Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

22 Tahun Kematian Munir, Keadilan Belum Tampak

Kota Batu
22 Tahun Kematian Munir, Keadilan Belum Tampak
Peringatan 22 tahun kematian Munir. (IDN Times/Rizal Adhi Pratama)
  • Sejumlah warga dan pegiat HAM berziarah ke makam Munir Said Thalib di Kota Batu untuk memperingati 22 tahun kematiannya akibat diracun.
  • Kakak Munir, Anisa Thalib, mengenang Munir sebagai pribadi pemberani sejak kecil yang kemudian aktif memberi bantuan hukum dan membela kelompok tertindas.
  • Aksi Kamisan Malang menilai keadilan belum terwujud meski kasus ditutup karena kedaluwarsa, serta mendorong pembukaan kembali melalui Lembaga Ad Hoc Komnas HAM.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Batu, IDN Times - Sejumlah orang berpakaian hitam-hitam memadati Tempat Pemakaman Umum (TPU) di Jalan Agus Salim, Kelurahan Sisir, Kecamatan Batu, Kota Batu pada Senin (7/9/2026). Ternyata mereka tengah memperingati 22 tahun kematian Aktivis Hak Asasi Manusia (HAM), Munir Said Thalib, yang tewas diracun 22 tahun lalu.

  1. 1. Kakak perempuan Munir mengenang bagaimana adiknya yang pemberani

    Anisa Thalib, kakak perempuan Munir, hadir dalam acara peringatan 22 tahun kematian aktivis Munir tersebut.
    Kakak perempuan Munir, Anisa Thalib saat menghadiri peringatan 22 tahun kematian Munir. (IDN Times/Rizal Adhi Pratama)

    Kakak Munir, Anisa Thalib mengenang bagaimana ia tumbuh bersama Munir di Kota Batu. Menurutnya, adiknya adalah sosok yang pemberani sejak kecil. Munir tidak pernah takut berkelahi dengan anak-anak lain yang mencoba merundungnya.

    "Dulu kan Munir badannya kecil dan rambutnya merah, jadi sering jadi sasaran bullying. Tapi anaknya berani tengkar, jadi sejak kecil memang sering berkelahi karena di-bully itu," terangnya di depan makam Munir.

    Sampai masuk kuliah di Fakultas Hukum (FH) Universitas Brawijaya (UB), Anisa mengatakan kalau Munir menjadi sosok yang lebih berani lagi dalam menegakkan keadilan. Ia seringkali memberikan bantuan hukum kepada tetangga dan teman-temannya yang bermasalah dengan hukum.

    "Ada temannya juga waktu itu kasus rumahnya mau diambil sama orang, Munir sudah bertindak kayak pengacaranya dan berhasil, terus berlanjut kemudian dia jalan turun ke buruh. .emang darah pemberaninya itu mulai kecil sudah nampak. Jadi, kalau apa yang dia mau ya berusaha untuk mencapainya dan memang selalu cenderung membela yang tertindas," tegasnya.

  2. 2. Sudah 22 tahun Munir meninggal, tapi keadilan belum tampak

    Peringatan 22 tahun kematian Munir sebagai penghormatan atas perjuangan penegakan hak asasi manusia di Indonesia.
    Peringatan 22 tahun kematian Munir. (IDN Times/Rizal Adhi Pratama)

    Sementara itu, Koordinator Aksi Kamisan Malang, Eko menyampaikan kalau mereka hari ini memang secara khusus berziarah ke makam Munir. Kegiatan ini juga bentuk simbolik dari protes kepada negara yang sampai sekarang tidak memberikan atensi yang cukup berarti kepada pengusutan kasus kematian Munir Said Thalib.

    "Jadi harapannya adalah kami berharap aksi ini tetap terus ada, bukan hanya di tanggal 7 September, tapi di setiap perlawanan teman-teman untuk menghadirkan sosok Munir dan sosok-sosok yang telah memperjuangkan keadilan HAM di Indonesia. Ini agar semua yang dicita-citakan oleh Munir, semua yang dicita-citakan oleh teman-teman yang berjuang, dan sudah mendahului tetap menjadi rangkaian utama dalam perjuangan teman-teman," ucapnya.

  3. 3. Perjuangan keadilan untuk Munir belum berakhir

    Suasana peringatan 22 tahun wafatnya aktivis HAM Munir dalam sebuah kegiatan publik yang didokumentasikan IDN Times.
    Peringatan 22 tahun kematian Munir. (IDN Times/Rizal Adhi Pratama)

    Kasus pembunuhan Munir memang telah ditutup oleh pihak kepolisian 4 tahun lalu karena dianggap telah kadaluarsa. Meskipun demikian, Eko menegaskan jika perjuangan masih belum berakhir. Masih ada upaya untuk mengupayakan kasus ini dibuka kembali lewat Lembaga Ad Hoc Komnas HAM.

    "Kita juga menuntut kepada negara untuk kembali menghadirkan kasus Munir, karena kita juga merespons terkait dengan hilangnya berkas TPF Munir di Kementerian Sekretariat Negara. Entah itu adalah kelalaian yang disengaja atau memang negara sebesar ini telah lalai untuk memberikan yang terbaik kepada anak bangsanya," pungkasnya.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More