Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Warga Magetan Gelar Salat Istisqa, Minta Besok Turun Hujan

Kab. Magetan
3 min read
Warga Magetan Gelar Salat Istisqa, Minta Besok Turun Hujan
Seribuan orang gelar salat istisqo di alun-alun Magetan, meninta hujan segera turun. IDN Times/Riyanto.
  • Ribuan warga dan Pemkab Magetan menggelar salat istisqa di Alun-alun Magetan pada 18 September 2026, memohon hujan segera turun di tengah kemarau panjang.
  • Kemarau mulai mengurangi sumber air di sebagian wilayah dan meningkatkan ancaman kebakaran, termasuk di kawasan Gunung Lawu yang beberapa kali dilanda api.
  • BPBD serta relawan menindaklanjuti laporan kebakaran, sementara posko di Djabung tetap memantau potensi rambatan api dari wilayah Ngawi ke Magetan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Magetan, IDN Times – Hujan saat ini menjadi sesuatu yang sangat dinantikan warga Kabupaten Magetan, Jawa Timur. Di tengah kemarau panjang dan meningkatnya ancaman kebakaran, ribuan warga warga bersama pemerintah daerah menggelar salat istisqa di Alun-alun Magetan, Jumat (18/9/2026).

Salat istisqa digelar sebagai ikhtiar memohon kepada Allah SWT agar segera menurunkan hujan. Doa bersama itu menjadi bentuk harapan masyarakat agar kondisi kering yang mulai dirasakan di sejumlah wilayah segera berakhir.

Usai mengikuti salat istisqa, Bupati Magetan Nanik Sumantri bahkan berharap hujan turun secepatnya.

“Kalau bisa, besok cepatnya ya. Mohon doanya,” ujar Nanik.

  1. 1. Sumber air mulai berkurang

    Riyanto
    Seribuan orang gelar salat istisqo di alun-alun Magetan, meninta hujan segera turun. IDN Times/Riyanto.

    Imam salat istisqa, KH Luqman Hidayat, mengatakan kemarau yang cukup panjang menjadi salah satu alasan digelarnya salat istisqa.

    Menurut pengasuh Pondok Kesehatan Hidayat tersebut, masyarakat memohon agar hujan segera turun sekaligus membawa keberkahan, keamanan, dan kesehatan bagi warga. “Karena ini kemarau agak panjang. Meminta berkah dari Allah SWT. Mudah-mudahan hujan, diberi keberkahan, khususnya masyarakat Magetan,” katanya.

    Ia menyebut dampak kemarau mulai dirasakan di sebagian wilayah. Salah satunya ditandai dengan berkurangnya sumber air. “Sebagian. Sumbernya akan berkurang,” ujarnya.

    Meski demikian, Luqman mengatakan kondisi Magetan secara umum masih aman. Karena itu, doa yang dipanjatkan melalui salat istisqa tidak hanya ditujukan bagi Magetan, tetapi juga untuk wilayah lain yang menghadapi kondisi serupa. “Semua keseluruhan, bahkan Indonesia ini,” katanya.

  2. 2. Kemarau ikut memicu ancaman kebakaran

    Riyanto
    Seribuan orang gelar salat istisqo di alun-alun Magetan, meninta hujan segera turun. IDN Times/Riyanto.

    Selain berkurangnya sumber air, kemarau juga meningkatkan risiko kebakaran. Kawasan Gunung Lawu menjadi salah satu wilayah yang mendapat perhatian karena beberapa kali mengalami kebakaran selama musim kering.

    Luqman mengatakan kondisi tersebut semakin membuat hujan sangat diharapkan.

    “Gunung juga mulai kebakaran,” ujarnya.

    Bupati Magetan Nanik Sumantri mengatakan kebakaran memang terjadi di sejumlah titik di wilayah Magetan. Meski sebagian kebakaran berskala kecil, jumlah titik kejadiannya cukup banyak.

    “Di Magetan sekarang ini juga banyak terjadi kebakaran-kebakaran. Meskipun kecil, tetapi titiknya sangat banyak di kabupaten kita,” kata Nanik.

    Karena itu, salat istisqa menjadi salah satu bentuk ikhtiar pemerintah dan masyarakat. Harapannya, hujan segera turun sehingga kondisi lingkungan menjadi lebih basah dan risiko kebakaran dapat berkurang.

  3. 3. BPBD dan relawan tetap siaga

    Riyanto
    Seribuan orang gelar salat istisqo di alun-alun Magetan, meninta hujan segera turun. IDN Times/Riyanto.

    Di sisi lain, Pemkab Magetan tetap melakukan langkah antisipasi terhadap kebakaran. Setiap laporan yang masuk langsung ditindaklanjuti oleh BPBD bersama tim relawan.

    “Begitu ada laporan, BPBD dengan tim relawan itu langsung menuju ke lokasi,” jelas Nanik.

    Ia mengatakan kebakaran yang berada di wilayah Magetan telah berhasil dipadamkan. Namun, kewaspadaan masih dilakukan, terutama di kawasan Djabung yang berbatasan dengan Kabupaten Ngawi.

    Menurutnya, titik api yang saat ini menjadi perhatian berada di wilayah Ngawi. Meski demikian, Pemkab Magetan tetap mempertahankan posko pemantauan untuk mengantisipasi kemungkinan api kembali menjalar ke wilayah Magetan.

    “Kita tetap harus waspada. Oleh sebab itu, posko khususnya di Djabung ini tetap ada untuk memantau, jangan sampai api itu nanti menjalar lagi ke Magetan,” katanya.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More