Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

3.834 Hektare Jatim Terbakar, Ijen dan Gunung Butak Jadi Titik Panas

Kota Surabaya
3.834 Hektare Jatim Terbakar, Ijen dan Gunung Butak Jadi Titik Panas
ilustrasi kebakaran hutan di pegunungan (pexels.com/K)
  • Karhutla di Jawa Timur sepanjang 2026 telah menghanguskan sedikitnya 3.834,35 hektare, dengan luasan terbesar tercatat di Lumajang, Malang, dan Pasuruan.
  • Kawah Ijen menjadi prioritas karena kebakaran sejak 3 September berdampak sekitar 20 hektare; helikopter water bombing dialihkan dari Semeru, meski medan curam dan angin kencang menghambat operasi.
  • Gunung Butak terdampak sekitar 300 hektare dan dipadamkan manual, sementara BPBD memperkuat pencegahan melalui pembasahan area rawan serta operasi modifikasi cuaca di sejumlah wilayah.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Surabaya, IDN Times - Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Jawa Timur (Jatim) sepanjang 2026 telah melahap sedikitnya 3.834,35 hektare. Di tengah luasnya area terdampak, dua kawasan kini menjadi fokus penanganan karena api masih mengancam, yakni Kawah Ijen di Banyuwangi-Bondowoso dan Gunung Butak di wilayah Malang-Batu.

Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Jatim Gatot Soebroto mengatakan, penanganan karhutla di Ijen terus diperkuat setelah kebakaran yang terjadi sejak 3 September 2026. Pemprov Jatim bahkan menggeser helikopter water bombing yang sebelumnya digunakan untuk penanganan kebakaran di Gunung Semeru ke kawasan Ijen.

"Seperti kita ketahui, tanggal 3 September Ijen mengalami kebakaran dan kami mengirimkan helikopter water bombing setelah adanya surat permohonan dari BKSDA dan juga surat tanggap darurat Bupati Banyuwangi," ujarnya, Senin (7/9/2026).

Helikopter tersebut mulai digeser ke Ijen setelah operasi pemadaman di Semeru dihentikan. Pada Minggu (6/9/2026), helikopter melakukan dua kali sortiewater bombing melalui wilayah Bondowoso dengan kapasitas sekitar satu ton air dalam sekali pengeboman udara.

Namun, operasi udara tidak dilakukan pada Senin karena helikopter menjalani perawatan rutin. Water bombing dijadwalkan kembali dilakukan Selasa (8/9/2026).

Hingga Senin, luas area terdampak kebakaran di kawasan Ijen masih tercatat sekitar 20 hektare. Angka tersebut belum berubah karena pemetaan ulang belum dapat dilakukan.

Gatot mengatakan kondisi medan menjadi salah satu tantangan terbesar pemadaman. Area yang terbakar berada di tebing curam dengan angin yang sangat kencang. Kondisi tersebut menyulitkan pergerakan tim darat sekaligus membuat operasi udara sangat bergantung pada perubahan cuaca. "Wilayah Ijen ini sangat rentan karena wilayah yang terbakar adalah daerah tebing dan juga angin yang sangat kencang. Ini yang memengaruhi kesulitan tim darat untuk melakukan pemadaman serta terganggunya operasional helikopter saat water bombing karena cuacanya sering berubah dan anginnya kencang," jelasnya.

Dua lokasi menjadi fokus penanganan saat ini. Pertama, kawasan Gunung Merapi Ungup-Ungup di Desa Tamansari, Kecamatan Licin, Kabupaten Banyuwangi. Kedua, Dusun Curahmacan, Desa Kalianyar, Kecamatan Ijen, Kabupaten Bondowoso.

Tim darat dikerahkan untuk melakukan penyisiran dan pemadaman pada area yang dapat dijangkau. BPBD Jatim juga mengirimkan personel Tim Reaksi Cepat (TRC) untuk bergabung dengan tim yang telah berada di lokasi, sekaligus membawa peralatan pendukung seperti alat gepyok, pakaian tahan api dan cairan pemadam.

Kondisi medan juga membuat perkembangan luas kebakaran belum dapat dipastikan. Pemetaan menggunakan drone belum dilakukan karena terdapat kekhawatiran gangguan sinyal yang dapat menyebabkan perangkat jatuh di kawasan tebing. "Untuk pendataan perlu dilakukan pemetaan dengan drone, tetapi itu belum bisa dilakukan karena ada kekhawatiran sinyal hilang dan drone-nya bisa jatuh di situ," kata Gatot.

Lebih lanjut, Gatot bilang, penggeseran helikopter ke Ijen dilakukan dengan mempertimbangkan tingkat kedaruratan masing-masing wilayah. Ijen dinilai lebih kritis karena wilayah Banyuwangi dan Bondowoso telah menetapkan status tanggap darurat, sedangkan untuk Butak, Kota Batu masih berstatus siaga darurat dan status tanggap darurat telah ditetapkan Kabupaten Malang. "Sehingga inilah kenapa kami melakukan penggeseran helikopter ke wilayah Ijen, karena memang Ijen sudah lebih kritis sesuai dengan surat tanggap darurat tersebut," katanya.

Di luar Ijen, kawasan Gunung Butak juga menjadi perhatian serius. BPBD Jatim mencatat sekitar 300 hektare kawasan Gunung Butak telah terdampak kebakaran. Wilayah yang terbakar berada di kawasan Gunung Butak, Desa Pandesari, Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang. Pemadaman masih dilakukan secara manual melalui wilayah Malang dan Batu.

Tim dibagi dalam beberapa sektor. Salah satu tim melakukan penyisiran dari Pos 3 menuju puncak Gunung Butak, sedangkan tim di Pos 2 melakukan pemantauan di kawasan puncak dan sabana untuk mengantisipasi munculnya titik api baru.

Secara keseluruhan, karhutla Jatim pada 2026 telah mencapai 3.834,35 hektare. Tiga kejadian dengan luasan terbesar tercatat di Lumajang, Malang dan Pasuruan. Kebakaran hutan di Lumajang pada 26 Agustus mencapai 1.888,91 hektare, disusul Malang pada 1 September seluas 1.121,6 hektare dan Pasuruan pada 19 Agustus seluas 334,94 hektare.

Sejumlah daerah juga tercatat mengalami kejadian karhutla berulang, antara lain Ponorogo, Magetan, Trenggalek, Probolinggo dan Bondowoso.

BPBD Jatim kini juga mengantisipasi potensi kebakaran di kawasan Gunung Arjuno dan Wilis. Tim darat telah melakukan pembasahan pada area yang dinilai rentan untuk mencegah api berkembang.

Upaya pencegahan juga diperkuat melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Gatot mengatakan kegiatan tersebut telah dimulai sejak Sabtu dan mulai menghasilkan hujan di sejumlah wilayah, meski dengan intensitas ringan hingga sedang. "Alhamdulillah hingga hari ini masih bisa dikendalikan dan tim darat sudah melakukan pembasahan-pembasahan di wilayah-wilayah yang dirasa rentan," katanya.

Hujan tercatat di sejumlah wilayah Lumajang, Banyuwangi, Malang, Jember, Trenggalek hingga Pacitan. Menurut Gatot, hujan tersebut membantu proses pembasahan kawasan yang rawan terbakar. "Artinya OMC yang dilakukan ini sangat bermanfaat dan juga bisa membantu proses-proses pemadaman," ucapnya.

Pada Senin, operasi modifikasi cuaca kembali dilakukan dengan penyemaian bahan NaCl sebanyak 800 kilogram di wilayah Gunung Argopuro dan Ijen, termasuk kawasan Alas Purwo. Penyemaian dilakukan untuk memanfaatkan potensi awan yang tersedia sehingga diharapkan dapat memicu hujan di kawasan rawan karhutla.

Gatot mengatakan operasi tersebut masih berlangsung dan pesawat yang membawa bahan penyemaian telah diberangkatkan sekitar pukul 11.00 WIB tadi.

    Share Article
    Editorial Team

    Related Articles

    See More