Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

OMC Jatim Sebar 3,2 Ton NaCl, Hujan Turun di 11 Titik 6 Kabupaten

Kota Surabaya
OMC Jatim Sebar 3,2 Ton NaCl, Hujan Turun di 11 Titik 6 Kabupaten
Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa. (IDN Times/Khusnul Hasana)
  • Operasi Modifikasi Cuaca di Jawa Timur pada 3–6 September 2026 menyebarkan 3,2 ton NaCl dalam empat penerbangan untuk meningkatkan peluang hujan dan menekan risiko kekeringan serta karhutla.
  • Hujan ringan hingga sedang terpantau di 11 titik pada Lumajang, Banyuwangi, Malang, Jember, Trenggalek, dan Pacitan, berdasarkan pemantauan ARG BPBD Jatim.
  • Pemprov Jatim menjalankan OMC bersama BMKG dan Kementerian Kehutanan, disertai distribusi air bersih, deteksi dini, patroli, kesiapsiagaan pemadaman, serta penguatan peran Masyarakat Peduli Api.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Surabaya, IDN Times - Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di Jawa Timur (Jatim) mulai menunjukkan hasil di tengah ancaman kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih membayangi sejumlah wilayah. Empat kali operasi sepanjang 3–6 September 2026 telah menyebarkan total 3,2 ton bahan semai natrium klorida (NaCl), sementara hujan ringan hingga sedang terpantau turun di 11 titik pada enam kabupaten.

Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa mengatakan OMC menjadi salah satu langkah intervensi pemerintah untuk meningkatkan peluang turunnya hujan sekaligus menekan risiko karhutla dan dampak kekeringan. Pelaksanaannya dilakukan secara kolaboratif oleh Pemprov Jatim, Kementerian Kehutanan, dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), dengan koordinasi BPBD Jatim.

“Alhamdulillah, pelaksanaan OMC menunjukkan hasil positif. Berdasarkan pemantauan melalui perangkat ARG, hujan terpantau turun di 11 titik pada enam kabupaten yang menjadi wilayah sasaran prioritas,” ujanrya di Surabaya, Senin (7/9/2026).

Enam kabupaten tersebut yakni Lumajang, Banyuwangi, Malang, Jember, Trenggalek, dan Pacitan. Data Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops PB) BPBD Jatim menunjukkan, hujan yang turun bervariasi dari intensitas ringan hingga sedang.

Di Lumajang, hujan sedang tercatat di ARG Pronojiwo. Sementara hujan ringan terpantau di ARG Pasrujambe, Pasirian, dan Jokarto. Hujan ringan juga tercatat di Banyuwangi melalui ARG Lidjen Jambu dan ARG Kalibaru. Di Kabupaten Malang, hujan ringan terpantau di ARG Sitiarjo dan Dampit. Sementara itu, hujan ringan tercatat di ARG Rekayasa Panti, Jember; ARG Trenggalek; serta ARG Sudimoro, Pacitan.

Rangkaian OMC tersebut merupakan tindak lanjut Rapat Koordinasi Pengendalian Karhutla di Kantor Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Kota Malang, Kamis (3/9/2026). Operasi dilakukan berdasarkan kondisi atmosfer dan keberadaan awan potensial yang dipantau BMKG.

OMC perdana dilakukan Kamis pukul 15.50 WIB menggunakan pesawat CASA NC212/A-2104. Pesawat menyasar wilayah Lumajang dan Probolinggo dengan menyebarkan 800 kilogram NaCl. Sehari berikutnya, Jumat sekitar pukul 15.25 WIB, OMC kembali menyasar kawasan Probolinggo-Lumajang, termasuk Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), area di atas Kota Batu dan Gunung Arjuno, serta wilayah Malang. Sebanyak 800 kilogram NaCl kembali disebarkan.

Secara keseluruhan, empat kali operasi pada 3–6 September telah menyebarkan 3.200 kilogram NaCl dengan sasaran yang mencakup Malang, Kota Batu, Lumajang, Probolinggo, Jember, Bondowoso hingga Banyuwangi.

Khofifah mengatakan keberadaan awan potensial menjadi faktor penting dalam menentukan pelaksanaan OMC. Operasi tidak dilakukan secara sembarangan, melainkan menunggu kondisi atmosfer yang dinilai memungkinkan.

“OMC dilaksanakan ketika kondisi atmosfer dan ketersediaan awan potensial memungkinkan. Awan yang mulai bergerak memasuki sejumlah wilayah terus dipantau. Ketika dinilai potensial, kondisi tersebut dioptimalkan melalui OMC untuk meningkatkan peluang terjadinya hujan di wilayah sasaran,” jelasnya.

Menurut Khofifah, hujan yang mulai turun di sejumlah titik diharapkan memberikan dampak ganda, terutama membantu ketersediaan air dan mengurangi tingkat kerawanan karhutla. Namun, OMC tetap bukan satu-satunya instrumen penanganan.

“Tidak ada satu intervensi yang berdiri sendiri. Selain OMC, penanganan di lapangan melalui distribusi air bersih, penyediaan tandon, dan optimalisasi sumber air tetap berjalan untuk memastikan kebutuhan dasar masyarakat terpenuhi,” katanya.

Upaya tersebut dilakukan di tengah kewaspadaan terhadap potensi El Niño yang dapat meningkatkan risiko kekeringan dan karhutla. Pemerintah juga memperkuat sistem deteksi dan peringatan dini, pemetaan daerah rawan, patroli, serta kesiapsiagaan satuan tugas darat.

Peran Masyarakat Peduli Api (MPA) turut diperkuat, bersamaan dengan kesiapan personel dan peralatan pemadaman. Pemerintah daerah juga didorong menetapkan status keadaan darurat berdasarkan kondisi lapangan dan rekomendasi teknis.

Khofifah menegaskan penanganan karhutla tidak hanya mengandalkan pemadaman setelah api muncul. Deteksi dini dan respons cepat menjadi bagian penting untuk mencegah kebakaran meluas.

“Pemantauan dan respons cepat harus dilakukan secara berkelanjutan. Setiap informasi mengenai karhutla harus segera dikoordinasikan dan ditindaklanjuti agar api tidak meluas dan dampaknya dapat diminimalkan,” tegasnya.

Pelaksanaan OMC selanjutnya masih bersifat situasional. Pemprov Jatim bersama BMKG, Kementerian Kehutanan, BPBD, dan unsur terkait akan menentukan waktu serta sasaran berdasarkan perkembangan awan potensial dan kondisi atmosfer.

Selain intervensi teknis, Khofifah juga mengajak masyarakat dan tokoh agama melakukan Salat Istisqa sebagai ikhtiar spiritual menghadapi kekeringan. “Kami akan terus berikhtiar agar risiko karhutla dan dampak kekeringan dapat diminimalkan,” pungkas Khofifah.

    Share Article
    Editorial Team

    Related Articles

    See More