasi ternyata memang salah satu bentuk kegagalan negara dalam merumuskan program. la hanya berorientasi pada kepentingan lingkarannya, bukan pada rakyat yang diayominya," tergasnya.
Mirisnya lagi, presiden seakan tak peduli terhadap berbagai kritik yang disampaikan masyarakat Indonesia. Riski sangat yakin, kematian Anisa juga tak pernah menjadi hal yang berarti bagi negara.
""Ndasmu," ucapnya. Jikalau ini memang kata hati dari Presiden, kurasa kematian kakak kami tidak akan pernah terdengar olehnya. Kami coba kritik secara sopan, kami dibalas dengan umpatan 'ndasmu'. Berbenahlah. Presiden antikritik," pungkas dia.
