13 Ribu Pelajar Bermata Minus, Pemkab Magetan Siapkan Ini

- Lebih dari 13 ribu pelajar di Magetan terdeteksi mengalami gangguan penglihatan berdasarkan skrining Dinas Kesehatan yang mencakup sekitar 24 persen dari total 57 ribu siswa SD hingga SMA.
- Pemkab Magetan tengah merumuskan pembentukan komite lintas tingkat untuk mengoordinasikan pencegahan dan penanganan gangguan mata, termasuk memastikan siswa mendapat pemeriksaan lanjutan dan bantuan kacamata.
- Keterbatasan biaya menjadi kendala utama penanganan, sehingga pemerintah berencana mengoptimalkan UKS serta mobil siaga desa guna mempermudah rujukan dan akses layanan kesehatan bagi siswa.
Magetan, IDN Times – Temuan lebih dari 13 ribu pelajar mengalami gangguan penglihatan di Kabupaten Magetan akhirnya mendorong Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Magetan menyiapkan langkah khusus. Sebuah komite yang bertugas mengoordinasikan pencegahan dan penanganan gangguan mata pada anak usia sekolah kini tengah dirumuskan.
Berdasarkan hasil skrining Dinas Kesehatan (Dinkes) Magetan sepanjang 2025 menemukan sekitar 24 persen dari 57 ribu pelajar SD hingga SMA mengalami gangguan penglihatan atau penurunan ketajaman penglihatan yang sebagian besar membutuhkan kacamata.
Wakil Bupati Magetan, Suyatni Priasmoro, mengatakan komite tersebut nantinya akan melibatkan berbagai unsur mulai tingkat kabupaten hingga desa. Tujuannya agar penanganan tidak berhenti pada proses pemeriksaan, tetapi juga memastikan siswa mendapatkan tindak lanjut yang dibutuhkan.
"Misalnya dari 600 siswa yang diperiksa, ada 32 anak yang mengalami gangguan penglihatan. Selanjutnya mereka dirujuk ke Puskesmas atau rumah sakit kabupaten. Nah, menindaklanjuti hal ini akan ada semacam komite yang mengendalikan koordinasi sampai tingkat kecamatan dan desa," ujarnya, Selasa (23/6/2026).
Pembentukan komite ini sekaligus menjadi pengakuan bahwa persoalan gangguan mata pada pelajar tidak bisa dianggap sepele. Sebab, selain tingginya angka kasus, banyak keluarga yang masih kesulitan mengakses pemeriksaan lanjutan maupun membeli kacamata untuk anak mereka.
Menurut Wabup, keterbatasan biaya menjadi kendala yang sering ditemui di lapangan. Tidak sedikit siswa yang telah terdeteksi mengalami gangguan penglihatan, namun belum mendapatkan penanganan optimal karena faktor ekonomi.
"Kalau harus beli kacamata tetapi tidak mampu, atau harus pemeriksaan lanjutan dan terkendala biaya transportasi, ini yang sedang kami rumuskan," katanya.
Selain menyiapkan mekanisme bantuan, Pemkab Magetan juga berencana mengoptimalkan kembali peran Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) serta memanfaatkan mobil siaga desa untuk membantu proses rujukan siswa ke fasilitas kesehatan.
Sebelumnya, Dinkes Magetan mengungkapkan bahwa mayoritas gangguan yang ditemukan berupa penurunan ketajaman penglihatan. Penggunaan gadget secara berlebihan disebut menjadi salah satu faktor yang diduga berkontribusi terhadap meningkatnya kasus gangguan mata pada anak usia sekolah, meski faktor keturunan juga turut berpengaruh.
Kini, setelah angka kasus mencapai lebih dari 13 ribu pelajar, Pemkab Magetan berharap sistem penanganan yang sedang disusun dapat menjadi solusi jangka panjang agar gangguan penglihatan tidak terus bertambah dan mengganggu proses belajar siswa di sekolah.
















