Sudah Empat Bulan, Warga Lamongan Lebaran dalam Kondisi Banjir

- Sebanyak 34 desa di enam kecamatan Lamongan terendam banjir saat Lebaran, dengan ketinggian air mencapai 35 sentimeter dan ribuan rumah serta fasilitas umum terdampak.
- Banjir terjadi sejak Desember 2025 akibat curah hujan tinggi dan limpasan air dari Waduk Gondang yang meningkatkan debit Sungai Bengawan Jero.
- Pemerintah menetapkan status tanggap bencana hidrometeorologi, sementara BPBD terus memantau kondisi melalui sistem EWS dan mengoperasikan pompa air untuk mempercepat penurunan debit banjir.
Lamongan, IDN Times - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur mencatat ada sebanyak 34 Desa di enam kecamatan Kabupaten Lamongan terendam banjir pada momen Lebaran Idulfitri, Sabtu (21/3/2026). Banjir merendam Kabupaten Lamongan sudah terjadi sejak Desember 2025 lalu.
Kabid Darlog BPBD Jatim, Satriyo Nurseno mengatakan enam kecamatan tersebut yakni Kalitengah, Turi, Karangbinangun, Deket, Glagah, dan Karanggeneng. Ketinggian banjir mencapai 35 sentimeter.
"Yang terdampak, 1.447 unit rumah, 12 tempat ibadah, 48 unit sekolah, 2 kantor desa, 2 fasilitas kesehatan dan 20 hektar sawah," tuturnya.
Satriyo menyebut, banjir di Lamongan terjadi sejak Selasa (16/12/2025), atau empat bulan lalu karena curah hujan yang tinggi dan ditambah air kiriman dari Waduk Gondang yang menyebabkan debit air Sungai Bengawan Jero mengalami kenaikan.
Banjir di Lamongan pun ditetapkan sebagai stasiun tanggap bencana hidrometeorologi. Penerapan ini berdasarkan keputusan Bupati Lamongan Nomor 100.3.3.2/123/KPTS/413.013/2026.
BPBD telah berupaya untuk menangani banjir di Lamongan. Personil BPBD Provinsi Jatim dan BPBD Kabupaten Lamongan melanjutkan pemantauan ketinggian genangan air melalui EWS Banjir dan Peil Blawi di Sungai Bengawan Jero.
"13 unit pompa air di Kuro dan 2 unit pompa air di Melik dengan total volume 378.180 m³ hingga saat ini masih dioperasikan guna mempercepat mengurangi debit air," terang dia.

















