Antrean di Pelabuhan Ketapang Belasan Kilometer, 6 Kapal Disiapkan

- Antrean kendaraan logistik menuju Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, memanjang hingga belasan kilometer, sehingga pemerintah menyiapkan langkah darurat untuk mempercepat penguraiannya.
- Tiga kapal telah memakai pola Tiba, Bongkar, Balik tanpa memuat dari Ketapang; Kementerian Perhubungan menyiapkan tiga kapal tambahan sehingga totalnya ditargetkan enam.
- Pemerintah juga menyiapkan pengalihan arus melalui Pelabuhan Jangkar dan Tanjung Wangi, termasuk rencana rute Jangkar-Padangbai serta mobilisasi kapal usai docking.
Surabaya, IDN Times - Antrean kendaraan logistik menuju Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, yang memanjang hingga belasan kilometer mendorong pemerintah menyiapkan sejumlah langkah darurat. Wakil Gubernur Jawa Timur (Jatim), Emil Elestianto Dardak mengungkapkan sedikitnya enam kapal disiapkan untuk mempercepat penguraian antrean, ditambah opsi pengalihan arus melalui Pelabuhan Jangkar dan Tanjung Wangi.
Emil mengatakan, saat ini tiga kapal telah menerapkan pola Tiba, Bongkar, Balik (TBB). Dengan skema tersebut, kapal yang tiba di pelabuhan langsung membongkar muatan kemudian kembali berlayar tanpa memuat kendaraan atau barang dari Ketapang. Pola ini diterapkan untuk mempercepat pergerakan kapal dan mengurangi penumpukan kendaraan logistik.
“Sudah ada tiga kapal yang menggunakan sistem TBB, yakni tiba, bongkar, lalu balik. Jadi, kapal-kapal tersebut tidak kembali memuat barang. Sistem ini diterapkan untuk mempercepat penguraian antrean yang terjadi di Ketapang,” ujarnya, Selasa (8/9/2026).
Emil menamnahkan, Direktorat Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan juga tengah menyiapkan tambahan tiga kapal. Jika terealisasi, jumlah kapal dengan pola operasi tersebut akan bertambah menjadi enam kapal.
“Kami juga sedang menyiapkan tambahan tiga kapal. Dengan demikian, jumlah kapal yang beroperasi akan bertambah,” katanya.
Langkah tersebut menjadi bagian dari hasil koordinasi Pemprov Jatim dengan Kementerian Perhubungan untuk merespons antrean panjang kendaraan logistik yang terjadi di kawasan Ketapang. Emil menyebut pemerintah tidak hanya mengandalkan penambahan kapal di Ketapang, tetapi juga menyiapkan jalur alternatif untuk memecah konsentrasi kendaraan.
Salah satu opsi yang tengah dimatangkan adalah mengoptimalkan Pelabuhan Jangkar di Situbondo. Saat ini sudah terdapat dua kapal yang melayani rute Jangkar-Lembar. Pemerintah membahas kemungkinan pengalihan salah satu kapal untuk melayani rute Jangkar-Padangbai, Bali, atau menambah kapal yang beroperasi dari Jangkar.
“Untuk Pelabuhan Jangkar, sebenarnya sudah beroperasi. Saat ini terdapat kapal yang melayani rute Jangkar-Lembar dan rencananya akan ditambah satu kapal lagi,” jelas Emil.
Sementara rute Jangkar-Padangbai, menurut Emil, sebenarnya telah masuk dalam skema Kementerian Perhubungan. Persoalan yang masih harus dipastikan adalah ketersediaan kapal yang dapat menjalankan rute tersebut.
“Rute Jangkar-Padangbai sebenarnya sudah masuk dalam rencana atau skema yang ada di Kementerian Perhubungan. Tinggal memastikan ketersediaan kapalnya,” katanya.
Opsi lain adalah mengoptimalkan Pelabuhan Tanjung Wangi, Banyuwangi. Emil mengatakan terdapat sejumlah kapal yang selama ini beroperasi di kawasan tersebut, tetapi sebagian sedang menjalani docking.
Pemerintah berharap kapal-kapal yang selesai menjalani perawatan dapat segera dimobilisasi untuk membantu mengurangi antrean kendaraan logistik yang kini menumpuk menuju Ketapang.
“Harapannya, jika kapal-kapal tersebut sudah siap, dapat segera dimobilisasi untuk membantu mengurai kemacetan dan antrean panjang yang dihadapi para sopir truk,” pungkasnya.



















