Surabaya, IDN Times - Ada kemenangan yang dirayakan dengan teriakan. Ada pula kemenangan yang justru membuat seseorang terdiam, menahan air mata, lalu menengadah kepada langit. Bagi Rachmat Irianto, malam 6 Agustus 2026 bukan sekadar malam ketika Persebaya Surabaya mengangkat Piala Presiden. Ada sesuatu yang jauh lebih personal di balik trofi itu.
Ada nama seorang ayah. Ada sebuah pusara. Ada janji yang pernah diucapkan tanpa banyak saksi. Dan ada perjalanan panjang seorang anak yang mencoba menunaikan pesan orang yang telah lebih dulu pergi. “Terima kasih sudah menjadi bagian dalam hidupku. Saya akan selalu menikmati anak tangganya. Saya datang, saya berucap, dan saya akan tepati. Persebaya juara, Yah!”
Kalimat itu ditulis Rachmat Irianto di media sosialnya setelah Persebaya memastikan gelar Piala Presiden 2026. Singkat, tetapi seperti pintu yang membuka kembali ingatan ke sebuah pagi yang jauh lebih sunyi.
Sekitar satu setengah tahun sebelumnya, tepatnya 26 Februari 2025, Rian—sapaan akrab Rachmat—berdiri di samping pusara ayahnya, Bejo Sugiantoro. Tidak ada selebrasi. Tidak ada sorak-sorai. Tidak ada ribuan orang yang memanggil namanya. Hanya air mata.
Rian memeluk foto sang ayah. Sesekali diciumnya gambar itu. Orang-orang di sekelilingnya memilih diam. Mereka tahu, ada duka yang tidak perlu diterjemahkan dengan kata-kata. Bejo pergi secara mendadak. Sehari sebelumnya, legenda Persebaya itu masih berpamitan untuk bermain sepak bola bersama rekan-rekannya. Namun, takdir berkata lain. Bejo kolaps dan nyawanya tak tertolong.
Rian ketika itu masih berada di Bandung. Ia sedang memperkuat Persib Bandung dan dalam masa perawatan cedera. Begitu kabar duka datang, ia bergegas pulang. Ia tidak ingin jenazah ayahnya menunggu terlalu lama.
Dengan langkah tertatih dan hati yang barangkali belum sepenuhnya menerima kenyataan, Rian mengikuti seluruh prosesi pemakaman. Dari salat jenazah di Masjid Nurul Jannah, Perumahan Taman Pondok Jati, Sidoarjo, hingga pemakaman di TPU Desa Geluran, Kecamatan Taman, Kabupaten Sidoarjo.
Di sana, di antara tanah yang perlahan menutup jasad sang ayah, Rian mengambil sebuah peran yang mungkin akan terus diingatnya sepanjang hidup. Ia mengumandangkan azan dan ikamah. Suaranya diselingi tangis. Ingatan tentang sang ayah datang seperti ombak. Tak terlihat dari kejauhan, tetapi ketika menghantam, ia membawa seluruh kenangan sekaligus.
Rian memeluk foto Bejo. Tatapannya tertuju pada batu nisan dengan nama ayahnya. Bejo Sugiantoro. Nama yang bagi sepak bola Indonesia bukan sekadar nama. Bagi Persebaya, Bejo adalah bagian dari sejarah. Ia pernah membawa Green Force meraih gelar Liga Indonesia Divisi Utama 1996/1997 dan 2004.
Dan di hadapan pusara itulah, sebuah tekad mulai tumbuh. Rian ingin pulang. Bukan sekadar pulang ke Surabaya. Ia ingin pulang ke Persebaya. Ia ingin mengenakan kembali warna hijau yang menjadi bagian dari hidup keluarganya. Ia ingin melanjutkan sesuatu yang pernah dikerjakan ayahnya. Membawa Persebaya menuju tangga juara.
Empat bulan setelah kepergian Bejo, Rian resmi kembali ke Persebaya. Kepulangannya membawa harapan, tetapi juga beban yang tidak ringan. Ia bukan hanya kembali sebagai pesepak bola. Ia kembali dengan sebuah amanah.
Namun sepak bola tidak mengenal cerita masa lalu. Di lapangan, nama besar keluarga tidak otomatis memberikan tempat di sebelas pertama. Rian harus memulai dari bawah. Cedera yang sebelumnya membekap membuatnya membutuhkan waktu untuk menemukan kembali tubuh dan permainannya. Sepanjang Super League 2025/2026, ia lebih sering menghangatkan bangku cadangan.
Di lini tengah, pemain muda seperti Toni Firmansyah mendapatkan kepercayaan. Posisi lain juga diisi pemain yang dinilai lebih siap secara fisik. Rian sesekali masuk sebagai pemain pengganti. Menit bermain datang sedikit demi sedikit. Tetapi target yang dibawanya dari pusara ayahnya belum terwujud. Persebaya mengakhiri kompetisi Super League di peringkat keempat.
Persib Bandung, mantan klub Rian, justru mempertahankan gelar juara. Ironi itu mungkin terasa pahit. Rian pulang ke Surabaya untuk membawa Persebaya juara, tetapi musim pertamanya justru berakhir dengan melihat mantan timnya kembali mengangkat trofi.
Namun, sepak bola mengajarkan satu hal. Pertandingan boleh selesai, tetapi perjalanan belum tentu berakhir. Rian tidak patah arang. Ia terus bekerja mengembalikan performanya. Ia berusaha menerjemahkan instruksi pelatih Bernardo Tavares dengan baik.
Kemudian datang Piala Presiden 2026. Turnamen pramusim itu menjadi panggung baru. Dan kali ini, panggung tersebut terasa semakin dekat dengan rumah. Surabaya menjadi salah satu kota penyelenggara bersama Bandung. Stadion Gelora Bung Tomo (GBT) kembali dipenuhi puluhan ribu Bonek dan Bonita. Hijau di tribun. Hijau di jalanan. Hijau di wajah-wajah yang datang dengan satu keyakinan. Persebaya harus menang.
Dukungan itu kemudian berbuah perjalanan sempurna di fase grup. Persebaya menang 1-0 atas Persija Jakarta, menang 1-0 atas PSMS Medan, dan menundukkan Port FC 2-1. Hanya satu gol bersarang ke gawang Persebaya sepanjang fase grup.
Di semifinal, tantangan berubah menjadi lebih emosional. Arema FC berdiri di hadapan Green Force. Namun Persebaya kembali menang. Gol tunggal Yuran Fernandes mengantarkan mereka ke final. Satu pertandingan lagi. Satu langkah lagi. Dan di ujungnya berdiri Persib Bandung.
Final Piala Presiden 2026 di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar, Bali, seperti menulis sendiri sebuah skenario yang sulit dibuat oleh seorang penulis. Persebaya melawan Persib. Mantan klub melawan klub yang kini dibela. Masa lalu melawan masa depan.
Dan di tengah cerita itu, Rachmat Irianto berdiri sebagai salah satu pemain utama. Rian dimainkan sejak menit awal pada pertandingan yang begitu menentukan. Ia mengisi lini tengah bersama Francisco Rivera dan Risto Mitrevski. Tetapi Rian tidak hanya bertugas menjaga keseimbangan permainan. Ia bergerak. Membaca ruang. Mencari celah. Dan pada satu momen, naluri menyerangnya muncul. Rian menyelinap ke pertahanan Persib dan memberikan umpan kunci kepada Ramadhan Sananta. Gol. Persebaya unggul.
Bagi Rian, mungkin ada sesuatu yang lebih dari sekadar assist di balik umpan itu. Ia sedang menghadapi klub yang pernah menjadi rumahnya. Namun kini ia bermain untuk rumah yang ingin ia bawa pulang sebuah piala. Persib kemudian menyamakan kedudukan melalui Patricio Matricardi.
Pertandingan berjalan semakin keras. Rian akhirnya ditarik keluar pada menit ke-64 dan digantikan Toni Firmansyah. Tetapi sebelum meninggalkan lapangan, terjadi satu adegan yang barangkali akan lebih lama hidup dalam ingatan daripada statistik pertandingan. Dari tribun, terdengar teriakan: “Ayah!”. Rian menoleh. Ia tersenyum dan melambaikan tangan. Sederhana. Hanya beberapa detik.
Beberapa detik itu terasa seperti ruang pribadi antara seorang anak dan ayah yang telah lama tiada. Pertandingan berakhir imbang. Adu penalti menjadi penentu. Persebaya akhirnya menang 6-5. Trofi menjadi milik Green Force. Dan di tengah lapangan, para pemain berlari merayakan kemenangan.
Rian tidak langsung ikut larut. Ia mendatangi bangku cadangan Persib. Menyalami dan memeluk pemain serta ofisial mantan klubnya. Tidak ada permusuhan yang tersisa di sana. Hanya penghormatan. Setelah itu, Rian berganti kaus hitam pemberian content creator Oscar. Di bagian depan kaus tersebut terpampang foto Bejo Sugiantoro dengan tulisan “Legend.”.
Barangkali, pada malam itu Rian tidak sedang membawa pulang sebuah trofi sendirian. Ia membawa pulang sebuah cerita. Cerita tentang seorang ayah yang pernah mengajarinya sepak bola. Tentang seorang anak yang pernah kehilangan pijakan. Tentang kepulangan. Tentang cedera. Tentang bangku cadangan. Tentang kegagalan. Dan akhirnya tentang sebuah janji yang perlahan menemukan bentuknya.
Ketika tiba waktunya mengangkat Piala Presiden, Rian sempat memilih berdiri di samping. Ia seperti ingin memberi ruang penghormatan kepada Persib, klub yang pernah membawanya merasakan gelar. Tetapi ketika diminta maju, ia tidak lagi menghindar. Rian mengangkat trofi bersama rekan-rekannya. Matanya berkaca-kaca. Ada sesuatu yang hanya ia sendiri yang benar-benar tahu. Namun bagi orang yang mengikuti perjalanan Rian, air mata itu mudah dibaca. Ada Bejo di sana. Ada pusara di Geluran. Ada azan yang terputus tangis. Ada sebuah foto yang dipeluk erat. Dan ada kalimat yang akhirnya benar-benar bisa diucapkan. “Persebaya juara, Yah!".
Pada malam yang sama, Surabaya berubah menjadi lautan hijau. Di warung-warung, perkampungan, markas kepolisian, hingga ruang-ruang sederhana tempat warga berkumpul, layar televisi menjadi pusat perhatian.
Ketika penalti terakhir memastikan Persebaya sebagai juara, kegembiraan pecah hampir bersamaan. Puluhan ribu orang tumpah ke jalan. Sepeda motor bergerak beriringan. Mobil memenuhi ruas jalan. Klakson bersahutan. Bendera Persebaya berkibar. Flare dan kembang api menghiasi malam. Surabaya tidak tidur. Kota itu seperti sedang merayakan sebuah hari raya sepak bola.
Namun yang menarik, pesta tersebut tidak hanya milik pemain. Pedagang makanan dan minuman ikut merasakan riuhnya malam. UMKM mendapatkan pembeli. Warung-warung menjadi tempat berkumpul. Jalanan menjadi ruang perayaan.
Sepak bola, untuk beberapa jam, menjadi bahasa yang dipahami hampir semua orang. Bukan hanya tentang menang dan kalah. Tetapi tentang rasa memiliki. Tentang identitas. Tentang kebersamaan. Tentang sebuah klub yang membuat ribuan orang merasa menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar daripada dirinya sendiri.
Pesta berlangsung hingga Jumat dini hari. Lagu-lagu Persebaya dinyanyikan berulang-ulang. Rasisme diredam. Suporter merayakan dengan cara yang relatif tertib. Dan di antara lautan hijau itu, satu nama kembali menjadi perbincangan, Rachmat Irianto.
Pentolan Bonek, Hamin Gimbal, melihat kemenangan tersebut sebagai momen penting bagi Rian. Menurut Hamin, Rian bukan hanya berhasil membawa Persebaya juara Piala Presiden. Ia juga kembali menorehkan cerita yang memiliki kaitan kuat dengan perjalanan sang ayah.
“Tentunya momen juara ini sangat mengesankan bagi Rian, dia berhasil membuktikan sekali lagi ke alamarhum Bejo yang merupakan legenda kami. Dia bisa juara liga bersama Persib, memperkuat timnas dan bawa juara, sekarang membawa Persebaya juara Piala Presiden,” ujar Hamin kepada IDN Times.
Rian sebelumnya pernah meraih gelar bersama Persib dan memperkuat tim nasional Indonesia. Kini, ia membawa Persebaya mengangkat trofi. Seolah-olah sebuah lingkaran sedang ditutup. Namun Bonek belum ingin berhenti. Piala Presiden hanyalah pembuka. Target berikutnya lebih besar, gelar liga.
“Karena harapan kami tidak berhenti di Piala Presiden, tapi juara Liga Indonesia,” tegas Hamin.
Harapan itu juga disuarakan pentolan Bonek Tribun Kidul, Agus Bimbim Tessy. Bagi suporter, trofi Piala Presiden adalah awal dari sesuatu yang lebih panjang. “Saya yakin ini bisa juara Liga 1, aamiin,” tegasnya optimis.
CEO Persebaya Azrul Ananda juga melihat kemenangan tersebut bukan sekadar hasil sebuah turnamen pramusim. Ia menyampaikan terima kasih kepada pemain, pelatih, manajemen, staf, suporter, partner, penyelenggara, pemerintah kota, kepolisian, serta seluruh pihak yang mendukung perjalanan Persebaya.
Namun ada satu bagian dari pesannya yang terasa seperti epilog bagi perjalanan panjang klub itu. Ia mengutip motto Kansas, “Ad Astra per Aspera”, yang bermakna “menuju bintang melalui kesulitan”. Kalimat itu terasa tepat untuk menggambarkan perjalanan Persebaya menuju trofi Piala Presiden.
Sebab tidak ada piala yang benar-benar lahir hanya dari satu malam. Di balik trofi ada latihan. Ada cedera. Ada kekalahan. Ada pemain yang duduk di bangku cadangan. Ada suporter yang tetap datang ketika klub tidak sedang berada di puncak. Ada keluarga yang menunggu. Ada orang-orang yang bekerja dalam diam. Dan terkadang, ada janji yang dibuat seorang anak di samping pusara ayahnya.
Ada pula cerita lain di balik turnamen ini. Piala Presiden 2026 tidak hanya selesai sebagai pertandingan sepak bola. Laga final Persebaya melawan Persib yang disiarkan Indosiar mencatat TV Rating 8,9 persen dan share 45,3 persen. Jumlah penontonnya diperkirakan mencapai 25,8 juta orang di Indonesia.
Angka itu menunjukkan bahwa sepak bola masih memiliki daya magnet luar biasa. Ketua Steering Committee Piala Presiden 2026, Maruarar Sirait, menyebut pertandingan tersebut menjadi program dengan performa tertinggi di televisi selama pelaksanaan turnamen.
Tetapi cerita Piala Presiden tidak berhenti di layar kaca. Ada pedagang yang menunggu pembeli. Ada pelaku UMKM yang berharap dagangannya habis. Ada komunitas kebersihan yang bekerja ketika sebagian orang sedang berpesta. Ada pekerja yang memastikan stadion tetap bersih. Ada aparat yang menjaga keamanan. Ada sponsor yang menopang turnamen. Ada media yang mengabarkan setiap pertandingan.
Sekitar 155 UMKM dilibatkan di Bandung, Surabaya, dan Bali. Total transaksi UMKM selama turnamen disebut mencapai Rp1,5 miliar, meningkat 27 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Di Surabaya, kemenangan Persebaya mungkin membuat pedagang makanan pulang membawa lebih banyak uang.
Piala Presiden 2026 akhirnya memiliki daftar juara. Persebaya Surabaya menjadi juara. Persib Bandung menjadi runner-up. Persija Jakarta berada di peringkat ketiga. Arema FC di posisi keempat. Francisco Rivera dinobatkan sebagai pemain terbaik. Arlyansyah Abdulmanan menjadi pemain muda terbaik. Gustavo Henrique menjadi pencetak gol terbanyak dengan empat gol. Dan Bonek menjadi suporter terbaik.
Tetapi angka dan daftar penghargaan itu tidak sepenuhnya mampu menjelaskan apa yang terjadi di balik perjalanan Rachmat Irianto. Sebab bagi Rian, trofi itu bukan sekadar benda yang dipajang di lemari. Trofi itu adalah jawaban.
Jawaban atas sebuah doa. Jawaban atas kesedihan. Jawaban atas kerinduan. Dan mungkin, jawaban atas percakapan yang tidak pernah benar-benar selesai antara seorang anak dan ayahnya. Bejo Sugiantoro mungkin sudah tidak berada di tribun. Tidak lagi berdiri di pinggir lapangan. Tidak lagi memberi nasihat setelah pertandingan. Tidak lagi bisa menyaksikan putranya berlari mengenakan kostum hijau.
Tetapi sepak bola punya cara sendiri untuk membuat orang-orang yang telah pergi tetap tinggal. Namanya ditulis dalam sejarah. Wajahnya dicetak di kaus. Kisahnya diceritakan kembali. Dan pada malam ketika Piala Presiden 2026 diangkat tinggi-tinggi, nama Bejo kembali hadir di tengah sorak-sorai.
Begitulah cara cinta bekerja. Ia tidak selalu membuat seseorang tetap hidup secara fisik. Tetapi ia membuat kenangan terus menemukan jalan untuk pulang. Rian sudah menepati satu janji. Persebaya juara. Namun musim belum benar-benar dimulai. Di depan masih ada kompetisi yang lebih panjang, pertandingan yang lebih banyak, malam-malam yang mungkin tidak selalu berakhir dengan kemenangan.
Seperti kata Azrul, kesulitan akan selalu menjadi bagian dari perjalanan menuju bintang. Seperti yang dipahami Rian sejak berdiri di samping pusara ayahnya, setiap tangga menuju puncak memang harus dinaiki satu per satu. Piala Presiden telah berada di tangan. Kini, anak tangga berikutnya menunggu. Bismillah 2027. Untuk Persebaya. Untuk Surabaya. Dan untuk seorang ayah yang mungkin, dari tempat yang tak terlihat, sedang tersenyum menyaksikan anaknya akhirnya menepati janji.
